Catatan untuk Deklarasi Cabup-Cawabup Ach. Fauzi-Nyai. Dewi Khalifa (Eva) Part-1
Cari Berita

Catatan untuk Deklarasi Cabup-Cawabup Ach. Fauzi-Nyai. Dewi Khalifa (Eva) Part-1

Sunday, June 21, 2020

Sumber Foto : Fairus
Jatim Aktual - Sumenep, Setelah bebrapa bulan vakum dari hiruk pikuk percaturan politik daerah gara-gara Pandemi Covid-19 diiringi dengan diterapkannya New Normal saya mulai "keluar Sangkar"  dan kembali menyaksikan dinamika politik yang mulai menggeliat kembali. Sebanarnya kemarin saya ingin sekali mengulas tentang Mas Khairul yang seakan "Dikhianati" oleh partainya sendiri, cuma karena momentumnya sudah lewat saya urung.

Tadi pagi saya baca berita media daring tentang rencana deklarasi Cabup-Cawabup Ach. Fauzi-Dewi Khalifa (AFEVA) yang di usung koalisi PDIP-PAN sebagaimana tulisan saya sebelumnya, akhirnya PAN benar-benar merapat ke PDIP sesaui prediksi bararti PAN berfikir taktis dan tak mau hanya jadi PartisiPAN saja dalam momen pilkada.

Sebenarnya Saya masih penasaran dengan kekuatan pasangan AFEVA ini yg sepintas powernya "diatas angin" menurut percaturan di warung kopi. Tapi, apa benar....?  Mari kita lihat.

ACH. FAUZI boleh dibilang adalah calon Bupati InCumben (walau tidak 100% karena bukan bupati tapi wabup saja)  dalam rilis salah satu lembaga survey yang saya baca (2 lembaga Survei) bulan November lalu AF memang unggul peringkat teratas tingkat elektabilitasnya secara personal dari calon-calon lain, (Tidak menggunakan simulasi cabup-cawabup)  berapa..? 9 %, Saya tidak yakin dan kurang percaya masa incumben dengan segala usaha dan mobilitas politik dan sumberdaya yang melimpah "hanya" 9%. Saya baca ulang memang benar 9%. Tapi itu bulan November kemarin.

 Sekarang sudah bulan juni mari kita asumsikam AF naik dua kali lipat dari hasil survey seblumnya menjadi 18%. Lah.... 2 kali lipat masih 18 %...??? Incumben...???  Dengan segala fasilitas dan saluran politik pencitraannya...??? Dengan progam dan anggaran yang bisa "Dimanfaatkan" ?. Ah... Saya ga yakin.

Ok.. Kita naikkan lagi aggaplah AF naik luar biasa dan"Bombastis" 3 kali lipat menjadi 27%. Ya.. Ini 3 kali lipat dalam hitungan beberapa bulan. Jika 23 % nya itu adalah milik lawan politiknya yang lain berarti mash ada 50 % Flooting Mass yang tak menyatakan memilih siapa.... Dan jangan di anggap massa mengambang ini tidak punya pilihan,  ini harus di asumsikan adalah pemilih yang tak akan memilih incumben sehingga tidak mendeclair pilihannya karena beberapa alsan, Wah....

Pertanyaannya.. Serius AF mau nyabup dengan modal segitu. Hampir 5 tahun dia jadi wabup, apa yang bisa "dijual" dari AF...? Program visioner...?  Blusukan Produktif dan berkwalitas...?  Atau hanya style merakyatnya saja?  Ini dalam posisi Biliau belum ada  LAWANNYA,  belum di serang dari berbagai arah oelh lawan politinya, dan belum ada lawan yang mendapatkan rekom resmi dari partai,dalam posisi "Duduk tenang" saja elektabikitasnya AF menghawatirkan apalagi nanti setelah lawannya diketahui. Idealnya seorang incumben harus memilki tingkat elektabilitas diatas 40% lebih. Baru sedikit aman. Apakah AF dan timnya belum bisa memanfaatkan "Fasilitas" politic yg tersedia?  Hem..... (coba tanya TIMnya)

Calon Wapubnya Nyai. H. Dewi Khalifah. (Nyai. Eva). Beliau politisi perempuan sumenep yang cukup mumpuni 2 kali nyalon wabup dan beberapa kali nyalon Dewan. Tapi dalam pemilihan figur yang mau diusung oleh parpol pasti ada banyak varible dan pertimbangan electoral. Pertanyaan sederhananya adalah Siapa dia... Punya apa dia..?

Memilih Nyai Eva sebagai calon Wabup dari AF pasti sudah ada pertimbangan politik dan electoral,  beliau ketua Muslimat NU. Apa beliau punya tingkat keterkenalan yang cukup tinggi... OK. Apakah seirama dengan tingkat elektoralnya... Belum tentu. Beliau punya apa?  Beliau punya Partai, sebagai ketua HANURA.. Ok. Apakah cukup kuat dan membantu tingkat elektoralnya..? Belum tentu karena HANURA tak cukup 1 Fraksi pun di DPRD Sumenep, Dana....?  Beliau 2 kali nyawabup bisa diprediksi sendirilah. Lalau apa yg bisa "diandalkan"; Muslimat NU.

Sebagai ketua muslimat NU beliau diharapkan bisa gunakan ini untuk mendokrak tingkat keterpilihannya tapi apakah beliau mampu "Mengkapitalisasi" Suara NU dan khusunya muslimat NU dan menjadikan keuntungan elektoral?  Apakah Muslimat NU bisa satu suara dan memilki effort politik sektoral yang tinggi, punya ghirah untuk memenangkan ketuanya, punya semangat Ideologis untuk "Berjihad" bahkan berkorban sendiri, Dor to dor berkampanye demi memenangkan Nyai Eva? Padahal bisa jadi lawan politiknya juga dari kalangan tokoh NU dan berusaha mengeruk suara dari ceruk yg sama? Jika tidak bisa mengkapitalisasi suara Nahdiyin khusunya muslimat maka perlu kerjkeras dan berfikir cerdas lagi apakah nya EV menguntungkan atau malah jadi beban bagi AF..??? . Jika kondisi cabub AF seperti diatas dan Nyai. Eva seperti ini. Apa benar PDIP berani dan serius mencalonkan keduanya?  Kecuali punya jurus andalan dan strategi dan taktis luarbiasa mematikan yang di masih disimpan. Dan Saya lanjut nanti saja ulasannya pengamat Partelonan ini.

Sory, Ini pandangan pribadi saya sebagai pemgamat Partelonan smbil nyicipi kopi tamer. Bisa jadi Asumsi saya ini terkontaminasi hitamnya seduhan kopi TAMER. Jadi mafhum saja ya.

Oleh: Rausi Samorano
Pengamat Politik Sumenep