Kasus Pemukulan Oleh Aparat Kepolisian Kepada Aktivis PMII di Jember akan tetap Dituntut sesuai Hukum yang Berlaku

Jatimaktual.com, Jember.- (16/10/19) Aksi Demonstrasi yang dilakukan oleh PMII Cabang Jember pagi tadi memakan korban. Terdapat dua kader PMII yang pingsan dan mengalami luka-luka akibat bentrok dengan kepolisian di depan Pemkab Jember. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit Kaliwates dan RS. Soebandi. Masing-masing adalah Rangga kader PMII Rayon FIB UNEJ dan Latifurrohman kader PMII Rayon FEBI IAIN Jember. Atas jatuhnya korban tersebut, pengurus cabang PMII Jember akan membawanya ke Jalur Hukum dan menuntut pihak dari kepolisian agar ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Dari beberapa video yang beredar di media sosial, diketahui dengan jelas, bahwa saat bentrok terjadi, salah satu oknum dari aparat kepolisian menyerang dan memukul peserta aksi. Peristiwa bar-bar tersebut terjadi setelah ada aksi saling dorong hingga memakan korban.

Aksi tersebut merupakan serangkaian dari beberapa aksi sebelumnya yang dilakukan oleh seluruh anggota dan kader PMII se-Jember. Mereka menuntut agar Faida segera membentuk GTRA dan RDTR di Kabupaten Jember.

Sebelumnya PMII telah melakukan Aksi dan Hearing dengan DPRD terkait pembentukan GTRA dan RDTR. Namun hasilnya nihil. Pemerintah Kabupaten dan DPRD tidak menggubris tuntutan tersebut.

Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) merupakan perda yang harus dibentuk oleh Pemkab agar kasus reforma Agraria dan Tata Kelola Ruang di Kabupaten Jember memiliki payung Hukum dan cepat teratasi. Namun lagi-lagi pemerintah tidak serius dalam menanggapi masalah ini.

Akhirnya untuk yang ketiga kalinya PC PMII Jember melakukan aksi menuntut percepatan pembentukan GTRA dan RDTR. Faida tidak satu kalipun menemui mereka atau tidak pernah memberikan komentar kenapa pemkab tidak segera membentuk perda tersebut.

Aksi dimulai Longmarch dari UNEJ, DPRD, hingga ke gedung Pemkab. Di depan pemkab terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat. Peserta Aksi menuntut Bupati Faida untuk keluar menemui mereka, namun bupati menghilang dan tidak ada di lokasi. Aksi saling dorong terjadi dan terjadi adu pukul antara mahasiswa dan aparat hingga memakan korban. Ada tiga Mahasiswa yang menjadi korban dan kini sedang dirawat di RS Kaliwates dan RS Soebandi. (azz)


Respon Pembaca.

1 comments:

Alunk said...

Hukum harus tetap berlaku bagi siapapun yang melanggarnya

Post a Comment