KISAH INSPIRATIF DUA KEPONAKAN MAHFUD MD YANG SELALU BERTENGKAR


Oleh : Ach Fatori, S.Pd

Kalau kita buka google dan search keponakan Mahfud MD, maka muncul dua nama, yaitu Hairul Anas Suaidi dan Firman Syah Ali. Sebetulnya keponakan Mahfud MD banyak sekali, karena lima orang saudara kandung Mahfud MD masing-masing punya anak banyak sekali, sementara Mahfud MD sendiri hanya punya tiga orang anak.

Hairul Anas Suaidi adalah adik kelas Firman Syah Ali di SMP dan SMA. Mereka juga satu kamar di rumah neneknya, Jl Dirgahayu 109 Pamekasan. Tapi mereka selalu bertentangan pendapat dalam teologi dan ideologi.

Hairul Anas Suaidi, menganut teologi kebenaran tunggal salafi dan alur pemikirannya selaras dengan islam eksoteris-revivalis, sedangkan Firman Syah Ali, kerap dipanggil cak Firman, merupakan penganut teologi Aswaja dan alur pemikirannya selaras dengan apa yang sekarang terkenal dengan istilah Islam Nusantara.

Setelah kuliah, Cak Firman aktif di PMII, sedangkan Mas Anas tidak mau aktif di Ormawa apapun. Alasannya sangat keren, "kalau saya aktif di HMI atau PMII, nanti saya ngumpul dengan anak-anak luar ITB, maka saya lebih memilih aktif di Jamaah Salman, ekslusif khusus anak-anak ITB", biasalah kampus terbaik di Indonesia, kita juga nggak menyalahkan jika mahasiswanya berpandangan seperti itu.

Sosok dua sepupu yang tidak pernah akur ini selalu bikin heboh media sosial, bahkan saking parahnya pertengkaran mereka, keduanya sering sama-sama dikeluarkan dari beberapa grup Whatsapp. Keduanya bertengkar hebat di berbagai platform medsos jauh sebelum ada fenomena Kampret Vs Cebong.

Namun terjadi peristiwa unik, saat Mas Anas menjadi bintang pilpres 2019 dengan penemuan robot situngnya, Cak Firman malah tampil paling depan membela sepupunya tersebut. Cak Firman bukan membela pendapat mas Anas tentang kecurangan Pemilu, sebab Cak Firman pengamat netral, tidak ikut-ikutan masalah itu, cak Firman hanya membela Mas Anas dari serangan hoax dan hasutan, seperti hoax bahwa Mas Anas bukan alumni ITB, hoax bahwa mas Anas dibayar mahal oleh prabowo, hoax bahwa Mas Anas ingin terkenal, dan banyak hoax lainnya pada waktu itu. Gara-gara tampil membela Mas Anas, banyak sahabat-sahabat Cak Firman dari kalangan pendukung jokowi sensitif, sehingga ramai-ramai mengunfriend Cak Firman dari pertemanan. Padahal mereka sahabat lama Cak Firman semua di dunia Sarkub (Sarjana Kuburan). Dunia Sarkub adalah kumpulan para netizen penyuka ziarah kuburan wali, yang mayoritas dalam pilpres kemarin mendukung Jokowi mati-matian.

Begitupun dalam Pilkada Surabaya tahun 2020, dimana Cak Firman merupakan salah satu kandidat Walikota, di sebuah grup Whatssapp tau-tau mas Anas menulis begini :

"Walaupun aku beda ideologi dengan empong, aku mendukung penuh empong untuk menjadi Walikota Surabaya.

Karena saya paham watak empong sejak SMP, berani melawan kecurangan dan keculasan.

_"Dasar Guru SMP 2_!!!
_Murid nyontek dibiarkan!", tulis empong di lembar jawaban Test Sumatif (Ujian Semester), saat dirinya duduk di kelas 3 SMP, sebagai bentuk protes. Sontak Sang Guru Pelajaran yang mengoreksi lembar jawabannya kaget dan memberitakan kepada dewan guru dan kepala sekolah. Dewan Guru gempar, tapi tak banyak dapat berbuat, karena budaya nyontek sudah terlalu parah.

Empong memang merupakan titisan darah ulama dan pahlawan pertempuran melawan Belanda ternama di Pamekasan. Dia nampak tak punya rasa takut tak ubahnya sebagai jelmaan kembali dari kakek-kakeknya yang  Pahlawan itu, bagi empong tidak pantas seorang siswa mengejar nilai terbaik dengan cara curang".

Empong adalah panggilan akrab mas Anas kepada Cak Firman, sedangkan panggilan akrab Cak Firman kepada Mas Anas adalah Edi.

Begitulah kisah dua sepupu yang dramatis dan inspiratif, walaupun ideologi dan pemikiran mereka selalu berseberangan, namun pada saat mas Anas  ditimpa kezaliman maka Cak Firman langsung membela, begitupun ketika Cak Firman berjuang untuk kebaikan, maka Mas Anas langsung mendukung.

Keduanya pernah satu kamar dan satu sekolah sehingga keduanya saling faham tentang kebaikan karakter masing-masing, mereka tidak pernah bisa akur karena mereka beda teologi dan ideologi.

*)Penulis adalah Ketua Umum PW PII Jatim Periode 2014-2016

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment