"Bupati KH. Busyro Karim, Anda Ingin Dikenang Rakyat Sumenep Sebagai Apa?" -->
Cari Berita

"Bupati KH. Busyro Karim, Anda Ingin Dikenang Rakyat Sumenep Sebagai Apa?"

Tuesday, March 10, 2020

Jatimaktual.com, Tinggal hitungan bulan, rezim era KH. Busyro Karim di Kabupaten Sumenep akan segera berakhir. Sebagai rakyat Sumenep, rasanya tak berlebihan jika ini merupakan kabar gembira. Betapa tidak, selama 10 tahun kepemimpinan beliau sebagai bupati, nyaris tak ada perubahan berarti di kabupaten ujung timur pulau Madura ini. Jalan-jalan masih terlihat sama, hancur. Kemiskinan terus bertambah, dan pengangguran terus meningkat.

Seperti kita ketahui, KH. Busyro Karim menjadi Bupati Sumenep selama dua periode beruntun. Sebelumnya, pada periode pertama, KH. Busyro Karim berpasangan dengan H. Seongkono Sidik. Saat itu, sepertinya, sebagian besar rakyat masih sangat awam soal politik, bahkan mungkin sama sekali tak tertarik. Jadi, tak banyak hal yang bisa diingat. Sementara di periode keduanya, KH. Busyro Karim bergandeng dengan Ahmad Fauzi sebagai wakilnya. Dalam periode ini, sepertinya banyak rakyat yang sudah mulai melek politik. Berani mengkritik kebijakan dan kinerja pemimpinnya.

Masih segar dalam ingatan tagline atau selogan pasangan KH. Busyro Karim dan Ahmad Fauzi, lima tahun lalu itu, *"Bangun Desa Nata Kota".*, nyatanya, jauh panggang dari api. Selogan hanyalah sebuah selogan.  Jangankan membangun desa, menata kotapun rasanya mereka tak bisa. Buktinya jelas, banyak desa yang akses jalannya jauh dari kata mulus dan nyaman, jauh dari kata terang karena tak ada lampu malam di jalan-jalan. Di kotapun demikian, hanya jantung kota, bernama "Taman Bunga" saja yang ada perubahan. Bermodal polesan cat dan lukisan serta tata ruang di area terbuka yg tak seberapa. Itupun desainnya tak disertai dengan drainase yang baik. Taman Bunga memang mengalami kemajuan, serasa Bundaran HI. di Jakarta disaat musim hujan tiba. Yakni sama-sama banjir, seperti yang terjadi belakangan ini.

Tulisan ini tak mau muluk-muluk membahas berapa besar jumlah APBD dan untuk apa saja dana-dana rakyat itu. Yang pasti, manusia-manusia yang ada di pemerintahanlah yang tau. Namun demikian, menjadi pertanyaan besar jika memang betul APBD itu digunakan untuk kemajuan Kabupaten Sumenep. Seperti, membangun desa, nata kota, memperbaiki layanan publik seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan. Perlu dipertanyakan juga jika uang rakyat itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Karena faktanya, disemua sektor itu tak ada perubahan yang signifikan. Sepuluh tahun Bupati KH Busyro Karim sudah melakukan apa saja? Rakyat masih benar-benar tak merasakan perubahan apa- apa.

Berbicara soal kesejahteraan rakyat, Sumenep apalagi. Miris sekali rasanya. Jumlah kemiskinan setiap tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan data hasil Survey Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep lima bulan lalu, jumlah penduduk miskin di Kabupten Sumenep naik 0,54 Persen.

Bukan semakin menurun, angka kemiskinan dari tahun ke tahun justru mengalami kenaikan. Pada tahun 2017, sebanyak 313.330 orang atau 19,62 persen masuk kategori miskin. Sementara pada tahun 2018, sebanyak 340.033 atau 20,16 dari jumlah penduduk 1.081.204. Entah berapa angka jumlah kemiskinan pada tahun 2019 yang masih dalam tahap pendataan. Semoga saja terjadi penurunan. Jika kembali mengalami kenaikan, itu berarti KH. Busyro Karim sudah layak dan sepantasnya disebut sebagai "BUPATI GAGAL". Bagaimana tidak, Sumenep yang notabeni punya sumber daya alam (SDA) melimpah, justru menjadi kabupeten termiskin kedua se Jawa Timur. Begitu mirisnya.

Sebagai pemimpin, apalagi sampai dua periode layaknya KH. Busyro Karim memimpin Sumenep. Tentu akan menciptakan banyak ingatan di hati rakyat. Entah diingat karena kebijakannya yang merakyat atau sebaliknya, kebijakan yang manfaatnya tak dirasakan bahkan merugikan rakyat. Rasa-rasanya, rakyat Sumenep akan lebih memilih mengingat opsi kedua. Pemimpin yang tak memberi manfaat. Sebagaimana yang rakyat rasakan selama ini. Berasa tak punya pemimpin.

Entah kebijakan apa yang akan KH. Busyro lakukan disisa pemerintahannya yang tinggal hitungan bulan. Sekarang ini, rakyat lagi butuh-butuhnya dengan terobosan nyata dari seorang pemimpin dan dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Sungguh, rakyat masih menunggu perubahan Sumenep yang nyata dari seorang KH. Busyro Karim.

Jika, di ujung pemerintahan KH. Busyro Karim tak melakukan apa-apa. Hanya diam saja menikmati sisa-sisa masa jabatannya. Maka rakyat akan mengenang Anda sebagai apa..???

Penulis: Hamidi
Mantan Aktivis HMI