"POSESIF" Oleh: Moh. Faridi -->
Cari Berita

"POSESIF" Oleh: Moh. Faridi

Wednesday, February 19, 2020

Jatimaktual.com - Setelah lelah memintamu mengabdi tanpa batas, saya baru sadar, kadar cinta kepadamu tidak seluas cakrawala. Sebagaimana tertuang dalam sajak-sajak Minggu setelah lelah bergelut dengan waktu. Aku mencoba menakar kadar rindu setelah sekian lama waktu tak bertemu.

Baca juga.
Bongkar Mafia Hibah Tunai BIRO AP Prov. Jatim yang mulai dulu sampai saat ini masih terus bergejolak. Bahkan Oknum Mafia ini Rupanya bukan hanya dari unsur Non ASN tetapi juga Salah satu Pemangku Kebijakan di Biro AP yang diduga terlibat dalam lingkaran Mafia tersebut. Sehingga bantuan Hibah Tunai itu terindikasi menjadi Banjakan. 

Takaran rindu itu mengerucut pada nafsu. Sayapun berhenti disitu kemudian mulai mencaci diri. Sepicik itukah diriku untukmu?

Saya menghela nafas, napak tilas perjalanan cinta yang tak sempat aku tulis, aku rangkai ulang menjadi gambar berjalan di benakku. Proses demikian tidak sesulit Ibnu Kholdun dalam mengkaji perjalanan waktu; mengurai tanda, mengkaji makna, melengkapi bukti, lalu terangkai naskah sejarah napak tilas zaman lalu.

Baca Juga.
Dinas ESDM Jatim Akan Turun Tangan Terkait Maraknya Galian C di Pamekasan

Polemik Antara Bioskop yang Berizin dan Galian C Ilegal di Pamekasan

Jangankan cinta Rosulullah yang diujung nafasnya masih selalu berucap, "ummati, ummati, ummati.!!" Pun cinta Gibran yang telah melahirkan puluhan karya sastra, aku tak kuasa menyamainya.

Cintaku padamu berlebihan; keras, khawatir, waswas dan mengcengkram. Persis seperti kelompok Islam aliran keras dan gembong politisi. Apa-apa yang tidak bisa dikuasai, ia tolak dengan lantang. Serangkaian ayat dan hadis ditafsir sekehendaknya. Tak ada ruang negosiasi, menakutkan!

Demikian cintaku padamu, posesif berlebihan.

Paul Gunadi, Ph.D, menjelaskan, sebenarnya masalah posesif adalah masalah kebutuhan. Kita membutuhkan keamanan yang besar. Begitu besarnya, sehingga segala tindak tanduk orang yang tidak sesuai dengan harapan kita sangatlah mencemaskan. Rasa aman barulah muncul bila orang mematuhi permintaan kita tanpa ragu. Sebab, ini membuktikan pengabdiannya yang total. Bagi kita, lebih baik tidak bersamanya sama sekali daripada bersamanya namun harus direpotkan oleh kehendaknya yang berbeda dari keinginan kita.

Kita yang posesif menyimpan ketakutan yang besar; takut ditinggalkan, takut diabaikan, takut tidak berarti dalam hidupnya, dan takut kehilangan kendali atas kehidupan kita. Daripada hidup dalam kecemasan terus menerus, kita pun mengatur-atur kehidupan orang agar seturut dengan idealitas hidup kita.

Kita berupaya memasukkan orang ke dalam skema kehidupan kita dan sudah tentu, tidak pernah sekalipun kita mempertimbangkan untuk masuk ke dalam skema kehidupannya.


*Saat politisi mulai posesif*

Politisi angkat bicara pertanda perang sedang dimulai, sebab mereka bukan tukang jamu yang penting berbusa lalu produk terjual semua. Mereka merangkai tangga untuk menggapai tujuan politiknya melalui susunan dan tatakalimat yang mereka poles sedemikian rupa, kata-kata tentu menjadi anak tangganya.

Saat para politisi (cek di media massa, partai apa saja yang berkepentingan dengan  KCM) mulai meransgek masuk ketengah persoalan Kota Cinema Mall. Tidak dipungkiri, itu awal mesin perang sedang dipanasi, dan maksiat adalah bahan bakar jitu menghantam para pemangku kebijakan di meja kerja.

Sebentar saja dipanasi, terbukti ampuh menggerakkan segala daya untuk berperang dijagad dunia maya dan dunia nyata.

Karena sikap posesif yang berlebihan itulah orang-orang lalu dipilih untuk melakukan tindakan perang agar terjadi benturan keras. Isu maksiat dimunculkan supaya menjadi pemantik. Lalu, seolah memperjuangkan nilai-nilai agama, sekelompok manusia berjubah didorong ke depan untuk dibenturkan dengan negara.

Siapa lagi pembisiknya jika bukan pelaku politik aktif yang memiliki niat mengeruk keuntungan besar dibalik konflik sosial yang terencana dengan baik.

*Penulis adalah peneliti Yayasan Madura Institute.