Berkat Binaan Ketua PMI SUMUT Dr. H. Rahmat Shah, Muhammad Juara Dunia Di China Di Anugerahi Duta Santripreneur Indonesia 2019.

Jakarta – Ilmuwan muda dunia dan penemu obat kulit untuk manusia dan hewan luar/dalam setelah Viral Vidieonya Di Acara  Hitam Putih TRANS7 dia mengaku setelah viral vidio itu banyak yang konsultasi dan minta pertemanan IG, FB TWITTER dan meminta no yang bisa di hubungi.

“Seminggu ini sudah ribuan orang yang datang dari berbagai daerah” katanya.

Akhirnya Muhammad Ja’far Hasibuan di nobatkan Duta Santripreneur Indonesia pada kegiatan awarding Santripreneur Award 2019 di  Gedung Serbaguna ORYZA Bulog Jl. Gatot Subroto No.Kav 49, RT.5/RW.4, Kuningan Tim Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950 Di Selenggarakan, Minggu (29/9/2019).

Diketahui sebelumnya, Muhammad Ja’far Hasibuan (27) Juara Dunia Di Shanghai China berhasil memenangkan kompetisi para ilmuwan di China Shanghai International Exhibition of Inventions (CSITF) dan WIIPA Special Award World Invention Intelectual Property Association.

Dia berhasil menyumbangkan medali emas dan WIIPA Special Award bagi Indonesia lewat penemuannya yaitu obat kulit untuk manusia dan hewan luar/dalam.

Dianugerahi jadi Duta Santripreneur Indonesia ini berkat dukungan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sumatera Utara Dr. Rahmat Shah selama ini banyak memberikan bimbingan dan motivasi atas prestasi Muhammad Ja’far Hasibuan berawal saya membaca Buku Sejarah Hidup Dr. Rahmat Shah beliau di kenal Dulunya sebagai anak desa atau  kampung seperti saya dia  kepada alam dan kesungguhannya mencegah kepunahan satwa liar yang langka.
Dengan mengenal keanekaragaman satwa liar dunia, Ia menyayangi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan konservasi sebagai anugerah Tuhan SWT yang tak ternilai.

Ia menginginkan pengalamannya yang beragam dan unik, terutama berburu dan bertualang, juga dinikmati orang lain. Lalu, ia mengabadikan semua hewan liarnya yang langka dalam sebuah museum dan galeri satwa liar yang bertaraf internasional. “Rahmat” International Wildlife Museum & Gallery diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Juwono Sudarsono tanggal 14 Mei 1999 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 13 Novermber 2007.

Koleksinya hasil perburuan legal berkonsep lingkungan hidup dan konservasi, hewan-hewan mati di berbagai taman hewan dan kebun binatang, pembelian legal, serta pemberian teman-teman dan sumbangan berbagai kalangan dari beberapa negara. Rahmat juga mendirikan Taman Hewan Pematang Siantar yang pemugaran dan pengembangannya diresmikan Yudhoyono sebagai salah satu obyek wisata di Sumatera utara.

Museum dan gallerynya dicatat record book dan diganjar berbagai penghargaan nasional dan internasional. Rahmat satu-satunya orang Indonesia yang namanya tercatat dalam buku Great Hunter dan orang Indonesia pertama yang memperoleh International Conservation Award, Big Five Grand Slam Award, Dangerous Games of Africa Award, dan World Hunting Award. Dengan Segudang prestasi yang dapat dirasakan manfaatnya bagi ummat Duni jadi tokoh inspirasi saya di sebagai Tokoh Dunia ucap Ja’far kapada wartawan.

Sama sama anak kampung banyak dapat bimbingannya Dari Bapak Dr.Ramat Shah yang sangat peduli prestasi anak bangsa begitu juga Sejak Kelas 4 SD sampai kuliahnya telah mandiri membiayai sekolahnya sendiri, sehingga saat ini telah mendapatkan berbagai penghargaan dari segala perlombaan dan meraih segudang prestasi.

Pada wartawan dia menceritakan kisah hidupnya, biasanya orang-orang memanggilnya dengan panggilan Ja’far. Sejak Kls 4 SD ia mulai mencari uang sekolah bekerja sebagai kuli buruh kasar dari hasil jasa mengangkat barang barang dagangan di pasar atau pekan Aek Godang, Padang Lawas Utara setiap hari minggunya.

Semasa di bangku Kelas 1 MTs dan Kls 3  MAS, ia merintis usaha KUD Kejora bersama pamannya Alm Hasanuddin Hasibuan di Tapanuli Selatan, kisahnya tersebut berawal dari jualan minyak bensin, solar dan minyak tanah sebuah gubuk  pondok kecil.

Dia diasuh uwa’nya dari Kls 1 MTs sambil bersekolah. Tiap hari perjuangan Ja’far sunggung sedih. Ja’far kecil berjuang bantu uwa’nya demi cari uang sekolahnya yang saat itu di Pondok Pesantren Nurul Falah Tamosu Panompuan, mendapat pelajaran dari sang uwa.
“Teringat aku, saat ini uwa’ telah tiada,” katanya pada wartawan, sambil berlinang air mata. Minggu, (29/9/2019)

Saat itu, dimana masa SMP dan SMA memanfaatkan hidupnya belajar berdagang dan menghendel sebuah perusahaan uwanya yang kala itu ja’far masih kecil sudah memegang uang jutaan di percaya oleh uwanya di setiap penjualan dan urusan setor menyetor Ke Bank.
Usai sholat shubuh Ja’far biasa sudah berkemas dan karena Ia sudah di percaya sama uwa’nya, mulai dari aktivitas setor penjualan ke Bank Sumut yang jarak tempuh dari usaha sekitar 27 KM ke Kota Padang Sidimpuan iapun berani.
Padahal, kala itu ia masih di bangku sekolah SMP dan memang betul di tempa uwa’nya selama itu agar anak yang mandiri kelak meningkat menjadi usaha besar.

