Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Terancam Molor -->
Cari Berita

Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Terancam Molor

Wednesday, September 23, 2020


PAMEKASAN - Proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Jalan Dirgahayu Gg IA, Kelurahan Bugih, Kabupaten Pamekasan, terancam molor. Pasalnya, proyek yang dimulai tanggal 28 Agustus 2020 masih mencapai 1,99 persen.

Aktivis Central Kreasi Aspirasi Muda Pamekasan (Cekam-P) IndraX mempredikasi proyek program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan pengairan melebihi target yang ditentukan.


Artinya, pekerjaan yang seharusnya diselesaikan tanggal 25 Desember 2020 bisa saja meleset melihat proses pengerjaan masih mencapai kurang lebih 1,99 persen.


"Surat perintah kerja (SPK) tanggal 28 Agustus - 25 Desember 2020. Sementara penanganannya lambat, minggu-minggu kemaren dikerjakan. Harusnya dinas memastikan kesanggupan dan kesiapan kontraktor," kata IndraX.


Jika nantinya pekerjaan dibawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pamekasan molor, kata IndraX, yang dirugikan masyarakat Kabupaten Pamekasan, khususnya warga sekitar.


"Semua harus bertanggungjawab untuk menyelesaikan proyek tersebut. Ketika kontraktor memberikan penawaran, pasti ada time schedule, dan keluar anggaran. Kalau tidak selesai berarti kekurangan semua, padahal semua sudah direncanakan," tegasnya.


IndraX juga menyorot jumlah anggaran yang digelontorkan untuk proyek tersebut sebesar Rp 1.552.381.000 (pagu) dengan nilai HPS Rp 1.552.380.542. Proyek itu dimenangkan oleh CV Demira Jaya yang beralamat Jl. Wilis No. 39 Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang.


"Perusahaan itu memasukkan penawaran Rp 1.287.726.970. Membuang sebesar Rp 264.654.030. Gila! Itu harga penawaran yang luar biasa dan jauh dari HPS," paparnya.


Selain itu, IndraX menyinggung terkait ketidak cocokan papan nama yang sebelumnya tidak dipasang dengan data LPSE. Pada data LPSE tercantum bahwa pekerjaan dengan anggaran 1,6 M dibagi menjadi tiga titik, diantaranya; DI Klampar, Pademawu dan Kecamatan Kota Pamekasan. Di plang hanya tertulis rehabilitasi saluran di Klampar.


Selain itu, jangka waktu pelaksanaan pekerjaan juga tidak singkron. LPSE menerangkan bahwa proyek dikerjakan selama 120 hari kalender. Sementara di papan nama tertulis 90 hari kalender.


Bahkan, papan nama yang baru dipampang tersebut tidak mencantumkan berapa volume pekerjaan yang dimenangkan oleh CV Demira Jaya.


"Entah memang sudah ada kordinasi sebelumnya antara konsultan, kontraktor dan dinas (PUPR) sehingga papan nama dengan data LPSE tidak sesuai. Ini terkesan ingin mengelabui masyarakat," tukasnya.


Baru-baru ini, ada salah seorang warga yang enggan disebut namanya memaparkan bahwa kemaren sore ada pembongkaran batu yang sempat dipasang. "Ia benar, kemaren sore," ucapnya.


Mulanya, kata dia, pasangan yang memang sudah ada sebelumnya hanya ditumpangi pasangan baru. Oleh sebab itu, pasangan yang baru dibongkar paksa.


Ia menilai pihak pelaksana terkesan ingin mengkebut pekerjaan dengan cara yang tidak baik.


"Toh jika itu terus dilakukan hanya ingin memperkaya diri sendiri. Sebab, yang jelas volume berkurang," terangnya.


Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Pamekasan Cahya Wibawa saat hendak dimintai keterangan di kantornya sedang rapat. (is)