Menakar Kekuatan Dua Pasangan Cabup-Cawabub Sumenep -->
Cari Berita

Menakar Kekuatan Dua Pasangan Cabup-Cawabub Sumenep

Tuesday, August 4, 2020

Jatimaktual.com, Pertarungan politik pemilihan bupati Kabupaten Sumenep sudah mulai hangat terasa. Ada dua kandidat yang sejauh ini bergerilya dan selalu diperbincangkan. Yakni Achmad Fauzi dan Fattah Jasin. Diketahui, Fauzi merupakan wakil bupati saat ini, KH. Busyro Karim. Sementara Fattah merupakan Kepala Dinas Perhubungan Pemrov (pemerintah provinsi) Jatim.

Sementara itu, kedua calon bupati di atas akan ditemani wakil masing-masing, yakni Nyai Eva yang digandeng oleh Fauzi. Ia merupakan tokoh Muslimat NU (Nahdlatul Ulama) Sumenep, sedangkan wakil dari Fattah adalah kiai muda pengasuh pondok pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk, Kiai Ali Fikri.

Berbicara kekuatan diantara masing-masing kedua pasangan cabup-cawabup tersebut sepertinya sama-sama kuat. Meski juga ada kelemahan diantara keduanya.

*Kekuatan dan Kelemahan Fauzi-Eva*

Sebagai wakil bupati saat ini, Fauzi sudah dipastikan punya basis suara yang jelas di daerah-daerah tertentu. Wabup (wakil bupati) yang familiar bagi kalangan kaum muda dan wartawan itu juga sudah populis dikalangan rakyat kalangan bawah. Program-programnya sejauh ini tentu dirasakan sebagian rakyat. Basis suara tersebut pastinya akan terus dikawal sebagai kekuatan.

Sementara ketokohan Dewi Khalifah atau yang akrab disapa Nyai Eva sebagai pimpinan di organisasi perempuan, PC. Muslimat NU Sumenep, diakui setiap kalangan. Disamping kader dari partai Hanura tersebut sudah beberapa kali mencalonkan diri sebagai bupati di periode sebelumnya, meski saat itu gagal, tentu Nyai Eva juga suda bisa mengantongi peta-peta suara pada pemilihan nanti.

Kekuatan-kekuatan tersebut tentu saja akan semakin besar melalui penawaran program-program keduanya untuk Sumenep lewat kampanye-kampanye beberapa bulan kedepan.

Soal kelemahan, pasangan Fauzi-Eva hanya diusung oleh tiga partai sejauh ini, yakni PDIP, PAN dan Gerindra. Tentu hal tersebut perlu menjadi kewaspadaan besar bagi kubu ini. Ketiga partai tersebut kekuatannya kurang begitu kental di Kabupaten Sumenep.

Disamping kelemahan koalisi ramping yang dimiliki pasangan ini. Kelamahan yang lain terlelak pada Fauzi itu sendiri. Sebagian rakyat Sumenep tentu sudah punya penilaian tersendiri mengenai kinerja selama nyaris lima tahun belakangan sebagai wakil bupati. Beban masa lalu tentu akan memberi pengaruh. Sementara kekuatan Nyai Eva yang ada, tak semua anggota Muslimat NU Sumenep akan menjatuhkan pilihan padanya. Ditambah lagi, partainya sendiri yakni Hanura, justru tak menjatuhkan restu padanya.

Belum lagi, pergolakan yang terjadi pada partai pendukung Fauzi-Eva ini. Seperti halnya PAN, dimana masih terjadi persoalan yang harus diselesaikan oleh internal partai itu sendiri.

*Kekuatan dan Kelemahan Fattah-Fikri*

Seperti yang sudah diketahui, Fattah tengah membangun koalisi gajah. Setidaknya sudah ada enam partai yang memberikan rekomendasi resmi terhadap pencalonan dirinya. Yakni Partai PKB, PPP, Nasdem, Demokrat, Hanura dan Golkar.

Gemuknya koalisi ini tentu menjadi amunisi kuat bagi Fattah-Fikri. Kekuatan partai PKB dan PPP sangat kental mewarnai dinamika sosial politik di kabupaten Sumenep sejak dulu. Dari kalangan tokoh, ulama hingga rakyat kalangan bawah begitu akrab dengan kedua partai ini. Restu dari para kiai dan ulama akan sangat berpegaruh pada suara-suara Fattah-Fikri kelak. Apalagi ditambah kekuatan empat partai lainnya.

Sementara kekuatan yang dimiliki Kyai Fikri yakni dengan Ketokohannya sebagai seorang pengasuh pesantren besar dan tertua di Sumenep. Para santri dan alumni setidaknya bisa digerakkan untuk mengangkat popularitasnya.

Namun, dibalik kekuatan yang dimiliki pasangan ini, ada kelemahan yang sepertinya juga cukup menghawatirkan. Nama seorang Fattah Jasin tak begitu populer dikalangan rakyat bawah. Ia bukan tokoh Sumenep yg secara inten turun ke bawah jauh-jauh hari. Dia turun saat-saat ingin mencalonkan diri saja. Dan sepertinya, baru kali ini ia terjun dalam dunia politik praktis. 

Sama halnya dengan Fattah, Kyai Fikri juga perlu sering menonjolkan dirinya dibeberapa bulan kedepan. Kader partai PPP ini sepertinya hanya dikenal oleh kalangan santri dan alumni pesantren yang diasuhnya. Para santri dan alumnipun tak bisa dijadikan jaminan untuk menjatuhkan pilihannya saat pemilihan nanti.

Tugas berat tim pemenangan Fattah-Fikri tentu membuat popularitas dan elektabilitas keduanya terdongkrak selama kampanye nanti.

Kedepan, kemungkinan-kemungkinan masih terbuka lebar. Pasti ada perkembangan-perkembangan baru yang bisa saja mengejutkan mengenai pergerakan peta politik dan dukungan bagi kedua pasangan diatas.

Dari kekuatan dan kelemahan kedua pasangan kandidat yang ada, siapakah yang akan melanggang sebagai pemenang dalam kontestan pertarungan politik di pilbub Sumenep tahun 2020 ini..? layak dan menarik kita tunggu.


Oleh: Akhmad Kholil
_Penulis adalah putera Sumenep asli, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S2 disalah satu universitas Jakarta._