“Membangun Landasan Kemampuan Numerasi Kelas Awal”
Cari Berita

“Membangun Landasan Kemampuan Numerasi Kelas Awal”

Thursday, February 20, 2020

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum Temu INOVASI ke-9 . Dengan tema “Membangun Landasan Kemampuan Numerasi Kelas Awal”, forum diskusi kali ini membahas berbagai upaya peningkatan kompetensi dasar siswa dalam menggunakan keterampilan matematika (numerasi).

Narasumber utama pada paruh awal forum diskusi pendidikan ini menghadirkan guru dari Provinsi mitra INOVASI di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta mitra pendidikan yang membagikan pengalaman mereka dalam menghadapi berbagai tingkatan kemampuan numerasi siswa. Mereka turut membagikan upaya dan praktik-praktik baik untuk meningkatkan kualitas numerasi siswa. 

Baca Juga.
Bongkar Mafia Hibah Tunai BIRO AP Prov. Jatim yang mulai dulu sampai saat ini masih terus bergejolak. Bahkan Oknum Mafia ini Rupanya bukan hanya dari unsur Non ASN tetapi juga Salah satu Pemangku Kebijakan di Biro AP yang diduga terlibat dalam lingkaran Mafia tersebut. Sehingga bantuan Hibah Tunai itu terindikasi menjadi Banjakan.
Dari pihak pengampu kebijakan, baik perwakilan pemerintah pusat maupun daerah, membicarakan bentuk dukungan dan kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya terkait kemampuan numerasi sebagai landasan pembelajaran siswa. Pihak pemerintah kali ini diwakili oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Pusat Asesmen dan Pembelajaran - Balitbang dan Perbukuan, dan Direktorat SMP Kemendikbud.

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar. Fokusnya adalah dalam hal kualitas pembelajaran literasi dan numerasi kelas awal, serta pendidikan inklusif. Salah satu upaya untuk mengatasi tantangan pendidikan yang terus dilakukan oleh INOVASI adalah menggali cara-cara terbaik di daerah, solusi lokal yang penerapannya dapat memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Baca Juga.
"POSESIF" Oleh: Moh. Faridi

DUA KUTUB HINA MULIAKAN GERBANG SALAM? Studi kasus Pro-Kontra Kota Cinema Mall Pamekasan

Kota Cinema Mall Pamekasan tidak hanya bioskop yang berdiri sebagai panggung hiburan, melainkan juga salah satu pendorong pembangunan daerah di sektor periwisata yang di dalamnya tersedia tempat tongkrongan atau café, kuliner dan fasilitas-fasilitas lain yang mendukung nuansa dan kenyamanan pengunjung.   


Kemampuan Bermatematika Siswa SD 

‘Matematika adalah pelajaran paling sulit, bukan cuma sulit tapi juga tidak menarik dan membosankan’ – ini adalah kesan yang dulunya disampaikan oleh salah satu siswa penerima manfaat program rintisan numerasi dari Jawa Timur. Tidak hanya bagi siswa, guru pun banyak menerima keluhan dari siswa yang menggangap matematika sebagai momok yang mengerikan. Setidaknya itu kata Nurul Ainia, S.Pd, guru SD Negeri Ngampelsari, Sidoarjo, Jawa Timur. 

Apabila kesan sulit, tidak menarik dan membosankan tersebut tidak diatasi, maka akan sulit bagi guru untuk meningkatkan kualitas kompetensi dasar para siswa dalam matematika. Padahal kompetensi tersebut menjadi salah satu dasar dari keterampilan berpikir atau bernalar tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS) seperti berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah

Survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang dilaksanakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, di mana kemampuan anak-anak Indonesia masih sangat perlu ditingkatkan lagi – untuk kategori matematika, anak Indonesia berada di peringkat 73 dengan skor rata-rata 379. 

Kondisi tersebut pun didukung dengan hasil studi baseline INOVASI pada 2018 di empat provinsi mitra program (Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur) yang menunjukkan kemampuan numerasi siswa lebih rendah dari yang diharapkan. Rata-rata nilai tes pemahaman numerasi adalah 56,8 (dari 100). Siswa perempuan memperoleh nilai rata-rata 58,2 dan siswa laki-laki memiliki nilai rata-rata sedikit lebih rendah yaitu 55,4.  

