Seberapa besar bahagiamu adalah seberapa dalam rasa syukurmu.

Oleh : Aisyatul Fithriyah
Mahasiswa PBA ( Pendidikan Bahasa Arab ) IAIN MADURA
Semester VI

Jatimaktual.com,- Kebahagiaan adalah suatu hal yang diinginkan setiap manusia. Menjalankan sebuah kehidupan, setiap orang tidak ingin menderita ataupun dengan kesedihan. Apalagi saat tujuan hidup kita tak bisa terwujudkan. Kita tidak pernah tahu apakah ekspektasi dengan realita kehidupan akan berjalan bersamaan atau malah sebaliknya.

Mungkin sewaktu kecil kita bercita-cita ingin menjadi dokter, guru dan sebagainya, namun seiring berjalannya kehidupan arah jalan hidup kita ternyata berbeda dengan cita-cita yang diimpikan. Mungkin kita menginginkan sesuatu namun ada saja hal menhalangi keinginan kita.

Mungkin kita pernah mencintai seseorang dan menginginkan memilikinya dalam hidup kita, namun takdir Allah berbeda. Mungkin kita ingin melanjutkan pendidikan menuju jenjang yang lebih tinggi yang kita impikan, namun kehendak orang tua dan guru berbeda dengan keinginan kita.

Lantas, semua itu adalah kebahagiaan kita yang sesungguhnya ? hilangkah kebahagiaan kita saat semua yang kita impikan tidak bisa terwujudkan ? haruskah kita berputus asa setelah itu semua ?.

Tidak. Kita tidak bisa menganggap semua impian kita, cita-cita kita, seseorang yang kita cintai adalah kebahagiaan kita yang sesungguhnya.

Berputus asa bukanlah alasan kita berhenti melanjutkan hidup karena kebahagiaan kita yang sesungguhnya adalah apa-apa yang kita punya saat ini, apa-apa yang terjadi pada kita saat ini, semua yang Allah takdirkan dalam hidup kita itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Namun kita tidak pernah menyadari itu semua. Kita terlalu mencintai sesuatu dengan berlebihan. Sampai kita tidak sadar ada kebahagiaan sederhana yang dapat membuat hidup menjadi lebih berharga adalah dengan Bersyukur.

Bahagia itu sederhana. Sebuah kalimat yang selalu kita dengar namun memiliki makna yang sangat dalam. Sederhana tidak selalu identik dengan miskin atau biasa-biasa saja.

Orang kaya pun dapat memaknai kesederhanaannya dengan sifat nya yang rendah hati, dermawan, berbesar hati dan tidak sombong. Bukan sederhana dalam hal materi. Orang miskin yang mungkin tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka juga berhak bahagia.

Dengan apa ? Mereka berhak bahagia dengan mensyukuri semua yang sedang Allah berikan pada mereka saat ini dengan saling mengasihi keluarga, sesama dan orang lain. Tidak iri hati atau pun dengki dengan apa yang dimiliki orang lain. Bahkan saat ujian menimpa kita, hanya dengan bersyukur hati kita menjadi lebih tenang.

Karena Allah sedang menguji kita seberapa kuatkah kita? Sampai dimanakah kesabaran kita? Lupakah kita akan nikmat yang Allah berikan pada kita yang tidak mampu kita menghitungnya.   

Hanya dengan bersyukur manusia akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Akan merasakan hidupnya telah cukup dengan nikmat yang Allah berikan meski tidak seperti hal nya orang kaya dengan rumah megahnya, dan mobil mewahnya. 

Mobil mewah, rumah megah, baju mahal bukan syarat-syarat kebahagiaan telah ia miliki. Lalu rumah kumuh, mobil tak punya, baju murah tidak bisa menjadi syarat kebahagiaan telah ia miliki ?.  Miskin dan kaya itu hanya kondisi hidup, sederhana dan bersyukur itu baru bahagia hidup.

Bukankah Allah sudah menjelaskan dalam al-Qur’an “ dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” ( QS. Luqman: 18-19 ).

Mungkin juga bagi kita memenuhi apa yang kita inginkan juga suatu kebahagiaan. Ingin ini, ingin itu dan ingin semuanya dimiliki. Namun ketahuilah dalam suatu keluarga pun akan terlihat keluarga yang sangat bahagia ketika dalam suatu keluarga menanamkan kesederhanaan dan rasa Syukur. Saling mengasihi antar sesama, antar saudara maupun orang lain. Tanpa rasa iri, dengki maupun lainnya. Apapun kondisi kita, tetaplah bersyukur.

Bahkan diantara ribuan kesedihan, kesulitan, kekecewaan dan tumpukan masalah yang kita hadapi, selalu ada hal yang patut kita syukuri sebagai manusia setiap detiknya. Nafasmu? Air matamu ? Kedipan matamu ? Aliran darahmu ? Detak jantungmu ? merupakan tanda kasih sayang Allah yang lebih patut kamu pikirkan bagaimana cara mensyukurinya.

Saat kita dapat mensyukuri hal-hal yang seringkali lewat dari perhatian kita itu adalah gerbang awal menuju kebahagiaan sejati. Yakinkan dirimu saat merasa gagal ataupun kecewa “ Skenario Allah lebih Indah dari Skenario manusia “. Sesuatu yang baik di mata manusia belum tentu Baik di sisi Allah.

“ Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti aza-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim (14) :7).

Apabila kita merasakan bahwa nikmat Allah tak kunjung bertambah, maka tetaplah untuk memperbanyak syukur kepada-Nya. Apapun bentuk kenikmatan tersebut, entah nikmat kesehatan, rezeki, kedudukan, ketenangan keturunan dan apapun itu. Dan apabila kita sebagai hamba-Nya mengingkari nikmat-Nya, maka Allah akan memberikan azab yang begitu pedih pada hamba-Nya yang mengingkari dan tidak mensyukuri setiap nikmat-Nya.

Kebahagiaan itu kita bentuk. Kebahagiaan itu pilihan. Karena sebagaimana mestinya, kebahagiaan itu kita yang tentukan bukan orang lain. Dunia hanya tempat persinggahan sementara, dunia bukan tempat bersenang-senang selamanya.

Allah menguji manusia untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada dunia dan isinya. Untuk itu bersyukurlah. Jangan menjadikan kegagalan hidup adalah akhir dari kebahagiaanmu.

Respon Pembaca.

2 comments:

Dania Fairus said...

Bagus sekali ukh..
Semoga bermanfaat

Nurul faizah assyifa said...

Semangat mbak��

Post a Comment