Dukung Penolakan RM Tentang Keringanan UKT, Ketua Rayon Fakultas Tarbiyah Kecam Rektor IAIN Madura
Cari Berita

Dukung Penolakan RM Tentang Keringanan UKT, Ketua Rayon Fakultas Tarbiyah Kecam Rektor IAIN Madura

Sunday, June 21, 2020

Jatim Aktual - Pamekasan, Menanggapi Surat Keputusan Rektor Nomor : B-815/In.38/R/PP.00.9/06/2020 tentang keringanan UKT bagi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura pada masa pandemi Covid-19.

Sebelumnya pada Kamis, 11 Juni 2020 Republik Mahasiswa (RM) melakukan Demonstrasi ke pihak pimpinan kampus IAIN Madura. Semua Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) yang tergabung dalam Republik Mahasiswa meminta keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT), menagemen perkuliahan daring dan subsidi kuota paket disemester gasal/ganjil terhadap pihak pimpinan kampus IAIN Madura.

Pada Kamis, 18 juni 2020 pihak kampus IAIN Madura mengeluarkan surat keputusan No : B-815/In.38/R/PP.00.9/06/2020 yang didalamnya berisi pemotongan UKT sebesar 15% dengan berbagai persyaratan yang begitu rumit yang harus dipenuhi oleh mahasiswa.

Dan pada tanggal yang sama RM Melakukan penolakan terhadap surat keputusan Rektor tentang keringanan UKT Mahasiswa IAIN Madura. Pihak RM menganggap bahwa, pihak kampus terlalu gegabah dalam mengambil keputusan sehingga hasilnya tidak memberikan rasa keadilan sama sekali terhadap mahasiswa.

Sebelumnya Republik Mahasiswa meminta Pemotongan UKT sebesar 50% terhadap pihak kampus, namun pihak kampus hanya memberikan pemotongan sebesar 15%.

Dari problematika soal UKT, Managemen perkuliahan dan subsidi kuota paket di naungan kampus IAIN Madura turut mengundang komentar dari Ketua Rayon Fakultas Tarbiyah PMII IAIN Madura, Sahabat Idrus Ali. Ia berkomentar bahwa surat keputusan Rektor tersebut semestinya perlu dikaji ulang secara mendalam oleh pihak pimpinan kampus IAIN Madura sebelum mengambil langkah atau keputusan, karena hal ini menyangkut kegelisahan seluruh mahasiswa IAIN Madura.

"Ini persoalan yang sangat serius, karena menyangkut soal ekonomi keluarga mereka ditengah pandemik, setengah semester yang tidak bisa menunaikan perkuliahan tatap muka, tidak dapat menikmati fasilitas kampus yang sudah semestinya menjadi hak mahasiswa tidak lagi dapat dinikmati, sehingga saya sangat mendukung penolakan dari Republik Mahasiswa terhadap pihak kampus yang hanya melakukan pemotongan UKT 15% yang dilakukan oleh pihak kampus IAIN Madura" tegas Idrus Ali.

Menurut mahasiswa TBI tersebut, memang Kementrian Agama (Kemenag) tidak memberikan keputusan pemotongan UKT kembali terhadap kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) setelah Kemenag membatakan pemotongan tersebut dengan dalih penanganan Covid-19.

"hari ini, bola saljunya ada di genggaman pihak Rektor PTKIN masing-masing, atau kalo berbicara IAIN Madura keputusan tersebut ada pada baginda Rektor Mohammad Kosim M.Ag. Pihak Rektor apakah memikirkan kepentingan mahasiswa atau tidak? Ini soalnya" jelas mahasiswa yang akrab disapa filsuf modern tersebut.

"Ini berbicara soal keberanian dari pihak Rektor untuk menjadi contoh yang baik bagi kampus PTKIN lainnya dalam pengambilan kebijakan keringanan UKT di tengah pandemi covid-19 yang sangat mengundang kegelisahan dari orang tua mahasiswa, Ini bukan hanya soal latar belakang ekonomi, tapi ini juga soal dampak ekonomi yang diterima oleh orang tua mereka, terlebih orang tua mereka yang sebatas menjadi tukang jual pisang ke pasaran" lanjutnya

Menurutnya, ada banyak alasan mengapa pihak kampus IAIN Madura harus melakukan pemotongan UKT sebesar 50%.

Hingga berita ini diterbitkan, Rektor IAIN Madura masih belum bisa dikonfirmasi. (rdktr/Vick)