Merdeka Sejak dalam Pikiran dan Buaian


Oleh : Abd. Latif Azzam

Memerdekakan diri sendiri ternyata lebih sulit daripada memerdekakan orang lain ataupun sebuah negara. Merdeka dalam arti luasnya terhindar dari jajahan dan pengaruh dari pihak lain. Baik lembaga maupun person. Kemandirian dan berdiri di kaki dan pikiran sendiri ternyata butuh latihan hidup yang cukup panjang. Masih adanya ketergantungan dan kebutuhan kepada manusia menjadi sebab kemerdekaan tidak bisa dicapai. Soekarno selama 72 tahun lalu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia ternyata masih banyak sistem dan elemen pemerintahan yang bergantung atau dikendalikan oleh asing. Pemberdayaan Manusia agar memiliki mental merdeka dan tidak dipengaruhi oleh siapapun perlu dilakukan sejak dini bahkan sejak dalam buaian orang tua.

Ada tiga roda dalam Islam yang turut membantu seseorang berpikir secara merdeka. Yaitu kesatuan Hati, Akal, dan Perbuatan. Kemantapan hati sesuai dengan apa yang diyakini bisa dilihat dari seberapa besar memupuk nilai spiritualitas kepada Tuhannya. Hati menjadi organ yang sangat penting karena dianggap sebagai mesin pengatur tindakan manusia. Apabila hati bersih niscaya Perbuatan dan akalnya juga bersih, begitu sebaliknya. Maka kebersihan dan kesucian hati menjadi penentu bagaimana seseorang bisa merdeka. Kedua adalah akal. Akal dapat berfungsi dengan baik jikalau hati bersih dan mendapat amunisi intelektual yang cukup. Hati bersih tetapi akal kekurangan nutrisi, maka akan terjerembab kepada kesesatan dalam berpikir. Seseorang akan cenderung liberal apabila tindakannya selalu bertumpu kepada akal dan pikiran yang kering serta tidak melibatkan hati bersih nya dalam bersikap. Namun apabila nutrisi pikiran nya tercukupi melalui lembaran buku, seseorang akan mudah mengendalikan hati nya sesuai dengan kejernihan akalnya. Tentu apabila dua roda akal dan hati bersih, Perbuatannya bisa dipastikan juga akan bersih. Maka kesatuan akal, hati, dan perbuatan dapat membuat seseorang berpikir dewasa dan merdeka.

Pramoedya Ananta Toer cukup tampil sebagai manusia merdeka. Dia tidak peduli terhadap apa yang orang lain katakan padanya. Dia hanya akan menjadi Pram. Bukan orang lain. Dia sudah melakukan proses kesatuan akal, hati, dan pikiran. Karya-karya Pram adalah bukti kemerdekaan dirinya. Siapapun yang mencoba mempengaruhi akan terhenti dikala membaca karya-karyanya. Dia telah menjelma menjadi manusia merdeka dan mengajak orang lain juga merasakan manisnya kemerdekaan dimulai dari pikiran hingga perbuatan. Sama seperti Ahmad Wahib yang telah berproses untuk menjadi Aku, bukan Akunya dia, dan bukan Akunya mereka. Aku berproses menjadi Aku hingga Aku benar-benar menjadi Aku. Apabila kemerdekaan diciptakan sejak dalam pikiran, maka secara perbuatan akan tetap merdeka meski banyak pengaruh dan kendali dari luar Aku.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment