PILWALI SURABAYA DIMERIAHKAN OLEH PARA POLITISI GAGAL?


Oleh : Addarori Ibnu Wardi

Menjelang pesta demokrasi, entah apa alasannya, Kota Surabaya sepertinya dimeriahkan oleh para politisi gagal 2019. Bahkan info terkini, ada salah satu "Bupati gagal" ikutan memeriahkan Pilwali Surabaya. Maksud dari gagal itu, sang Bupati terbukti gagal memimpin daerahnya, sebab hampir setiap hari panen demo, dan program-program yang dikampanyekanpun gagal total.

Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, dan hari ini dipimpin oleh Walikota yang luar biasa hebat, seharusnya mampu memunculkan wajah-wajah baru yang tak kalah hebat. Kalau perlu, bisa melampaui Walikota hari ini, Tri Rismaharini. Daerah sebesar Surabaya, tak perlu pemimpin yang hanya sibuk pencitraan. Karena sekali lagi, sebagai kota besar kedua setelah DKI Jakarta, sang Walikota bersin saja bisa tersorot media.

Tolok ukur kesuksesan seorang pemimpin bisa dilihat dari caranya mengambil kebijakan. Tentu Kota Surabaya yang terkenal sebagai Kota Perlawanan, tak akan cocok dipimpin oleh seorang tokoh yang terkesan eksklusif. Karena hal itu hanya akan menutup ruang dialektika publik. Dengan struktur wajah Surabaya yang heterogen, jelas, ruang-ruang diskusi publik dibutuhkan. Lah, kalau pemimpin daerah yang suka membuat statemen ngawur terhadap orang yang mengkritik kebijakannya, tentu sangat tidak cocok.

Selain itu, Surabaya dengan sejumlah anggaran besarnya diperlukan pikiran-pikiran inovatif dari seseorang yang hendak memimpin. Inovasi seorang pemimpin daerahlah, yang seharusnya menjadi rujukan. Bukan soal like and dislike. Jika ada pemimpin yang daerahnya jalan ditempat, bahkan cenderung mundur, namun bersyahwat memimpin Surabaya, tentu sangat kontradiktif dengan spirit yang dibangun oleh Ibu Risma saat ini. Risma, pemimpin yang sangat egaliter dan inovatif.

Selain nama-nama kepala daerah, Bacawali yang saat ini marak di berbagai media ternyata mayoritas berasal dari Caleg gagal, sementara nama para Caleg sukses malah tidak ada yang terekspose. Hal itu membuat publik curiga, jangan-jangan para Bacawali itu tidak serius, hanya tes mercon, atau bahkan mereka punya agenda lain melalui pura-pura maju Pilwali. Yang paling miris, jika alasan mereka 'menyibukan' diri dengan wacana Bacawali Surabaya hanya sebatas menaikan bergaining, atau justru tanda frustasi?.

Kita hargai keberanian para anggota Asosiasi Caleg Gagal (Ascagal) itu maju Pilwali, namun akal sehat selalu bertanya-tanya "lha wong nyaleg saja gagal, kok bertarung di pilwali?". Sebab, syarat menjadi Bacawali Surabaya selain yang disebut sebelumnya tentu dibutuhkan elektabilitas yang cukup. Dan mungkin kita semua sepakat, bahwa pemilih Surabaya merupakan pemilih cerdas. Hal itu terbukti dengan terpilihnya Tri Rismaharini yang berlatar "PNS" biasa mampu mengalahkan nama-nama politisi beken. Tentunya mari kita lihat perkembangan perdetik. Hanya saja, jika hanya bermodalkan popularitas saja, sepertinya tidak cukup ampuh untuk meluluhkan Arek-arek Suroboyo.

*) Penulis adalah Pemerhati Politik Jawa Timur/Aktivis GMNI

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment