PEREMPUAN DAN SISTEM POLITIK DI INDONESIA -->
Cari Berita

PEREMPUAN DAN SISTEM POLITIK DI INDONESIA

Thursday, July 23, 2020


(23/07/20) Program bulanan kopri PC PMII Jember yang sempat terhenti sebab Pandemi covid-19 pada Rabu, 22 Juli 2020 kembali dilaksanakan dengan mengangkat tema "Mencapai Kedaulatan Perempuan pada Proses Demokrasi" serta Sosialisasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati. Kegiatan yang bersinergi dengan KPU Jember sekaligus turut mendatangkan Ahmad Hanafi, SE., MM Komisioner KPU Jember Divisi Data dan Informasi sebagai pembicara tersebut dihadiri oleh 30 peserta kader putri perwakilan rayon komisariat se-Jember dan di laksanakan di aula IKA PMII Jember.

Sebelum menguraikan beberapa hal soal teknis pemilihan kepala daerah di masa pandemi, sahabat Hanafi menjelaskan bagaimana sebenarnya hukum politik sudah berpihak kepada perempuan untuk mencapai sebuah kedaulatan "Partai politik ketika ingin mengusungkan calon maka 30% dari jumlah yang diusung harus perempuan. Ini berarti hukum politik kita tidak memberikan hambatan kepada perempuan untuk juga berperan, namun motivasi juga harus berasal dari internal." terang sahabat Hanafi.
Keterangan tersebut direspon pula oleh sahabati Rofi selaku ketua Kopri "Memang iya perempuan memperoleh jatah 30% dari jumlah calon yang diusung, namun sangat disayangkan dalam hal prakteknya pemenuhan kuota tersebut tak jarang hanya sebagai formalitas. Dalam artian perempuan yang diusung hanya untuk memenuhi kuota tanpa mempertimbangkan kualitas"

"Yang bisa kita lakukan sebagai pemilih atau yang mempunyai hak pilih, tentu adalah pengawalan pada proses demokrasi ini, baik pemilu maupun pilkada ini harus menjadi salah satu perhatian kita sebab akan menentukan pimpinan daerah ke depan. Setidaknya kita bisa melakukan pengawalan di masyarakat terkait haknya sebagai pemilih dan aksesnya dalam mengenali calon pemimpin" Imbuh Sahabati Rofi.

Renda, salah satu peserta dari komisariat IAIN Jember mengeluhkesahkan soal kursi strategis yang kebanyakan tidak diisi oleh mereka yang memiliki background aktifis hanya karena modal politik yang begitu banyak, sehingga dia menanyakan kenapa politik Indonesia seperti itu? Sahabat Hanafi memberikan keterangan bahwa hal itu disebabkan karena sistem politik kita. Dulu kita menganut sistem politik proporsional tertutup, artinya keterpilihan berdasarkan nomor urut partai sehingga kampanye dilakukan oleh partai tidak secara perseorangan calon. Kemudian hari ini sistem politik itu berubah menjadi proporsional terbuka, calon bertarung terbuka, kampanye sendiri itulah sebab mereka berani mengeluarkan modal banyak.

Selain karena sebab diatas, ada faktor yang berasal dari internal. Cara pandang masyarakat terhadap politik yang katanya kotor, sehingga kebanyakan dari mereka memilih untuk menjauhinya "Orang-orang baik dan memiliki kemampuan mengambil jarak, jadi tidak heran jika posisi strategis hari ini tidak diisi oleh mereka yang memikiki background aktifis." Ujar Sahabat Hanafi.