BELAJAR DARI SANG KIAI

Oleh : Moh. Arif Billah

Seharian penuh aku beraktivitas sangat padat, mulai dari rapat di lembaga, bersih-bersih rumah, cuci baju, nyiram cabe hias, membuat kukusan jamur tiram ke tukang las, jualan produk jamur tiram, mengetik laporan keuangan lembaga, sampai yang terakhir aku pergi ke rumah pak Purwanto (salah satu pengusaha jamur tiram senior di Bondowoso) untuk belajar bagaimana cara produksi, pengelolaan sampai pemasaran jamur tiram yang baik.

Sekitar 2 jam lebih aku berdiskusi dengan pak Purwanto. Banyak hal yang sudah saya catat di buku catatan kecil saya, dari mulai bagaimana cara memproduksi jamur yang baik agar bisa mendapatkan hasil jamur yang berkualitas sampai bagaimana cara merawat jamur yang sudah tumbuh, bahkan beliau juga menjelaskan bagaimana strategi memasarkan jamur tiram agar bisa mendapatkan hasil yang menggiurkan.

Dari saking nikmatnya berdiskusi sampai-sampai 2 gelas kopi dan 2 pak rokok tidak sadar sudah kita habiskan berdua. Di tengah-tengah enaknya berdiskusi tiba-tiba hanponeku berbunyi sangat nyaring. Setelah aku lihat, ternyata paman sekaligus dosenku di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso yang saat ini beliau sudah bergelar Doktor, Dr. Saeful Kurniawan, S.Pd, M.Pd.I yang menelfonku. "Cong, ada dimana? Bisa gak 10 menit lagi kamu nyampe' ke kediaman KH.Ghozali Utsman (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Utsmani Bedian,Jambesari, Jambesari Darus Sholah, Bondowoso)..?." Tanya paman.

Merasa penasaran, aku balek nanyak ke paman. "Ada apa paman, kayaknya penting banget?." Tanyaku penasaran.

Karena sinyal yang tidak mendukung, suara pamanpun terdengar  krusak krusuk tidak jelas. Dari semua yang paman sampaikan hanya satu yang terdengar jelas. "Be'en edikanin kiaeh (kamu dipanggil oleh kiai). Mendengar yang satu itu akupun segera bilang "siap paman, aku segera berangkat".

Setelah menutup telfon aku langsung pamit kepada pak Purwanto dan langsung tancap gas ke Pondok Pesantren dimana aku dulu mondok.
Sekitar 8 menit kemudian aku sudah sampai di depan kediaman Kiai Ghozali. Satu kali aku mengucap salam, langsung terdengar jawaban dari dalam "Waalaikum salam...masuk Rif." Kata orang-orang di dalam. Tidak lama berselang, paman terlihat keluar dari pintu dan langsung membawaku masuk ke kediaman Kiai. Ternyata di dalam, aku memang sudah ditunggu.
Seperti kebiasaan santri pada umumnya, akupun langsung merunduk dan acabis (salaman kepada kiai). Akupun bersalaman juga dengan pak Lutfi (Sarjana dan Penulis 22 Buku) banyak karya tulis yang sudah beliau terbitkan, termasuk buku *Jejak Sang Uswah* yang sempat viral kemaren. Buku tersebut menceritakan bagaimana rekam jejak dan suri tauladan yang dijadikan uswah oleh banyak kaum santri Indonesia, khususnya santri Al-Utsmani. "Wah...ternyata aku bersama orang-orang yang sangat luar biasa." Begitu terbersit dalam hatiku.

Tak lama berselang diskusi pun dimulai.
Kiai memulai diskusi dengan menyampaikan bahwa beliau sangat ingin untuk mengumpulkan alumni Al-Utsmani yang sudah Sarjana. Akupun ditunjuk untuk mendata secepatnya. Tak perlu berfikir panjang, sebagai santri sekaligus aktivis aku langsung jawab "siap kiai". Sesuai dengan yang diajarkan oleh seniorku di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi kemahasiswaan yang merupakan anak kandung Nahdlatul Ulama'. Saat ini PMII sudah ada di berbagai kampus se-Indonesia, baik yang negeri ataupun yang swasta. Bahkan PMII sudah menembus kampus-kampus di luar Negeri, seperti di German, maroko dan yang lainnya. Hamdun, nama seniorku itu. Beliau bilang "kalo Aktivis PMII harus selalu siap survive di manapun." Begitu kata beliau. 

Setelah menyampaikan keinginannya, lebih lanjut kiai menyampaikan ingin membentuk semacam ikatan sarjana santri Al-Utsmani.
"Saya ingin membentuk perkumpulan santri yang sudah sarjana. Sekarang di pondok kan sudah ada perguruan tingginya, saya ingin yang mengelola adalah santri sendiri." Dauh beliau.

Walaupun beliau tidak bergelar Sarjana, tapi lompatan berfikir beliau melebihi para sarjana. Terbukti dari semenjak beliau menjadi pengasuh, Pondok Pesantren Al-Utsmani semakin memperlihatkan progresifitas kemajuannya. Baik dari segi kualitas dan kuantitas santrinya. Saat ini di Al-Utsmani sudah memiliki PAUD, MTS, MA dengan ditunjang juga oleh fasilitas yang baik. Dan tahun ini Al-Utsmani sudah mendirikan Perguruan Tinggi, namanya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Utsmani). Semua itu dilakukan karena lompatan berfikir beliau yang sangat luar biasa, beliau menyadari bahwa zaman sudah berbeda, seorang santri tidak hanya harus menguasai ilmu agama saja, tapi juga ilmu umum. Hal itu agar santri mampu bersaing juga di tengah-tengah zaman yang semakin maju.

 "Kalo untuk kemajuan pesantren, apa saja saya lakukan. Saya berjualan mobil, kadang jualan ikan laut dan masih banyak yang lainnya. Semua itu aku lakukan demi kemajuan pesantren." Tegas beliau.

Lebih lanjut beliau menyampaikan aku ingat dauh abah (KH.Utsman, Pengasuh pertama PP Al-Utsmani) kepadaku dulu, beliau berkata"cong, degi' bhekal depa' bektonah langngi' bhekal mabhe. (Nak, akan sampai pada waktunya nanti dimana langit akan di bawah/terasa dekat)." dauh Kiai Utsman.

Setelah sekitar 1 jam kami berdiskusi kamipun bermaksud pamitan. Sebelum itu beliau berpesan "teruslan berjuang di pendidikan, teruslah menjalankan penamu dan teruslah membaca. Karena sebab itulah kamu akan hidup selamanya." Pungkas beliau.
Setelah itu kitapun pamit pulang ke rumah masing-masing.

Sekitar jam 23.30 WIB aku baru sampai di rumah. Karena melihat jam sudah hampir tengah malam, akupun langsung merebahkan badan yang sudah sangat capek ini di ranjang sambil terbayang-bayang 2 moment berharga yang terjadi padaku  malam ini. Aku berfikir dan berusaha menarik sebuah kesimpulan. 

Ternyata banyak hal yang bisa aku petik, diantaranya :

1. Manajemen Waktu
Dari beberapa aktivitasku selama seharian penuh, ternyata aku fikir-fikir tidak mungkin akan terlaksana semuanya dengan maksimal tanpa menajemen waktu yang baik. Hal itu aku lakukan dengan menerapkan apa yang aku peroleh dari Dosen sekaligus Pamanku, Dr.Saeful Kurniawan, S.Pd, M.Pd.I di bangku kuliah. Beliau berpesan "sesuatu yang dimanaj dengan baik, maka hasilnyapun akan baik".kata Saeful.

Hal itu juga ditegaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
اَلْحَقُّ بِلاَ نِظَامٍ يَغْلِبُهُ اْلبَاطِلُ بِالنِّظَامِ
“Kebenaran yang tidak diorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang diorganisir.”

2. Aktivis Harus Selalu Siap Apalagi Dalam Hal Kebaikan.
Pertama, saat aku mendengar dipanggil kiaku dari panggilan telefon dengan Pamanku Saeful, aku langsung bilang "siap" dan langsung bergegas ke pesantren Al-Utsmani. Itu semua karena aku yakin bahwa ketika dipanggil kiai, pastilah ada hal sangat baik yang akan aku lakukan.

Yang kedua, saat aku diperintah untuk mengkoordinir alumni-alumni Al-Utsmani yang sudah bergelar sarjana. Aku semakin yakin bahwa yang aku lakukan pasti bernilai manfaat dan kebaikan untuk kemajuan pondok tercintaku. Apalagi yang memerintahkanku adalah sosok yang sangat berkontribusi besar dalam kehidupan dunia pendidikanku selama mondok. Gusdur pernah mengatakan di salah satu stasiun televisi saat ditanya apakah perintah 9 tokoh kiai yang tidak mungkin beliau tolak perintahnya. "Aku diperintah apa saja oleh mereka pasti aku lakukan, masuk api sekalipun aku lakukan." Begitu kata Gusdur. Lebih tegas lagi Gusdur menjawab dengan sangat yakinnya ketika ditanyak "kenapa sampai begitunya gus?". Gusdur menjawab "Karena aku santri mas." Begitulah keta'dziman Gusdur pada Kiainya.

3. Dengan Usaha dan Do'a Semua Bisa
Aku sangat kagum dengan pola kepemimpinan KH.Ghozali Utsman dalam memajukan Ponpes Al-Utsmani, walaupun beliau tidak punya ijazah. SD saja beliau tidak memiliki. Tapi karena kegigihan beliau dalam belajar, membaca, bahkan menulis. Beliau mampu memiliki pola berfikir layaknya profesor. Sebagai seorang Kiai panutan yang banyak dikagumi, usaha dan do'a beliau dalam memajukan lembaga pesantren sudah tidak diragukan lagi.

Dari hal itu, aku teringat dengan ucapan Rocky Gerung, salah satu Tokoh Nasional yang hanya lulusan S1 tapi mampu menjadi Dosen S3. Dia mengatakan "Ijazah Hanya bukti kita pernah sekolah, bukan bukti kalo kita pernah berpikir".

4. Pendidikan Adalah Investasi Masa Depan
Aku dapat memahami kenapa kiai sangat semangat sekali dalam memajukan pendidikan di Al-Utsmani, baik dari segi pendidikan agama dan pendidikan umumnya. Hal itu dilakukan karena beliau sangat menyadari akan begitu pentingnya pendidikan untuk masa depan santrinya.

Allah menegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Mujadalah Ayat 11 :
يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتو العلم درجات
Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan." (QS. Al-Mujadalah : 11)

Selain itu Nabi juga bersabda : 
من أراد الدنيا فعليه بالعلم، من أراد الاخرة فعليه بالعلم، ومن أرادهما فعليه بالعلم
Artinya : "Barang siapa yang mengharapkan dunia maka dengan ilmu, barang siapa yang mengharapkan akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan keduanya maka juga dengan ilmu."

Selain ayat-ayat dan hadist yang banyak menjelaskan tentang pendidikan, tokoh-tokoh nasional dan luar negeri juga banyak yang berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan. Seperti Bung Karno, Proklamator kemerdekaan Indonesia yang mengatakan "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." 
Nelson Mandela juga pernah berkata, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia”.

5. Urgensi Membaca dan Menulis
Dari pesan kiai kepada kami sebelum pulang, bahwa kita ditekankan untuk terus berjuang di pendidikan, terus membaca dan terus menulis. Itu bukti bahwa beliau sangat memahami akan urgensi membaca dan menulis.

Allah SWT memerintahkan kita secara eksplisit melalui firmannya dalam Al-Qur'an surat Al-Alaq ayat 1-5.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ 
خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ 
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ 
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ 
عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 
Artinya : Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah yang maha mulia. yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat tersebut merupakan perintah tuhan kepada kita agar giat membaca. Membaca memiliki banyak manfaat untuk kita, diantaranya : 

  1. Melatih Kemampuan Berpikir. Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam.
  2. Menambah Wawasan dan Ilmu Pengetahuan. Manfaat yang satu ini tidak bisa disangsikan lagi. Dengan membaca, kita akan mengetahui dunia. Ada pepatah mengatakan, “Jika engkau ingin mengenal dunia, maka mulailah membaca. Dan jika engkau ingin dikenal dunia, maka mulailah menulis.”
  3. Menyesuaikan diri dengan kobteks zaman. Dengan membaca pula, kita akan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai pergaulan dan tetap bisa bertahan dalam menghadapi gejolak zaman.


Tak kalah pentingnya dengan membaca, menulis juga memiliki banyak manfaat untuk kita. Sayyidina Ali Bin Abi Thalib mengatakan "Ikatlah ilmu dengan menulis." Lebih lanjut Imam Syafi'i juga mengatakan "Ilmu itu bagaikan hasil panen/buruan didalam karung, menulis adalah ikatannya”.

Betapa manfaat menulis dalam keilmuan tidak dapat terpisahkan karena menulis akan menghasilkan sebuah karya yang akan abadi dan terus mengalir manfaatnya walaupun penulis sudah tidak di dunia lagi. Jika orator akan terkenang akan gaya penyampaian dan beberapa kalimat intinya, penulis lewat tulisannya akan terkenang dengan utuh gagasan pemikirannya dan utuh tersampaikan.

Dalam catatan sejarah saat masa Emas Islam tidak terlepas dari budaya keilmuan membaca, meneliti, menulis dan berdiskusi. Tokoh-tokoh besar Islam sangat produktif dalam berkarya di berbagai bidang. Banyak tokoh Islam yang sampai saat ini terus dipelajari karyanya seperti imam syafii, imam hanafi, imam hambali, imam maliki, ibnu khaldun, Imam ghazali, ibnu sina, ibnu taimiyah dll.

Menulis adalah kegiatan yang sangat penting dalam Islam. Hal ini terbukti kitab Al-Quran sebelum seperti sekarang ini berawal dari firman Allah yang kemudian ditulis dalam lembaran-lembaran pelepah kurma dan kulit binatang. Kemudian lembaran-lembaran tersebut di kumpulkan menjadi kumpulan pada masa khalifah usmani.

Dari beberapa penjabaran di atas bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bedian, 04 Juli 2019.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment