Sebaiknya Penulis Tidak Lagi Menerbitkan Buku


Oleh : Abd. Latif Azzam (*)

Hasil survei United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization  (UNESCO) pada tahun 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World, merilis pemeringkatan literasi internasional. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara dari sektor kecintaannya pada membaca. Itu artinya para penulis buku, para penulis essay, para kolumnis, tidak perlu bersusah-susah menulis, tidak perlu muluk-muluk menguras pikirannya. Karena hanya akan dijadikan sampah oleh masyarakat Indonesia sama seperti sampah yang berserakan pasca aksi 212.

Cukuplah kiranya hanya ada penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Kuntowijoyo, Ali Sjahbana, Chairil Anwar, Quraish Shihab, Tere Liye,  Habiburrahman,  dll.  Karena kalau di Indonesia masih lahir penulis-penulis baru, maka hanya akan menambah tumpukan sampah di lemari atau di toko buku. Ini adalah prestasi bangsa Indonesia yang lupa dimasukkan dalam catatan akhir tahun atau Kaleidoskop 2016 lalu. Sungguh membanggakan. Bahkan kalau ada catatan Rekor Muri dari 61 negara diatas, maka sangat layak Indonesia mendapatkan rekor itu atas prestasinya telah menggerakkan gerakan anti baca dan anti buku se-nasional.

Yang saya perihatinkan adalah para penulis dan pengarang buku, sudah capek menulis, sudah susah payah di depan komputer, bayarannya tidak seberapa lagi, eh.., tau-tau bukunya sudah terbit malah gak ada yang baca. Karena rakyat Indonesia sekarang tolak ukurnya bukan pengetahuan, tetapi uang dan uang. Dan membaca tidak dapat menghasilkan uang dan hanya membuang waktu belaka. Karena bagi masyarakat Indonesia waktu itu adalah uang, bukan membaca. Kenyataan ini membuat masyarakat Indonesia menjadi bodoh, tolol, goblok, miskin ide dan gagasan, sehingga sangatlah wajar masyarakat Indonesia cinta korupsi, cinta penindasan, cinta membiarkan masyarakat bawah, cinta pertengkaran, dan cinta bangga kalau Indonesia diperalat oleh negara lain. Sehingga kalau Indonesia rusak dan hancur, itu semata-mata bentuk manifestasi kecintaan masyarakat Indonesia kepada negaranya. Sungguh membanggakan.

Sekarang di Indonesia tidak lagi membutuhkan ilmuwan yang cerdas, mahasiswa yang idealis, ekonom yang revolusioner, petani yang cerdas, dan bahkan pemimpin yang visioner. Yang dibutuhkan masyarakat Indonesia adalah mereka yang memiliki banyak uang, karena untuk membeli ticket ke neraka jahannam mereka membutuhkan uang dengan jumlah besar. Jangan heran kalau akhir-akhir ini di Indonesia sering ada pesawat jatuh, kapal tenggelam, gempa, banjir, kecelakaan, dan macam-macam penyakit, itu semua karena keinginannya mencapai cita-cita bodoh tadi dan karena ketidaksukaanya kepada membaca.

Apa yang dilakukan bangsa Indonesia ketika bangsa lain sedang serius membaca ? Kita disibukkan dengan memilih angel-angel terbaik, di cafe-cafe romantis,  di tempat wisata, dengan camera oppo, atau DXLR untuk di uploud di instagram. Kita disibukkan dengan meneliti perubahan DP atau status di pemberitahuan BBM. Kita disibukkan dengan berbelanja di supermarket bersama sang kekasih. Dan kita disibukkan dengan memperbanyak barisan para mantan. Bangsa lain selesai menghatamkan satu buku, bangsa kita mengahatamkan followers di instagram. Bangsa lain menghasilkan karya, bangsa kita telah berhasil merenggut keperawanan kekasihnya.
Selamat, Selamat ! dan mari kita rayakan prestasi gemilang yang diraih masyarakat Indonesia.


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment