Belajar dari Sholat Berjamaah -->
Cari Berita

Belajar dari Sholat Berjamaah

Thursday, September 24, 2020

 


Oleh : Mahathir Muhammad (Wakil Sekretaris GP Ansor Jatim)

Shalat berjamaah sering kali dijadikan sebagai tamsil ideal dalam berorganisasi. Dalam shalat berjamaah, seorang makmum harus selalu mengikuti irama imam dan sama sekali tidak diperkenankan mendahului imam, baik dari sisi tempat, gerakan atau bacaan. Seorang makmum baru boleh melakukan takbirat al-ihram setelah imam melakukannya dan pada akhirnya diperbolehkan melakukan salam setelah imam melakukannya. Dianggap tidak melakukan shalat berjamaah apabila makmum melakukan takbirat al-ihram sementara imamnya belum melakukannya dan dianggap merupakan sebuah bentuk kesalahan apabila makmum melakukan salam sementara imamnya belum melakukannya. Akan menjadi sebuah organisasi yang ideal apabila bentuk kepatuhan anggota kepada ketua atau pimpinannya sama dengan bentuk kepatuhan makmum terhadap imamnya.


Tamsil ideal dalam shalat berjamaah tentang pola hubungan antara imam dan makmum sering kali dipotret secara parsial dan tidak utuh serta dijadikan sebagai alat legitimasi oleh “oknum” pimpinan sebuah organisasi dalam rangka mengokohkan posisi dan superioritasnya atau dalam rangka melakukan indoktrinasi terhadap anggotanya, sehingga akan tertanam sebuah pemahaman dalam benak masing￾masing anggota bahwa anggota organisasi yang baik adalah anggota yang “sam’an wa tha’atan” titik. Anggota yang kritis dan bahkan berbeda pendapat dengan pimpinannya merupakan anggota yang tidak baik yang dapat “menghancurkan” organisasi dan dianggap sama dengan makmum yang mendahului posisi, gerak atau bacaan imam. Pemaknaan semacam ini tentu saja jauh dari nilai-nilai demokrasi yang tentunya selalu memberikan ruang yang cukup kepada setiap anggota untuk bersikap kritis dan bahkan berbeda pendapat dengan pimpinannya.


Pembacaan yang lebih konprehensip tentang pola hubungan antara imam dan makmum dalam shalat berjamaah justru mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa imam shalat bukanlah merupakan sosok manusia paripurna yang tidak mungkin salah serta memiliki otoritas mutlak dan absolut, sehingga tidak memungkinkan untuk digugat sama sekali oleh para makmum. Seorang imam shalat merupakan manusia biasa yang memungkinkan untuk lupa dan berbuat kesalahan dan fiqh Islam memberikan ruang yang cukup kepada makmum untuk mengingatkan, memberi tahu dan bahkan dalam kondisi tertentu berpisah (mufaraqah) dari imam ketika imam melakukan tindakan dalam shalat yang melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh syariat.


Seorang imam yang memiliki kelebihan dan keistimewaan yang cukup luar biasa, misalnya ia merupakan sosok hafidz yang memiliki koleksi hafalan al-Qur’an lengkap 30 juz, ketika ia menjadi imam tidak boleh “mentang-mentang” dan mendemonstrasikan keistimewaannya dengan membaca surat yang sangat panjang dan melampaui batas kenormalan kecuali dengan izin atau persetujuan dari para makmum.


Pada saat seorang imam membaca al-Qur’an dan ternyata lupa dan tidak mampu untuk meneruskannya, maka seorang makmum yang memiliki kemampuan diperkenankan untuk membimbing imam, sehingga sang imam dapat melanjutkan dan menuntaskan bacaan qur’annya. Hal inilah yang dalam fiqh Islam terkenal dengan istilah “al-fathu”.


Pada saat seorang imam sedang melakukan shalat dhuhur, ternyata pada rakaat keempat yang seharusnya ia melakukan tahiyat akhir, yang bersangkutan justru berdiri untuk menambah rakaat, maka seorang makmum laki-laki harus mengingatkannya dengan bacaan “subhanallah” dan pada saat itu seorang imam harus mendengarkan peringatan makmum serta menyadari kesalahan yang dilakukannya dan harus kembali duduk untuk melakukan tahiyat akhir.


Pada saat seorang imam belum menyelesaikan shalatnya dan di tengah-tengah shalat ternyata ia dengan sengaja tidak menghadap kiblat, atau dengan sengaja membuka aurat atau dengan sengaja melakukan hal-hal lain yang dapat membatalkan shalat, maka pada saat itu seorang makmum wajib mufaraqah atau berpisah dari imam. 


Pelajaran penting yang dapat dipetik dan harus direnungkan dari shalat berjamaah adalah pimpinan

sebuah organisasi apapun harus menyadari dengan pasti bahwa ia bukanlah merupakan sosok yang 

memiliki kewenangan mutlak dan dapat bertindak semau-gue. Dalam menjalankan tugasnya, ia harus 

berpegang teguh pada visi, misi dan tujuan besar organisasi dan juga harus peduli dan mau mendengar 

pada kritik konstruktif, saran dan masukan dari para anggotanya. Kalau tidak, maka bisa jadi para 

anggotanya memisahkan diri dan meninggalkannya, sehingga ia tidak lagi dianggap sebagai pimpinannya.