Bicara Dengan Poster -->
Cari Berita

Bicara Dengan Poster

Friday, March 13, 2020

Jatim Aktual - Seperti biasa, jelang pilkada banyak poster calon gelayutan di pepohonan. Memasang tagline dan senyum menawan. Bahkan mengobral kutipan ayat sana sini. Tujuannya satu. Mengelabuhi hati pemilih.

Pilkada Sumenep pun begitu. Banyak poster calon bertaburan. Mereka begitu yakin hanya dirinyalah yg paling pantas memimpin 5 tahun ke depan. Padahal, sejak kenal pilkada langsung, Sumenep begitu-gitu saja. Stagnan bahkan mundur jauh ke bekalang.

Bagi Man Tabri, petani tembakau Reng Perreng, Beragung Guluk-Guluk, poster calon yg mejeng itu tak mungkin lillahi ta'ala. Atau sekedar iseng nampang rupa di tiang pohon. Pasti ada maunya. Ya, ingin dipilih nantinya.

Pertanyaannya adalah, apakah poster calon itu bisa diajak bicara? Menyelami sisi terdalam kesulitan hidup petani seperti man Tabri. Saban hari berkelahi dengan hidup. Sekedar memperpanjang nafas kehidupannya.

Apakah poster para calon itu bisa diajak curhat tentang harga gula, minyak, dan garam yg meroket? Ataukah mendengar getirnya hidup petani yang was-was dengan harga padi yg hanya ditaksir 7 ribu perkilogram? Atau mendengar jeritan petani jagung yang harga kiloannya seribu perak?

Lalu, pada siapa para petani mesti curhat tentang hidupnya yg tetap susah. Tentang pupuk, irigasi, jual hasil panen, dan seterusnya. Nyatanya, poster itu tak bisa diajak bicara. Ga ada gunanya. Bikin rusak pemandangan saja.

Padahal Sumenep kota segala-galanya. Mulai kota santri nan religius dan terpelar hingga sugih kekayaan alam. Tapi, sekali lagi, Sumep gitu-gitu saja. Klo pilkada diyakini sebagai instrumen perubahan, mestinya Sumenep sudah maju sejak 20 tahun lalu.

Bagi calon pemimpin Sumenep yg posternya nyangkut di pepohonan, turunlah ke masyarakat yg mayoritas petani itu. Tanyalah kesulitan hidup mereka. Tak usah takut dipalak. Jika kau datang pasti disuguhi kopi enak. Makanan yang aduhai. Gratis. Tak perlu ke luar gocek. Masyarakat Sumenep tak matre. Bukan pula mental peminta.

Masyarakat hanya ingin berdialog langsung dengan calon yg nampang lewat posternya itu. Sekedar menyampaikan betapa sulitnya hidup mereka selama ini. Bagi bupati terpilih nantinya, sekali-kali berpihak lah pada kehidupan mereka.

Kita tak terlamapu peduli dari kalangan mana yang jadi bupati. Mau ustadz, kyai, ulama, penguasaha, parpol, profesional, aktivis, dan seterusnya. Yang penting bisa jamin harga tembakau mahal. Yg penting harga beras, jagung, dan garam stabil. Udah gitu saja.

Sebab, pilkada itu bukan jalan masuk surga. Tak perlu berebut siapa yang paling saleh dan alim. Pilkada adalah ajang berbuat kebaikan bagi seluruh alam semesta. Terutama memangkas angka kemiskinan.


Oleh: Adi Prayitno
Direktur Ekskutif Parameter Politik Indonesia