Seusai tamat MAS (setingkat SMA), ia di berangkatkan ke Medan oleh uwa’ kandungnya Almarhum Hasanuddin Hasibuan tersebut dan dengan hanya berbekal uang ongkos Bus SAMPAGUL Rp.80.000  ke Kota Medan.
Sesampainya ke Kota Medan, ia pun kehabisan uang dan tak tahu kemana arah dan tujuannya, sementara cita – citanya yang ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi harus bisa di gapainya, ia pun lantas tak berputus asa, setelah tiba di Kota Medan, Ja’far pun berkerja di salah satu grosir bahan material bangunan tepatnya di Deli Tua, Toko Samura Jaya.

Setahun pun berlalu, kemudian ia mendaftarkan diri masuk kuliah ke perguruan tinggi. Saat itu ia harus berpikir keras agar mendapatkan uang kuliah yang harus di bayarkan.

Akhirnya, Ja’far kembali berjuang untuk kuliahnya dengan menjumpai sebuah perusahaan roti. Ia pun berkerja sebagai pedagang roti, tanpa gengsi dan tanpa malu, ia mengayuh gerobak sepeda angin (sepeda onthel, red) itu untuk membiayai hidup dan kuliahnya.
Pekerjaan sebagai pedagang roti terus ia lakoni sejak awal kuliah sampai wisuda, kegiatan itu terpaksa ia lakukan demi untuk membiayai hidup dan kuliahnya.

Tidak sampai di situ, sepulang dari kuliah di sore hari, ia pun melanjutkan perjuangan hidupnya lagi dengan berjualan di terminal Amplas, tepatnya di Jalan Sisingamaraja Medan.
Menjajakan barang dagangan rotinya dari loket ke loket. Hampir semua loket bus yang ada di Amplas di datanginya. Berdagang roti itu pun di lanjutkan hingga sampai larut malam, kemudian berlanjut berjualan lagi sampai ke Pasar Simpang Limun, bahkan sampai fajar pagi, ia masih menjajakan dagangan rotinya itu.
Semasa kuliah itu, ia jarang tidur di malam hari, bahkan ia sampai tertidur diatas grobak roti untuk menghabiskan jualannya.


Tiap harinya selama 4 tahun kuliah dan sambil mengerjakan tugas kuliah di atas grobak roti. Ia juga pernah mengalami merasakan saat grobak rotinya di tabrak sepeda motor di waktu malam, grobak roti itu hancur, mulai dari steling kaca semua hancur. Beruntung Ja’far selamat.

Itulah cerita singkat perjuangan hidup Muhammad Ja’far Hasibuan sang Ilmuwan asal Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara yang merantau ke Medan demi untuk membiayai kuliahnya.

Muhammad Ja’far Hasibuan adalah anak ke 2 dari 10 bersaudara, ia terus mengenang getirnya pahit kehidupan ini, seringkali ia tidur diatas grobak rotinya, mengalami perihnya hidup sebagai pedagang.

Ja’far menceritakan, jika pernah suatu hari dagangannya hilang dan terkadang hasil jualanpun pun pernah di curi preman saat ia letih dan tertidur diatas grobak sepeda anginnya itu.

Ilmuwan Muhammad Ja’far Hasibuan adalah salah satu Alumnus Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Pria bertubuh gempal ini lahir pada tahun 1992 di Desa Sampuran Simarloting, Kecamatan Halu Sihapas Padang Lawas Utara.

Kampung halamannya tersebut merupakan desa tertinggal yang sulit dijangkau, karena akses transportasi jalan yang rusak. Walau perjalanan menuju kampus membutuhkan waktu hampir 12 jam dan ditambah pula perekonomian keluarga yang serba terbatas, ia tetap bersemangat menuntut ilmu hingga ke Kota Medan, demi masa depan yang lebih baik.

Berbagai kompetisi dan lomba pun diikutinya, hingga akhirnya berhasil meraih kemenangan. Demikian kisah Muhammad Ja’far Hasibuan, kepada wartawan, minggu, 29/9/2019.

Seperti diketahui, Muhammad Ja’far Hasibuan adalah peraih medali emas berkat penemuannya, Biofar Shrimp Skin Care berupa singkatan dari BIO yang berarti alami, FAR berasal dari penggalan nama penemu Ja’Far, SHRIMP yang berarti udang halus kecil (bahan baku) dan SKINCARE yang mengindikasikan obat tradisional yang mampu menyembuhkan luka maupun penyakit kulit  yakni obat kulit bagi manusia dan hewan.

Yang hadir  diantaranya, yang mewakili presiden, yang mewakili Kemenlu, Kemendagri, Kemenkop UKM, Kemenag, Polri, Perum Bulog, Kemnaker dan Bekraf.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment