Jember ikuti program Kota/Kabupaten Layak Anak, Kopri Jember Advokasi Isu Pendidikan.
Cari Berita

Jember ikuti program Kota/Kabupaten Layak Anak, Kopri Jember Advokasi Isu Pendidikan.

Monday, February 17, 2020

Jatimaktual.com, Jember - (17/02/20) Sejak tahun 2017 Jember mengikuti sebuah program Kota Layak Anak yang dilaksanakan oleh kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, untuk merespon hal ini Kopri Jember menyampaikan sebuah pandangan dan sikap gerakan yang akan diambil selama satu periode kepebgurusan. "Tahun 2018, Jember merupakan salah satu Kabupaten dinamis secara sosial ekonomi masih memiliki angka buta aksara tinggi" Ujar Sahabati Rofi selaku ketua Kopri Jember.

Menurutnya, data yang bersumber dari BPS mengatakan bahwa angka tidak sekolah pada usia 7-24 tahun mencapai 30,36 %, hal ini menjadi PR besar bagi pemerintah daerah dalam pengentasannya. Apalagi pemerintah daerah Jember mulai tahun 2017 ikut menjalankan program yang digagas kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yakni kabupaten/kota layak anak (KLA) yang mana salah satu indikatornya jelas ada elemen Pendidikan termasuk wajib belajar 12 tahun dan sekolah ramah anak.

Baca Juga.
Polemik Antara Bioskop yang Berizin dan Galian C Ilegal di Pamekasan

PMII Pamekasan Minta Penegak Hukum Tegas Tangani Galian C Ilegal, Lutfi: Kami Akan Kawal Sampai Tuntas

Senada dengan keterangan Sahabati Rofi, Sahabati Ifa selaku ketua Bidang Gerakan dan Advokasi mengatakan "Terkait sarana dan prasarana sekolah serta SDM tenaga pendidik menjadi perhatian dan PR besar bagi lembaga pendidikan yang terletak di daerah pedesaan, supaya indikator sekolah ramah anak terpenuhi"

"Melihat latar belakang yang demikian maka Kopri Jember dalam periode ini memutuskan untuk melakukan kerja-kerja advokasi dengan isu pendidikan dan peningkatan literasi pendidikan di Jember sebagai fokus kawalan. Dalam hal ini kami berharap kerja sama dari pihak pemda untuk transparansi dalam proses pelaksanaan program ini baik dalam hal progress kerja maupun anggaran" Imbuh Sahabati Rofi.

Menurutnya berbicara pendidikan anak tentu bicara generasi yang akan dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan zaman ke depan, apalagi Indonesia akan mengalami bonus demografi pada rentang tahun 2020 sampai 2030 dengan jumlah usia produktif masyarakatnya mencapai 70%.