Seruan Hari Pendidikan Nasional KOPRI PC PMII Jember
Cari Berita

Seruan Hari Pendidikan Nasional KOPRI PC PMII Jember

Saturday, May 2, 2020

Jatimaktual.com - Pendidikan menurut KBBI yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mengembangkan potensi diri serta membentuk kepribadian agar menjadi lebih baik dari sebelumnya melalui seperangkat pembelajaran. Melihat potret pendidikan kita hari hal mendasar yang harus kita lihat yaitu, sudahkah pendidikan kita menyentuh segala lapisan masyarakat dengan tingkat yang merata secara kualitas dan fasilitas yang telah diberikan pemerintah khususnya pemerintah daerah?

Pembahasan ini menjadi menarik ketika kita tarik pada kondisi lokal, yaitu Jember. Pada tahun 2018, dilansir dari Radarjember.id tanggal 17 September 2018 berdasarkan data BPS Kabupaten Jember angka buta huruf untuk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,17 persen dari total penduduknya sebesar  1.834.021 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah buta huruf di jember mencapai 204.860 jiwa. Beberapa hal yang menjadi faktor pendukung meningkatnya angka buta huruf diantaranya, faktor budaya, lingkungan serta kurang meratanya pendidikan di Jember. Terbukti, sampai hari ini masih ada beberapa daerah, khususnya daerah pinggiran dan perbatasan yang hampir tidak tersentuh pendidikan formal dasar, karena minimnya fasilitas dan tenaga pendidik. Sedangkan pada tahun 2019, dilansir dari media yang sama tanggal 11 Februari 2020 data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2019 tersebut juga menunjukkan penduduk 15 tahun ke atas menempati persentase tertinggi  yang tidak punya ijazah SD sebesar 28,75 persen. Sedangkan BPS Kabupaten Jember mencatat per 2019  data penduduk usia 5 tahun ke atas, diketahui ada 12,27 persen dari sampel penduduk yang disurvei, tidak atau belum pernah bersekolah. Bila dibandingkan dengan data penduduk usia produktif sekolah antara 7–24 tahun, jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah tergolong kecil, yaitu 0,44 persen.

Menurut data pokok dikdasmen kementerian pendidikan dan kebudayaan, jumlah satuan pendidikan di kabupaten Jember sebanyak 2.371 sekolah dari jenjang Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Mari kita lihat pada pondasi pendidikan formal anak, yakni Sekolah Dasar (SD). Di Jember, SD sederajat baik negeri maupum swasta sebanyak 1.446 satuan sekolah. Sedangkan menurut Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Jember, Jawa Timur yang dilansir oleh Jatimpos.id pada tanggal 05 Desember 2019 mencatat total ruang kelas SD yang rusak berat sebanyak 850, tersebar di 361 lembaga SD negeri dan swasta. Nampak kecil memang, hanya 24,96% dari total SD yang ada di Jember. Tetapi coba kalkulasikan sendiri berapa ratus peserta didik yang akan terdampak dalam proses belajar mengajar, padahal kita sedang mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi unggul menghadapi bonus demograsi 2030. Hal tersebut juga sangat timpang jika sekolah kemudian harus mengikuti perkembangan kurikulum di Indonesia. Dari Kurikulum 2006 kemudian berganti menjadi kurikulum 2013 yang juga akan segera berganti menjadi Merdeka Belajar, Aspek proses cenderung diupayakan menjadi tolok ukur penilaian siswa dibandingkan dengan hasil ujian. Sekalipun proses belajar semakin kesini diarahkan untuk mengurangi ceramah guru dan menuntut aktif peserta didik, ranah keterampilan lebih besar dari pengetahuan, dan belajar di luar kelas dengan menganalisa kondiai dan realitas di lingkungan. Tetap saja kondisi sarana dan prasara sekolah menjadi faktor yang tidak terbantahkan dalam kenyamanan dan keamanan proses belajar mengajar anak-anak di sekolah.

Selain menjadi tugas pokok pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan yang bermutu, ada hal lain yang mampu menunjang pemerataan tersebut, yaitu keterlibatan para akademisi yang mengemban amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Membahas tentang pendidikan, tentu sangat erat kaitannya membahas tentang kesejahteraan masyarakat. Tingkat pendidikan juga akan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Jember memiliki sekitar 30 Perguruan Tinggi dan setingkatnya dengan kapasitas dan kualitas yang sudah tidak lagi diragukan. Banyak dari Perguruan tinggi yang ada mampu bersaing dalam skala nasional. Namun, hal tersebut belum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

Data buta aksara yang masih tinggi di Jember akan korelatif dengan tingkat literasi pendidikan masyarakatnya. Literasi pendidikan tentu bukan sekedar kesadaran masyarakat mengenai pentingnya bersekolah dengan mendukung anak-anaknya bersekolah dan terus bersekolah sampai jenjang pendidikan tinggi. Lebih dari itu, ini melibatkan peran dari banyak aspek masyarakat. Orangtua dengan kemauan belajar dan mendampingi anak-anak, tenaga pendidik yang up to date terhadap perkembangan era, sekolah yang memperhatikan kesejahteraan tenaga pendidik dan karyawan, pemerintah daerah yang jeli melihat kondisi dan permasalahan yang muncul serta gerak cepat dalam penangan, akademisi yang mengimani Tri Darma Perguruan Tinggi, serta lapisan masyarakat lainnya yang bahu membahu dalam mengedukasi.

Jangan sampai kemudian sekolah hanya menjadi bisnis yayasan yang orientasinya hanya pada keuntungan (profit oriented) dengan menomorsekiankan kualitas proses pendidikan. guru menjadi satu-satunya yang bertanggungjawab dalam proses pendidikan anak dengan mengejawantahkan peran orangtua dalam pendampingan, ingat peran orangtua bukan ibu atau bapak saja.

Polemik pendidikan kemudian juga muncul di tengah kondisi pandemi covid-19. Seperti yang kita ketahui, pada awal bulan maret Pemerintah telah resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah  terserang wabah virus asal kota Wuhan, China. Serangan  virus ini yang kemudian ditetapkan sebagai pandemi oleh pemerintah RI, mengharuskan warga untuk melakukan Physical Distancing, Work From Home, and Learn From Home. Semua serba di rumah, dan hal ini juga berdampak dalam proses belajar dan pembelajaran. Pada masa ini, pembelajaran dialihkan pada sistem daring yang sebelumnya jarang bahkan belum pernah digunakan oleh sekolah-sekoah, khususnya di daerah pedesaan. Dari diadakannya belajar dari rumah, kita dapat dapati masih banyak miskoordinasi antara lembaga pendidikan terkait dengan orang tua. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang menyalahgunakan belajar dari rumah dengan bermain, anak dibiarkan belajar tanpa ada bimbingan guru, tutor, bahkan orangtua. Tak ada sistem pasti yang mengatur jalannya pembelajaran dari rumah ini, bahkan penyediaan fasilitas pembelajaran seperti paket data untuk mengakses internet pun tak tercukupi bahkan kurang.

Uraian di atas menjadi fokus yang harus segera dibenahi, khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Jember untuk terus melakukan pemerataan pendidikan di Kabupaten Jember. Pemerataan pendidikan yang bermutu menjadi amanat Undang-Undang yang harus dipenuhi oleh pemerintah khususnya. Menjamin setiap warga negara mendapatkan pelayanan, sarana dan pra sarana pendidikan yang memadai dan merata demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, maka KOPRI PC PMII Jember menyerukan kepada

1. Pemerintah Daerah lebih memperhatikan permasalahan kerusakan sekolah sebagai elemen dasar pelaksanaan pembelajaran.

2. Dinas Pendidikan lebih teliti dalam perijinan operasional lembaga pendidikan dan pengawasan agar lembaga pendidikan tidak hanya unggul dalam kuantitas tapi juga dari segi kualitas.

3. Pemerintah, bersama sekolah memperhatikan kembali kesejahteraan tenaga pendidik dan karyawan dalam upaya peningkatan kinerja.

4. Kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk dengan seksama dalam menyiapkan perubahan sistem pendidikan terutama pada kurikulum. Jangan kemudian perubahan kurikulum hanya menjadi produk kemendibud yang baru tanpa menimbang proses, baik pada instrumen/alat maupun sumber daya manusia, terutama di masa pandemi covid-19 saat ini.

5. Akademisi dengan menjiwai dan mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi demi sebanyak-banyaknya kebermanfaatan pendidikan di Indonesia khususnya di Jember.

6. Orang tua untuk meningkatkan kesadaran dalam mendampingi proses belajar anak, terutama di masa pandemi covid-19 saat ini.

7. Masyarakat secara umum untuk bahu membahu mengedukasi tentang pentingnya pendidikan.

8. Pada masa Pandemi Covid-19, Pemerintah harus dapat memastikan keberlangsungan belajar pembelajaran yang dilakukan dari rumah, mulai dari sistem sampai dengan fasilitas yang memadahi untuk mendukung pembelajaran daring.