Ujian Tulis Mid Semester II Falsafah dan Nilai Ujian Ponpes Al-Amien Prenduan Resmi Dibuka -->
Cari Berita

Ujian Tulis Mid Semester II Falsafah dan Nilai Ujian Ponpes Al-Amien Prenduan Resmi Dibuka

Thursday, January 28, 2021


Sumenep - Ujian tulis resmi dibuka. Berselang tiga pasca Ujian Hifdh Al-Quran, Santri-santriwati Ma'had Tahfidh Al-Qur’an, langsung melaksanakan ujian tulis.

Ayahanda, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA membuka secara resmi Ujian Tulis di Putra, sementara di Putri, Wakil Pimpinan dan Pengasuh, Dr. KH Ghozi Mubarok Idris, MA membuka secara ujian kali ini.

Diawal tausiyah, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, mengingatkan akan pentingnya memaksimalkan waktu dan kesempatan, karena maut tidak mengenal muda atau tua.

"Dunia ini, semua apa yang kita kerjakan sejak kita lahir, kita semua lahir, adalah untuk akhirat. Kullu nafsin dzaaiqotul maut, meskipun dimanapun, sembunyi dimanapun berada, kematian pasti akan datang. Pertanyaannya, apa yang sudah kalian siapkan untuknya?," dawuh beliau, pagi tadi. 

Beberapa kali beliau menegaskan akan pentingnya menyikapi waktu, mereka yang lalai dan berfikir untuk berhenti belajar. "Ini fikiran konyol, mental konyo, mental yang bukan santri Al-Amien, bukan kepribadian santri Al-Amien, bahkan Haafidhil Qur'an," ujarnya.

Lebih lanjut, beliau juga menegaskan fungsi dan kedudukan (Hafalan) Quran bagi santri Al-Amien Prenduan, khususnya bagi para penghafal Qura'n. "Qur'an, Qur'an, Qur'an,  bukan hanya titipan amanah faqot (saja), nak. Walaakin ruuhah, (Qur'an) bukan hanya titipan, bukan hanya amanah atau tugas harian, tapi ini adalah ruh kalian, Qur'an adalah Ruh," terangnya dihadapan para santri.

Menurutnya, dengan intonasi tinggi, "kalo sekali menyianyiakan dengan sengaja, maka tinggal menunggu kematian, hatimu mati. Jika hati sudah mati, maka dosa-dosa segera berdatangan dan bertubi-tubi".

Pagi tadi, sungguh hangat, sehangat wejangan dan Tausiyah ayahanda Pimpinan dan Pengasuh PP. Al-Amien Prenduan, ditengah Tausiyah beliau bercerita dan berbagi tips dari sejumlah penghafal Al-Qur'an yang sukses menghafal dalam waktu singkat, setidaknya ada empat point yang beliau sampaikan terkait kunci menghafal, (1) Niat yang kuat dan lurus, (2) Bersyukur, (3) ber-Azzam, (4) Jangan berpatok pada Target.

Di akhir penutup tausiyah, beliau mengajak seluruh santri, Asatidz dan semua penghuni pondok, untuk membiasakan tawassul disetiap memulai acara, serta mengingatkan akan pentingnya murajaah/pengulangan dari setiap materi atau hal yang disampaikan oleh para masyayikh. 

Sementara itu, Wakil Pimpinan sekaligus pengasuh TMI Al-Amien Prenduan, Ayahanda Dr. KH. Ghozi Mubarak Idris, mengupas tentang Nilai dan Falsafah Ujian dalam sudut pandang pendidikan Al-Amien. 

Beliau memulai tausiyah dengan mengingatkan pentingnya ujian dalam pendidikan di Pesantren, dengan berbahasa Arab, "Ujian itu, kita tahu adalah sesuatu yang penting, kalo ujian ini tidak penting, buat apa kita laksanakan ujian?", ucap beliau.

Masih tetap dengan bahasa arab, beliau menyampaikan bahwa, "Kita melaksanakannya secara rutin, empat kali dalam setiap tahun ajaran". 

Berkaitan dengan tujuan ujian atau fungsi ujian, "Ujian ini, tetap harus mengabdi pada kepentingan-kepentingan, kepada tujuan-tujuan pendidikan yang luhur dan mulya. tidak boleh ujian itu dilaksanakan dengan cara yang sembarangan, dengan cara yang asal-asalan, karena jika kita melaksanakannya dengan cara demikian, maka ujian tidak akan mengabdi pada tujuan pendidikan yang penting".

Penjelasan yang sangat wadih dari semboyan yang terus didengungkan di Al-Amien Prenduan, Falsafah yang terus disampaikan disetiap kali pembukaan ujian, yakni "Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian". 

Dengan tegas beliau menekankan kembali, bahwa "Ujian di Pondok kita ini, selalu menjadi alat, bukan menjadi tujuan. Karena alat, maka dia harus mengabdi, harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang kita canangkan. Karena itulah kemudian kita menyelenggarakan ujian itu dengan seperangkat nilai-nilai yang harus kita patuhi, kita taati".

Oleh karenanya, wakil pimpinan mengajak seluruh santriwati untuk menghadapi ujian dengan penuh kesungguhan, "maka belajar dengan sungguh-sungguh, itu adalah cara yang benar menghadapi ujian, tetapi bukan ujian itu tujuannya, tapi belajar dengan sungguh-sungguh, memperdalam pengetahuan, menambah ilmu adalah tujuan yang lebih tinggi dari sekedar mengikuti ujian di Pondok kita ini". 

Beliau juga menjelaskan falsafah dari "bil imtihaan, yukramul mar'u au yuhaanu", dawuh beliau, "salah satu fungsi ujian adalah sebagai alat evaluasi, evaluasi bagi pribadi, bagi guru, bagi Pondok secara keseluruhan".

Beliau berenti sejenak kemudian melanjutkan, "Tentu saja, kemuliaan itu, kriteria tertingginya adalah kemuliaan disisi Allah swt. Antunna tidak akan hina jika Antunna tidak lulus ujian misalnya, asal Antunna sudah mengerahkan segenap tenaga yang Antunna punya untuk sukses dalam ujian tersebut. karena belajar bersungguh-sungguhlah itu, mulya disisi Allah swt, meskipun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, dibandingkan dengan Antunna mencapai hasil yang hebat, prestasi yang hebat didepan manusia, tetapi antunna menjadi tidak mulia disisi Allah swt".  

Beliau menutup tausiyah dengan pesan, "Belajarlah yang baik, sikapi ujian ini dengan sungguh-sungguh, karena yang paling penting dari ujian bukan soal nilai atau apapun itu, tapi bagaimana cara Antunna menyikapi ujian dengan cara yang benar". Beliau berhenti sejenak, lalu  "Miliki sikap yang benar terhadap ujian, pertahankan sikap itu, dan jadikan falsafah-falsafah serta nilai-nilai dasar kita tentang ujian sebagai pedoman bagi Antunna untuk menghadapi ujian kita kali ini".

Ujian Tulis akan berlangsung selama 8 hari kedepan. Mulai hari ini, Senin 25 Januari 2021, hingga Selasa, 2 Februari 2021.