Tidak hanya siswa, para guru di kelas tiga dan empat SD/MI pun mengalami kesulitan dalam memahami dan mengajarkan konsep terkait pecahan dan pembagian. INOVASI juga menemukan bahwa konsep matematika seringkali diperkenalkan secara terburu-buru di kelas awal tanpa menghabiskan banyak waktu. Karena itu, guru perlu didorong untuk mengembangkan teknik yang memungkinkan anak untuk bereksplorasi, berani mengambil resiko, tidak menyerah dan mencoba lagi. 

Tantangan Saat Ini

Persoalan utamanya kini adalah mencari cara terbaik untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, termasuk dalam hal numerasi. Di tataran kebijakan, kurikulum 2013 dan pedomannya memprioritaskan kemampuan penjumlahan namun masih perlu membangun pemahaman siswa tentang penerapannya di dunia nyata. Hasil baseline INOVASI menemukan rata-rata nilai tes pemahaman numerasi untuk domain ‘pengetahuan’ adalah 63 sedangkan untuk domain ‘penerapan’ adalah 38. Kurikulum matematika cukup tergolong terlalu cepat – siswa di kelas awal perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pemahaman angka yang kuat.

Diperlukan fleksibilitas penafsiran terhadap kurikulum nasional di kelas awal untuk numerasi yang memberikan peluang pembelajaran yang lebih komprehensif dan kongkret terhadap pemaknaan konsep matematika. 
Dalam pengajaran matematika, guru seringkali merasa tidak percaya diri sehingga diperlukan penguatan kapasitas dan pelatihan pada masa pra-jabatan. Mereka perlu menggunakan metode pembelajaran yang berdiferensiasi (differentiated learning), dan metode asesmen di kelas guna melacak kemajuan siswa dan berbagai tantangan yang dihadapi dalam matematika, serta menggunakan hasil asesmen tersebut untuk menyusun rencana pelaksanaaan pembelajaran (RPP). 

Upaya Solusi Konteks Lokal

INOVASI melaksanakan program rintisan numerasi kelas awal pada bulan Juli – Desember 2019 di dua provinsi mitra, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Implementasi program dilaksanakan INOVASI bersama pemerintah daerah yang bertujuan meningkatkan hasil pembelajaran numerasi siswa kelas awal melalui peningkatan mutu pengajaran; memperkuat pemahaman guru terhadap tahapan pengembangan konsep dan pendekatan yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar numerasi kelas awal; serta meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan media dan sumber daya untuk memperkuat konsep numerasi kelas awal.

Beberapa program tersebut juga dilaksanakan INOVASI berkolaborasi dengan LSM, LPTK, atau organisasi pendidikan/masyarakat. Seperti misalnya Edukasi 101 yang mengimplementasikan program Linumeratif (Literasi & Numerasi Inovatif) di Sumbawa dan Sumbawa Barat, NTB; Sahabat Pulau Indonesia (SPI) dengan program yang fokus pada peningkatan literasi dan numerasi di Bima, NTB; Universitas BINUS dengan program peningkatan kemampuan numerasi siswa kelas awal di Sumenep, Jawa Timur; serta UNUSA yang mengimplementasikan program ‘Bengkel Numerasi di Pasuruan, Jawa Timur. 

Secara umum, INOVASI bekerja langsung dengan pemerintah daerah dalam melaksanakan pelatihan dengan model short-course dan pendampingan. Setiap pelatihan yang dilakukan di kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) dilakukan dengan fasilitasi para fasilitator daerah (Fasda), yang diikuti dengan sesi refleksi. 

Berbagai upaya yang dilakukan INOVASI bekerja sama dengan banyak pihak telah menghasilkan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran numerasi siswa, yang aspek-aspek perubahannya dihadirkan dalam tabel berikut:

Table 2. Perubahan setelah implementasi program numerasi kelas awal INOVASI

Aspek setelah program numerasi kelas awal INOVASI
Sebelum Program
Sesudah Program
Presentase siswa yang menganggap matematika sebagai 
pelajaran yang paling disukai
33%
47%
Nilai Rata-rata tes matematika
57
72
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Bilangan cacah
61
77
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Geometri dan Pengukuran
62
76
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Pecahan dan Desimal
51
64
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain kognitif: Aspek pengetahuan numerasi
63
78
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain kognitif: Aspek penerapan numerasi
38
56

Sumber: Studi baseline dan endline, SIPPI – INOVASI, 2019


Hasil studi INOVASI menemukan bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi kemampuan numerasi siswa meningkat di Jawa Timur dan NTB. Faktor pertama adalah penerapan konsep pembelajaran MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) – yang pada praktiknya meminta siswa melakukan peragaan, menggali pendapat siswa, mendorong pertanyaan dari siswa dan mendorong pembelajaran kelompok; Kedua adalah perubahan fisik ruang kelas dengan bertambahnya alat peraga dan media belajar hasil kreasi guru –yang didapatkan baik dari kegiatan pelatihan dan pendampingan rutin oleh Fasda program INOVASI.

INOVASI pun melakukan kajian untuk menilai dampak yang muncul di dua kabupaten tersebut setelah program numerasi kelas awal diimplementasikan serta memetakan perubahan yang terjadi, yakni sebagai berikut:
  1. Guru dan kepala sekolah mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap. Guru lebih memahami pedagogi matematika, sementara kepala sekolah lebih memahami berbagai strategi pendampingan dalam pembelajaran, serta supervisi akademis dan manajerial.
  2. Kepala sekolah mengalami peningkatan dalam praktik pengelolaan sekolah, sehingga turut meningkatkan dukungan pada guru, pengalokasian anggaran lebih untuk alat peraga, dan meningkatkan kinerja guru.
  3. Karena dukungan kepala sekolah, guru mengalami perbaikan praktik mengajar dengan cara memusatkan pembelajaran pada anak dan melakukan pembelajaran secara aktif dan berkelompok. 
  4. Ketika anggaran untuk alat peraga dinaikkan, maka kualitas fasilitas belajar pun mengalami peningkatan sehingga dapat menarik minat belajar siswa pada pelajaran matematika.
  5. Pada akhirnya, siswa mengalami peningkatan dalam hasil belajar numerasinya.

Nurul Ainia, Guru SDN Ngampelsari Kec Candi Sidoarjo menjadi narasumber dalam kegiatan temu INOVASI yang digelar hari ini. Kegiatan yang dibuka oleh Totok Suprayitno Kepala Balitbang didampingi Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam bidang Pengembangan Profesi Guru Iwan Syahril. Nia menceritakan pengalaman menariknya saat mengajarkan numerasi di kelas dengan menggunakan media pembelajaran ‘Jemuran Bilangan’. “Inspirasi Jemuran Bilangan ini saya dapatkan saat saya melihat ada gantungan baju yang tak terpakai. Gantungan baju ini kemudian saya beri kaki dan bisa digantung. Fungsi media ini bisa untuk mengajarkan nama bilangan, lambing bilangan, nilai tempat, hingga mengurutkan bilangan. Sehingga media ini multifungsi dan murah,” jelas Nia disambut tepuk tangan peserta yang hadir. Nia juga membuat terobosan dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara lebih simple hanya dalam 1 lembar kertas bolak-balik saja. RPP ini oleh Fasli Jalal selaku moderator, diserahkan oleh Iwan Syahril sebagai bukti konkret bahwa guru lebih senang bila tidak dibebani dengan administrasi dan lebih efektif sebagai panduang guru untuk mengajar.

Tirto Adi, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo yang juga diminta menjadi narasumber untuk kebijakan mengungkapkan, komitmen Kabupaten Sidoarjo untuk meneruskan program-program yang sudah berjalan di Sidoarjo, salah satunya adalah INOVASI, akan terus dilanjutkan dan disebarluaskan dengan payung hukum peraturan bupati maupun SK kepala dinas. “Dengan begitu kegiatan perluasan dan diseminasi program tidak menyalahi aturan dan memiliki payung hukum yang jelas,” terangnya.

* * *
Tentang  INOVASI

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) adalah program kemitraan pendidikan Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa – khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi, baik itu di kelas maupun di sekolah. Bekerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, INOVASI menjalin kemitraan dengan 17 kabupaten/kota yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program peningkatan mutu pendidikan ini berjalan sejak tahun 2016 hingga tahun 2020 dan dikelola oleh Palladium atas nama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia.

Kunjungi http://litbang.kemdikbud.go.id untuk informasi lebih lanjut, ataupun artikel ilmiah dan layanan Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud lainnya.

Ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana INOVASI bekerja? Kunjungi website www.inovasi.or.id, laman Facebook https://id-id.facebook.com/InovasiPendidikanAIP/, atau youtube INOVASI Pendidikan.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Oky Adrian 
 Sub Bagian Kerja Sama dan Publikasi
 Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan 
 dan Kebudayaan
Annisaa Rachmawati
Communications Specialist
Program Kemitraan INOVASI