Aneh, BNI Pamekasan Biarkan Agen BPNT Tetap Beroperasi Meski Tak Penuhi Syarat -->
Cari Berita

Aneh, BNI Pamekasan Biarkan Agen BPNT Tetap Beroperasi Meski Tak Penuhi Syarat

Friday, August 14, 2020

Pamekasan - Ada hal yang janggal dalam rektutmen agen BPNT di Kabupaten Pamekasan. Betapa tidak, agen yang sudah jelas tidak memiliki toko ternyata dibiarkan beroperasi.


Aneh, meski BNI Cabang Pamekasan merasa ditipu oleh oknum agen di wilayah Kecamatan Kadur, EDC yang sempat diberikan tidak ditarik.


Tak hanya itu, keberadaan agen BPNT berinisial J tersebut ternyata ditemukan banyak persoalan.


Pertama, dibohongi toko bukan milik pribadi. Kedua, lokasi penyaluran bukan di kediamannya (rumah perangkat desa). Ketiga, bulan Juli menyalurkan BPNT meski tidak mempunyai EDC. Itupun menyalurkan di rumah perangkat desa.


Keempat, bulan Agustus-nya tetap menyalurkan sembako di tempat yang sama meski sudah dihimbau untuk menyalurkan di rumahnya.


Kelima, menggesek kartu ATM milik Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di tempatnya pada bulan Agustus, namun penerima diminta untuk mengambil sembako ke agen lain.


"Di sana tokonya bukan milik sendiri. Saya merasa dibohongi sama si agen. Masalah sembakonya juga amburadul di sana. Tidak memampangkan harga, komoditi tidak ada pilihan (beras premium dan medium). Dan diberasnya itu tidak ada UD resminya, siapa yang bertanggungjawab di situ untuk suplayernya jika ada masalah," ucap Assistant Branchless Banking (ABB) BNI Pamekasan Heri. 


Hanya untuk mencabut EDC (tempat gesek ATM) yang sudah terlanjur diberikan, Heri berdalih harus ada keterlibatan pihak Dinsos dan Kecamatan. Sebab, sebelum berdirinya agen tersebut ada rekomendasi Dinsos dan Camat.


"Saya tidak enak untuk mencabut EDC-nya, karena tidak ada dari Dinsos. Tapi kami sudah sepakat besok mau sidak bersama pihak Pengawas Dinsos Kabupaten dan TKSK Kadur," paparnya.


Sebelum sidak, Heri berjanji bakal mencabut langsung EDC milik agen berinisial J tersebut. Nyatanya, sewaktu sidak bersama Pengawas Dinsos Kabupaten dan TKSK Kecamatan Kadur, Heri enggan mencabutnya.


Bahkan, dia berdalih pihak BNI tidak mempunyai peranan untuk mencabut EDC yang bersangkutan meski jelas bersalah dan tidak memenuhi syarat.


Sementara itu, TKSK Kecamatan Kadur Jailani mengatakan, terkait persoalan di Kecamatan Kadur pihaknya mengaku tidak tahu. Sebab, adanya agen baru tersebut, sebelumnya tidak ada koordinasi kepadanya.


"Ketika masalah saya dihubungi. Aslinya masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Dinsos, Camat dan Desa, karena hak prerogratif untuk agen BNI," paparnya.


Lagi pula, jauh sebelumnya pihak BNI Cabang Pamekasan tidak pernah melibatkan Dinsos untuk penunjukan agen BPNT. Hal itu dihendel langsung BNI.


Sehingga, dengan munculnya bahasa pengajuan agen baru harus ada rekomendasi dari Kades, Camat dan Dinsos, dia menilai BNI Pamekasan mencari teman melihat banyaknya masalah agen di Kabupaten Pamekasan.


Oleh karena bermunculan persoalan, akhirnya BNI mencari teman agar seolah BNI tetap bersih dan menghindar dari persoalan.


"Dari dulu Dinsos tidak pernah dilibatkan. Hanya baru-baru ini karena muncul banyak masalah," ungkapnya.


Terpisah, Camat Kadur Hambali berdalih bahwa agen baru yang mengaku telah mendapatkan rekomendasi darinya tidak melanggar aturan.


Bahkan, kata dia, yang bersangkutan telah memampangkan daftar harga komoditi dan menyediakan pilihan beras premiumdan medium.


Dalih Camat Kadur tidak dapat dibenarkan. Sebab, seusai Camat melakukan pemantauan, pihak BNI melakukan sidak. Hasilnya, yang disampaikan Camat tidak sesuai fakta. Daftar harga tidak ada dan beras hanya satu bermerek Lima Jaya, itupun medium.


"Sudah, sudah sesuai semua di sana waktu turun ke lapangan," kata Hambali waktu dimintai keterangan di kantornya.


Perihal pengawasan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ini, Hambali mengaku tidak memiliki peranan apapun. Sebab, hingga saat ini masih belum ada keterangan tertulis dari Dinsos dan BNI.


"Camat tidak punya hak apapun. Dulu hanya dijanjikan bakal dilibatkan ternyata tidak ada sampai sekarang," pungkasnya.