Keluh-Kesah Petani dan Pilkada Sumenep
Cari Berita

Keluh-Kesah Petani dan Pilkada Sumenep

Friday, February 14, 2020

 Anak petani, tinggal di dsn. Lengkong Dejeh, Ds. Bragung, kec. Guluk-Guluk, Sumenep
Jatim Aktual - Sumenep, Beberapa hari lalu, sempat mudik ke Reng Perreng, Lengkong Dejeh, Guluk-Guluk, Sumenep. Tak ada yang berubah. Jalanan banyak _tak_ beraspal. Rusak. Petani susah jual hasil panen. Warga banyak yang merantau mengadu nasib. Persis sama seperti 20 tahun silam. Perubahan hanya omong kosong. Palsu belaka. Berasa _tak_ punya Bupati, Camat, dan Kepala Desa.

Tahun ini, Sumenep mau melaksanakan Pilkada. Ada sejumlah baliho/poster orang yang merasa pantas pimpin Sumenep. Apa mereka pernah ngobrol dengan petani yang tiap musim susah bertani? Hasil panen mereka dipermainkan tengkulak. Kesulitan air, susah beli pupuk, dan seterusnya.

Baca juga.
Bongkar Mafia Hibah Tunai BIRO AP Prov. Jatim yang mulai dulu sampai saat ini masih terus bergejolak. Bahkan Oknum Mafia ini Rupanya bukan hanya dari unsur Non ASN tetapi juga Salah satu Pemangku Kebijakan di Biro AP yang diduga terlibat dalam lingkaran Mafia tersebut. Sehingga bantuan Hibah Tunai itu terindikasi menjadi Banjakan. 

Kemana saja mereka itu. _Kok_ gayanya setengah mati lagak mau bela rakyat. Kata si pendemo, Naufal dan Hamidy, au ah gelap. Apa mereka peduli petani garam tiap musim, jerit kesusahan. Apa mereka juga peduli tiap musim tembakau, petani luntang lantung ke Gudang?. Situ kemana aja bung selama ini..!!

Pernahkah yang fotonya mejeng di pinggir jalan itu nanya Man Sirat, nyangkul seharian upahnya 25 ribu? Itupun sering dihutang bayarnya. Ataukah si Man Tabri yang buruh tani saban hari belum tentu dibayar. Sebatas jalani rutinitas agar terlihat bekerja.

Tiba-tiba banyak foto jadi penunggu pohon di jalanan Sumenep. _Tagline_ nya gaya betul. Macam paling peduli saja. Betul kata ustadz yang ceramah lewat speaker di pagi hari. "Jangan pernah berharap sama manusia. Berharaplah hanya sama Alloh". Ambyar sudah klo begini.

Pilkada mestinya lahirkan pemimpin yang bisa lakukan perubahan. Jalan yang semula tak beraspal harus diaspal. Petani yang kesulitan menjual tembakau tak lagi terulang. Garam murah tak lagi terjadi. Daya beli ke Pasar meningkat.  Lah, ini 20 thn sejak kenal Pilkada, kampungku begini-gini aja. Macam kota mati. 

Lalu apa gunanya ada Pilkada? Lalu apa makna foto-foto calon nangkring di pepohonan pinggir jalan? _Tagline_ berhamburan. Khutbah perubahan tiap hari viral. Sementara perubahan yang diharap tak kunjung tiba. Yang ada justru mundur jauh ke belakang. 

Datangilah mereka itu yang wajahnya selalu lusuh. Memikirkan nasib yang tak jelas arah rimbanya. Para petani yang saban hari hidup dalam rutinitas tak pasti. Ya, sembari menunggu keajaiban Tuhan tentang nasib mereka yang tak pernah berubah. 

*) Adi Prayitno, Pengamat Politik