Naskah Monolog "DEMOKRASI YANG SALAH" Karya Ahmad Nur Muzayyin
Cari Berita

Naskah Monolog "DEMOKRASI YANG SALAH" Karya Ahmad Nur Muzayyin

Tuesday, January 21, 2020

Jember, 15 Maret 2019

Selepas sholat Isya' saya melihat berita di televisi tentang debat kandidat calon presiden dan wakil presiden di rumah tetangga. Saya berkata "saya harus jadi seperti mereka. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pejuang, apalagi pahlawan,  bagaimana saya bisa? Kehidupan saya hanya sebatas anak dari pemulung sampah, pendidikan saya tertunda lantaran tidak memiliki biaya untuk membayar uang SPP, tapi saya tetap berusaha untuk tetap melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

Setiap hari saya membantu orang tua memulung sampah, dengan cara apa lagi agar mendapatkan penghasilan dan dapat melanjutkan studi?
Di musim pemilu semua orang sibuk dengan dirinya sendiri,   sibuk memperjuangkan calon kebanggaannya untuk duduk di kursi terhormat. Di simpang jalan di penuhi baliho-baliho bakal calon, "haruskah sebanyak ini?" Gumamku dalam hati... "ah...  sekarang ini nilai demokrasi sudah di junjung tinggi, semua orang sudah bisa mencalonkan dirinya sebagai pemimpin,  Saya melihat semua sudah kompak kalau sudah membela demokrasi.

Terdengar seruan warga yang bersemangat dengan adanya demokrasi
"Hidup demokrasi!"

Tapi, yang sangat di sayangkan. Mereka belum mengetahui apa arti demokrasi. Coba kita lihat, mereka berkata "hidup demokrasi!... pokoknya, domokrasi itu bagus. Dengan demokrasi Negara kita akan makmur, adil dan sejahtera."
Saya kira itu sudah cukup.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu demokrasi, sebab yang ditakutkan apabila terjadi kesalah pahaman. ya... maklum, orang desa tidak semua berpangkat sarjana yang mengenal secara pasti apa itu demokrasi.

Pada suatu hari, datang salah seorang pejabat ke desa kami  memberitahukan bahwasanya akan ada penggusuran rumah yang bertempat di rt. 6 rw. 2

Petugas itu menghimbau, agar kami, merelakan kehilangan itu, demi kepentingan bersama.
Seru seorang petugas.

“Walaupun hanya beberapa rumah, sumbangan saudara-saudara sangat penting artinya bagi pengembangan dan kepentingan kita bersama di masa yang akan datang. Lahan disini akan di bangun proyek besar dan atas nama kemanusiaan kami harap saudara-saudara mengerti.”

Wargapun nampak bingung
Kemudian berkata " Pembangunan siapa?
Dan ke tempat mana kami akan berteduh?" Kontan kami tolak.

"Tidak bisa itu tidak mungkin!"

“Tapi ini sudah merupakan keputusan bersama, lagian bagi rumah yang digusur pasti akan dapat pengganti yang lebih baik" kata petugas tersebut.
Kami memberontak "Bagaimana mungkin membuat keputusan bersama tentang rumah kami, tanpa rembukan dengan kami."

“Soalnya masyarakat di sebelah sana,” lanjut petugas itu sambil menunjuk ke kampung di sebelah, “mereka semuanya adalah karyawan kami, dan mereka juga setuju atas penggusuran ini"

"Kami tidak pernah ditanya apa-apa? Tanah ini milik kami" bantah saya.

Tak lama kemudian, sejumlah warga dari kiri kanan kami datang. Mereka menghimbau agar kami mengerti persoalan kami. Mereka mengatakan dengan sedikit pengorbanan itu, ratusan kepala keluarga dari kiri kanan kami akan tertolong dan rumah yang akan digusur akan di ganti oleh pemerintah.

"Jika saudara sekalian menolak adanya penggusuran ini, maka bahaya akan melanda" tegas seorang petugas

"Bahaya bagaimana? Kami belum berembuk masalah penggusuran ini, kalian seenaknya saja mengambil keputusan"

Kemudian terdengar suara mesin.
Tanpa banyak basa-basi dan tanpa izin lagi, sebuah bulldozer menghancurkan salah satu rumah. Warga kembali panik. "Jangan! Jangan! Ini rumah kami. Sejak nenek-moyang kami sudah di sini. Dulu kakek-kakek kami memiliki tanah yang luas, tiap orang punya dua sampai empat rumah dan juga lahan-lahan kosong. tapi semua itu sudah dibagi-bagi, dan juga ada yang dijual. Tapi ini rumah warisan".

Sekeras apapun mereka menolak Bulldozer itu tetap tidak peduli. bulldozer itu terus juga menghancurkam dengan buas. Sopirnya juga tidak peduli. Dia hanya menjalankan tugasnya.
Pada akhirnya Kami semua terpaksa melawan. Dari bapak-bapak hingga anak-anak mereka berdiri di hadapan bulldozer itu.

"Ini rumah kami, jika rumah kami digusur kemanakah kami akan berteduh? akan kami pertahankan rumah kami mati-matian. Dibeli ratusan jutapun kami tidak sudi, sebab kami tidak mau pindah dari tempat nenek moyang kami".

Baru bulldozer itu berhenti.
Mereka kembali berunding. Dan kami menunggu apa yang akan terjadi. Selang beberapa menit mereka selesai berunding. bulldozer kembali dihidupkan.

Kami kembali deg-degan. Waktu itu sebuah mobil mercedes datang. Dua orang berseragam dengan dasi yang melingkar di lehernya. Kami besorak, melihat akhirnya aparat datang untuk melindungi rakyat. Tapi berbareng dengan itu, bulldozer kembali menerjang rumah-rumah warga. Warga terserentak berteriak. Beberapa anak jatuh, Keadaan menjadi kacau.

Tanpa diberi komando lagi, kami melawan.
Anak-anak mengambil batu dan melempar. Terjadilah pertikaian yang tidak di inginkan banyak dari mereka berlurumuran darah.
Tak dapat dikatakan penguasa jika tak pandai bermain licik selicin basa. Banyak penguasa terjun ke rakyat, mengayomi pun mengayami di selingi rayuan maut memukau perhatian kami semua. Tak lupa dengan janji janji palsu tentang rencana indah usai penggusuran ini. Tak sedikit orang yang terbuai. Yaaa maklumlah, sudah saya katakan diawal bahwa tak semua warga didesa berpangkat sarjana.

Lihatlah Bulldozer itu tetap memporak porandakan rumah satu persatu, Bermodal tuli yang tipu, si sopir manut atasan. Untuk apa lagi kita melawan, sudah banyak para pejuang yang memagari desa dari penggusuran, yang kini sudah berlumur tangis melihat desa yang kini merata bagai lapangan sepak bola.

Bukan kami tidak murka. Kami amat murka. Ada sesepuh desa yang mendoakan agar mereka dapat balak dari nenek moyang. Ada juga yang melapor kepada pihat berwajib, namun hampa, tiada respon dari mereka. Dimana keadilan sang penguasa. Mengambil hak yang jelas-jelas milik kami. Bukan perihal korupsi yang amat kasat, tapi sungguh ini amat dhohir terlihat. Usut demi usut ketika saya tanya dengan aparat desa, sebelumnya sudah diadakan rapat musyawarah mengenai penggusuran ini, tapi karena aparat desa kalah suara dan tak bisa mempertahankan, maka habislah sudah. "Loh kan negara kita demokrasi? Nah... keputusan yang paling banyak pendukungnya itu yang menang" kata saya pada salah seorang warga.

"Apa-apaan ini, demokrasi macam apa ini, jika tau demikian saya tidak akan pernah mendukung adanya demokrasi" teriak salah seorang warga desa. Sejak saat itu semuanya benci kepada demokrasi. Hanya tinggal saya sendiri, yang tetap berdiri di sini. Teguh dan tegar. Saya tetap kukuh tegak di atas kaki saya, apa pun yang terjadi siap mempertahankan demokrasi, sampai titik darah penghabisan.
Habis mau apa lagi? Siapa lagi kalau bukan saya?

Semenjak kejadian yang demikian itu. Terlebih orang awam sungguh tak lagi percaya tentang demokrasi.

Sebagian kecil orang yang amat menekuni perihal politik, ia masih mempercayai kebaikan demokrasi itu ada. Apalagi yang harus aku argumenkan perihal demokrasi. Melihat realita sekitar yang dulu menjadi tempat mengadu, sudah menjadi perpetakan tanah lahan yang akan dijadikan pabrik. Yaaaa pabrik. Untuk apa di jadikan pabrik, jika merampas tempat kita berteduh



SELESAI.