Aktivis PMII IAIN Jamber Tolak Alih Status IAIN Menjadi UIN -->
Cari Berita

Aktivis PMII IAIN Jamber Tolak Alih Status IAIN Menjadi UIN

Sunday, January 19, 2020

JATIMAKTUAL.COM, JEMBER - Aktivis PMII IAIN Jember, Muhammad Haris Taufikurrahman, mahasiswa Fakultas Syariah, Pogram Studi (Prodi) Hukum Tata Negara ini menolak adanya alih status kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Ahmad Shiddiq (Khas) Jember. Sebab, jika kampus ini beralih status tentu pembangunan gedung akan semakin meluas, yang dianggap akan berdampak buruk kepada masyarakat sekitar kampus nantinya.

Menurutnya, dampak yang akan dialami oleh masyarakat. Pertama, masyarakat akan menerima cuaca ketika musim panas tiba. Yang mulanya lingkungan masyarakat terasa sejuk, dengan adanya pembangunan gedung kampus yang semakin meluas, pada akhirnya masyarakat akan merasakan panas, sebab tidak ada tempat untuk berteduh.

Kedua, dampak bagi masyarakat adalah sampah yang dibawa oleh mahasiswa. Perlu disadari, semakin banyaknya mahasiswa yang masuk ke kampus IAIN Jember juga berdampak kepada banyaknya sampah yang menumpuk di lingkungan tersebut.

Dampak ketiga, karena pembangunan kampus semakin luas dan mempersempit aliran sungai khususnya sungai Bedadung yang berada dibelakang kampus ini. Akan berakibat kepada luapan air ketika musim penghujan yang nantinya bisa terjadi banjir, yang justru tidak diinginkan warga setempat yang berada di sebrang sungai belakang kampus ini.

"Hal ini sudah kami kaji terlebih dahulu bersama aktivis yang lain, ternyata banyak dampak yang dirasakan warga disekitar kampus ketika alih status ini terjadi," tolaknya tegas, saat ditemui di warung Nol Kilometer Gang Semanggi, Jumat (17/1/2020).

Haris menyatakan bahwa, tidak semua mahasiswa bangga dengan kampusnya yang akan beralih status nantinya. Karna bukannya mau mensejahterakan masyarakat malah membawa masalah untuk masyarakat.

Menurutnya, kampus IAIN Jember ini masih belum pantas untuk beralis status. Karena dilihat dari fasilitas yang ada, kemudian kemampuan dari mahasiswanya, serta dari sistem yang masih cacat.

"Kami menolak adanya alih status ini, karena kampus masih tidak memadai untuk beralih status. Kami juga merasa hal itu sangat tidak pantas karena melihat dari kemampuan mahasiswa, ataupun fasilitas-fasilitas yang ada di kampus memang tidak sebanding dengan tingkat Universitas lainnya," pungkasnya.

Reporter: Edi supriyanto