MANUSIA SERBA BISA ITU BERNAMA PEREMPUAN


Oleh: Wasilah

Jatimaktual.com,- Berbicara tentang politisme mungkin bagi kebanyakan orang adalah prihal ekstrimisme yang akan sulit di cerna oleh akal. Akan tetapi, bagi sebagian orang hal tersebut merupakan sebuah bentuk reward tersendiri. 

Bagi mayoritas orang, mungkin hal yang wajar jika kaum laki-laki bergelut pada ranah yang satu ini. Akan tetapi, berbeda halnya jika perempuan berada di dalamnya. Mereka (kaum wanita) yang terjun di dalamnya hanya bisa di pandang rendah jika mengurusi negara. 

Bahkan asumsi lainnya pun sering bergumam bahwa makhluk ini merupakan makhluk paling lemah yang tidak akan dapat melakukan sesuatu hal besar atau luar biasa. 

Perempuan merupakan salah satu aset negara yang haus akan keadilan. Mengingat tahun 2019 adalah tahun yang dinanti-nantikan oleh kebanyakan masyarakat. 

Perempuan harus memiliki garda terdepan dalam masalah kognitif mengenai politisasi. Sosok yang memiliki sifat lembut dan pemalu ini sering kali dianggap remeh oleh beberapa lawan jenisnya, karena mengingat tugas wajib perempuan yang hanya berada dalam tiga tempat saja, yakni dapur, sumur dan kasur. Akan tetapi, bagaimana jika perempuan mengambil alih pada jenjang perpolitikan ? sudah tentu bukan hal yang wajar lagi, kebanyakan  persepsi mengatakan bahwa perempuan tidak dapat melakukan apa-apa. Terlebih pula dalam prihal politik. Akan tetapi, banyak juga perempuan yang sudah berkesinambungan dalam hal tersebut. Mulai dari pada era kartini sampai pada saat ini.

Selain fiminisme, perempuan juga berperan penting dalam menyuarakan haknya. Walaupun bagi mayoritas orang, suara perempuan adalah emas yang mengharuskan mereka untuk bungkam dalam hal berbagai hal, termasuk prihal kebenaran. Namun, bagi kalangan perempuan sendiri, suara perempuan merupakan tonggak terpenting dalam suatu negara. 

Hal itu membuktikan bahwa hakikat dari perempuan bukan hanya berdiam diri saja, akan tetapi perempuan juga memiliki peran terpenting dalam menyuarakan apa yang ia kehendaki. Alkhusus dalam ranah politisasi. Perempuan yang menceburkan diri pada ranah ini kebanyakan di sebut dengan perempuan politis. Karena hidupnya lebih banyak di habiskan untuk kepentingan negara.

Sebagaimana yang pernah di sampaikan presiden pertama Indonesia, Soekarno bahwa ranah perempuan ada di seluruh lapisan urusan kehidupan, termasuk politik. Itu sudah menandakan bahwa perempuan memiliki aset penuh dalam hal perpolitikan. 

Akan tetapi, mayoritas perempuan di Indonesia tidak tertarik pada bidang tersebut (anti politik). Walaupun, ada pula yang memilih berkecinambung di dalamnya. Mainshade perempuan Indonesia lebih mengedepankan ketakutan semata. Mereka berpikir, bahwa politik hanya untuk kaum lelaki saja, tidak untuk kaum perempuan. Pemikiran itulah yang kemudian memicu pemahaman ekstrim mereka terhadap urusan perpolitikan. 

Keterlibatan perempuam dalam ranah perpolitikan sangat dibutuhkan. Terlebih dalam urusan kebijakan negara mengenai hak-hak perempuan. Karena hanya perempuanlah yang mengerti masalah perempuan.

Pada mulanya, tugas perempuan hanya sekedar pada tiga tempat saja. Yaitu : masak, manak dan macak. Hal tersebut selaras dengan beberapa argumen yang menyetujui prihal tersebut. Tak terkecuali perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Karena sejatinya, tugas perempuan bukan hanya berkutat pada tiga hal saja, melainkan pada beberapa tugas yang di lakukan kaum lelaki. Bahkan jika kita dapat berpikir lebih keras lagi, semua pekerjaan kaum laki-laki selalu dapat di kerjakan perempuan (misalnya : bertani, membetulkan peralatan rumah tangga dan lain sebagainya). 

Akan tetapi, berbeda halnya dengan laki-laki, tidak semua tugas perempuan dapat di kerjakannya dengan mudah atau bahkan laki-laki sendiri tidak dapat melakukannya (misalnya melahirkan). Hal itu pun sudah membuktikan bahwa perempuan lebih hebat dalam hal melakukan tugas di bandingkan dengan kaum pria.  

Tak hanya itu, menjadi perempuan juga bisa dikatakan gampang-gampang susah. Gampang saat semua yang di jalaninya tanpa kendala. Susah, ketika semua pihak mendoktrin semangatnya untuk berjuang. 


Oleh karenanya, sesuatu yang di ciptakan-Nya di dunia ini pasti ada titik berharganya. Contohnya saja perempuan yang dapat melakukan berbagai tugas dan tanggung jawab dalam berbagai faktor. Baik dalam faktor perekonomian, rumah tangga  bahkan perpolitikan. 

Untuk itu, sudah menjadi hal lumrah ketika perempuan mempunyai satu tempat dalam beberapa faktor tersebut. Akan tetapi, perempuan juga harus menempatkan dirinya dalam keluarga karena tugas utama seorang perempuan yang berkeluarga (istri) adalah bertanggung jawab terhadap rumah tangganya.

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment