Kumpulan Puisi "MAHABBAH", Karya Ahmad Nur Muzayyin
Cari Berita

Kumpulan Puisi "MAHABBAH", Karya Ahmad Nur Muzayyin

Monday, January 20, 2020

BERITA HARI INI

Telah ditemukan seorang lelaki termangu-mangu di bawah terik matahari
Ia memulung mimpi dari sekumpulan kertas tak bernyawa
Dari aroma kaos kaki yang menjarah udara
Bermandikan keringat dan air mata

Sejak matahari sepenggalah tingginya
Ia pergi membawa sekarung cita-cita
Cangkul dan sabit menjadi sahabat setia
Dalam duka
Dalam resah
Dalam pasrah

Hingga saat ini
Lelaki itu tetap menari
Ia berjanji
"Sebelum rupiah memberontak dalam saku, pantang pulang sebelum subuh"

Jember, 4 September 2019

---------------
ADA YANG TIDAK KITA KETAHUI

Ada yang tidak kita ketahui dari para pejuang
Adalah ia pedagang di simpang jalan
Menjual harga diri dan kehormatan
Ada yang tidak kita ketahui dari para pejuang
Adalah ia yang meminta-minta di simpang jalan
Lantaran berhari-hari tak makan
Ada yang tidak diketahui dari para pejuang
Adalah ia yang menangis di simpang jalan
Melihat orang-orang lari kalang kabutan
Ada yang tidak diketahui dari para pejuang
Adalah ia wanita-wanita pelacur yang menjual separuh harga kutang
Ada yang tidak diketahui dari para pejuang
Adalah ia ibu-ibu bunting menunggu uang pensiunan

Bendera dikibarkan
Kemudian kita mengenang para pahlawan
Tetapi, seringkali kita mengabaikan orang-orang di simpang jalan

Yang mati di medan perang
Adalah pejuang kemerdekaan
Yang mati di simpang jalan
Adalah pejuang kehidupan

Mereka, sama-sama pahlawan

Jember, 19 Agustus 2019

--------------------------
TENTANG JARAK

Jarak adalah cara Tuhan menciptakan kerinduan
Kemudian lahirlah puisi sebagai teman
Penikmatnya adalah malam
Dan kamu adalah jawabannya
//
Kita dapat melipat jarak dan arah tanpa kenal kata lelah
Tetapi, kita tidak dapat melipat waktu
Sebab ia menjelma rindu
Kita hanyalah kata sumpah dalam puisi serapah
Penyatuan antara aku dan kamu dalam sebuah temu
//
Kalender-kalender rindu terus menghitung dirinya
Semakin jauh, semakin tak terbilang jumlahnya
Apabila hilang?
Maka jangan kamu tanyakan
Apakah aku masih hidup?
Sebab, tanpamu
Yatim piatulah aku

Jember, 13 Juli 2019

------------------
BISAHKAH?
Sibukkan aku dengan senyumanmu
Agar rindu dapat terusir pelan-pelan
Hingga kita lupa arah pulang
Kemudian tenggelam dalam pelukan

Bisahkah engkau mengukir tawaku hingga lepas?
Tanpa tangis yang membekas

Jember, 16 Juli 2019

Tentang Penulis.
Nama. Ahmad Nur Muzayyin yang sering dipanggil dari sejak ia dilahirkan dikota Tape Bondowoso, pada tanggal 08 Juli 1998 dari pasangan Suami Istri Bapak Nurul Hidayat dan ibu Siti Aminah. Sempat mengenyam pendidikan di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo pada tahun 2010, melanjutkan di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negri Jember Ahwal Al-Syakhshiyyah pada tahun  2017 sampai sekarang. Sempat menerima penghargaan sebagai juara 1 baca puisi di acara FASSAH (Festival Santri Salafiyah Syafi’iyah) Pondok Pesantren Sukorejo Tahun 2014, juara 2 Musikalisasi Puisi se-Kabupaten Bondowoso Tahun 2015, Begitupun di tahun 2014 telah diapresiasikan sebagai Deklamator di Sekolah Deklamasi angkatan V, dan dapat penghargaan sebagai juara III baca puisi se-kabupaten Situbondo tahun 2016, juara II Baca Puisi tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh balai bahasa Jawa Timur adapun karyanya pernah di publikasikan oleh Buletin AIR (Sanggar Seni Cermin), Q-BLAT Buletin Bondowoso, dan juga di Majalah Sensasi OSIS SMK Ibrahimy 01 Sukorejo. Selain puisi, Penulis juga aktif menulis Naskah Teater diantaranya Treatrikal Puisi dan Drama,  Perjuangan 10 November (Sanggar Seni Matahari OSIS SMK Ibrahimy 01, 2014), Sejarah Berdirinya Bondowoso dan Singa Dari Madura (Sanggar Seni Babond Teater Rayon IKSASS Bondowoso, 2014) dan buku antologi pertama yang pernah di publikasikan adalah "Juni dan Episode yang Terpenggal". untuk komunikasi lebih lanjut silahkan hubungi Penulis via :
š G-mail     : muzayyinnur@gmail.com
š Fb            : Ahmad Nur Muzayyin
š Bloog       : https://nurmuzayyin.blogspot.co.id