Ach. Fauzi - Dewi Khalifa; Lawan Siapa? 'Catatan Pilkada Sumenep' Part. 2
Cari Berita

Ach. Fauzi - Dewi Khalifa; Lawan Siapa? 'Catatan Pilkada Sumenep' Part. 2

Tuesday, June 23, 2020

Oleh: Rausi Samorano
Jatim Aktual - Sumenep, Setelah tulisan ke lima (5) saya soal Pilkada Sumenep yang memberikan catatan pengantar untuk Deklarasi Cabup-Cawabup koalisi PDIP, Hanura dan PAN diunggah di beberapa media daring dan di beranda Facebook saya, banyak komentar yang masuk dan bahkan ada banyak sekali yang lansung japri saya menanyakan prospek koalisi, dan data-data hasil survey yang saya miliki termasuk meminta pandangan tetang simulasi seandainya Pilkada diikuti oleh hanya 2 (dua)  pasangan calon. Tapi, saya jawab santai saja bahwa saya belum tahu karena saya bukan "pawang" atau dukun politik. Ha ha.

Lucunya ada yang menuduh saya "nyinyir" ke pasangan AFEVA karena hanya menulis soal AF. saja. Saya anggap ini bagian dari dinamika politik pra Pilkada. Karena kandidat  lain masih sibuk soal rekom Parpol turun ke siapa, belum berfikir membangun stategi pemenangan bagaimana. hanya AFEVA yg sudah deklarasi siap tanding dan oleh karenanya menarik untuk selalu diikuti dan diulas.

LAWAN SIAPA... ?    Nah, ini yang harus kita perhatikan. Karena kata Sun Tzu, "siapa yang tak tahu kekuatan dirinya dan tak faham siapa musuhnya maka kalah adalah seharusnya". Apakah AFEVA sudah Tahu dia akan lawan siapa...?  Jangan-jangan beliau masih tak faham akan segala potensinya dan belum tahu siapa musuh yang akan dihadapinya. Oleh karenanya, memdeklarasikan pencalonannya lebih dahulu adalah salah satu strategi "mengetahui" musuhnya, AFEVA masih mengira-ngira dan mencoba mensimulasikan siapa saja lawannya. AFEVA pasti sudah tahu siapa dengan siapa LAWAN TERBERATnya dan apa yang harus dilakukan. Semua pasti sesuai data dan hasil survey internalnya.

 Apa yang Akan Dilakukan AFEVA?

Mari coba simulasikan kemungkinan Calon yang paling mungkin menjadi lawan tanding dari AFEVA.

 P. Fattah Jasin

Saya sudah beberapa kali membahas tentang Pak. FJ ini dalam tulisan-tulisan sebelumnya. FJ adalah Kandidat yang hampir pasti akan di usung oleh PKB yang sudah memiliki tiket untuk cabup-cawabup tanpa koalisi pun. AFEVA pasti sudah mengotak atik dan membaca dengan siapa saja FJ. berpotensi untuk berpsangan apakah Dengan ketua PPP K. Salahudin A. Waris (Ra. Mama'), KH. Imam Hasyim (Ketua PKB)  KH. Unaisy Ali Hisyam (Politisi PKB) Nyai Fitri A Busyro (PKB)  KH. Sitrul Arsyih (PKB) atau K. Ilyasi (Ketua. Gerindra) saya yakin semua potensi pasangan ini sudah di simulasi dan di survey.

Begini.... dengan memutuskan dan menetapkan kemudian mendeklarasikan pasangan Cabup-Cawabup lebih awal AFEVA memiliki beberpa keuntungan antara lain lebih siap dan awal mensosialisasikan dan menawarkan ke pemilih, memoles kedua kandidat agar lebih marketable dan yang terpenting lebih tahu hasil survey jika disandingakn dengan pasangan lain yang sudah di simulasi. Anggap saja AFEVA sudah tahu siapa pasangan paling "membahayakan" dan paling potensi mengalahkannya maka AFEVA bisa lebih dini juga melakukan langkah politik "menghabisi" lawannya. Jika saya jadi AF, sekali lagi ini hanya andai-andai saja, jika saya AF dengam kondisi data hasil survey objektif yang sudah  ada dan telah diuji maka saya akan lakukan hal ini.

1. Jangan sampai hanya ada 2 (Dua)  pasangan calon, apalagi  jika _vis a vis_ AFEVA vs siapapun yg sesuai data simulasi "berbahaya". akan sangat berat bagi AFEVA. Caranya..?   saya akan menyokong Partai lain dengan mendirikan poros ketiga apalagi saya punya Backing Donatur yang luar biasa dengan dana unlimeted maka Belilah rekom Partai atau gabungan Partai tapi tidak untuk AFEVA melainkan ke calon lain, agar proses ini lebih "manis" mainnya gunakan pihak ketiga yang seakan akan jadi "bandar".  Bikin sedikit keributan internal seakan bagian dari dinamika dan konstelasi politik. Jika ini sukses, AFEVA leading.

2. Meminjam teorinya Sun Tzu,  "Rusak Bakar Isi Gudangnya". Walaupun terpaksa harus tetap _vis a vis_ 2 pasangan calon saja, maka saya akan pakai politik de fait itimpera buat lawan "bentrok" di internal pendukung baik partai, ormas, dll. maka lemahlah pertahanannya.  saya akan buat kekuatan utama penyokong lawan pecah belah munculkan faksi-faksi dan pasti ada infiltrasi yang tak disadari oleh lawan. Jika perlu se-partai saling "Menegasikan", Se-saudara saling "Menyingkirkan". Sory.... Sory.. Ini hanya andai-andai saja. Tapi boleh dicoba.

Tapi, membuat calon bayangan wajib hati-hati karena bisa jadi calon yang tak dianggap kuat karena kondisi tertentu bisa jadi kuda hitam dan alternatif pilihan, macam DKI Jakarta dulu. Dan juga perlu dijadikan pelajaran oleh AFEVA bahwa nuansa politik pemilu presiden masih tidak sepenuhnya lekang, isu-isu Agama dan PKI masih sering dijadikan "Komuditi" dan  Partai pengusung utama AFEVA bisa di jadikan tertuduh utama yang kemudian dibangun narasi-narasi negatif berbau SARA, dan calon lawan pasti tahu itu karena dalam sistem politik Indonesia saat ini etika politik hanya hiasan saja tak ada rambu yang mesti diikuti. Tapi lawan tanding AFEVA pasti tahu dibelakang AFEVA ada The God Father nya. Jadi, mari kita lihat Dinamika poltik Sumenep yang mulai "liar" tapi penonton macam saya hanya bisa berisik saja, bersorak sorai ya namanya juga penonton.

Oh...ya. apakabar Cabup-Cawabup yan lain. Jangan sampai ada "Sahnanisasi" kedua kali, kata teman saya, ngopi sek bhen ra setres. (Rus/Vick)

*) Penulis adalah pengamat Politik Kab. Sumenep