SANTRI, NYANTRI, NGAJI DI ERA MILENIAL

Oleh : Nur Azizah*

Jatimaktual.com, Opini,- Di kenal dengan istilah "santri"  ketika seseorang memilih bermukim dan mencari ilmu dalam pesantren. Istilah "nyantri" adalah seseorang yang berkeinginan bahkan telah bergelar "santri".

Sedangkan "ngaji" merupakan kegiatan seorang santri di pesantren setiap hari. Bertitle santri adalah sebuah keistimewaan sejati yang dimiliki oleh setiap insani.

Hiruk pikuk yang seringkali terbebani seakan menjadi hal yang telah biasa terjadi bagi seorang santri.

Mulai dari kebiasaan ngantri untuk mandi, ngantri untuk makan, bahkan ngantri dalam berbagai hal yang seringkali membosankan namun terkesan mengindahkan.

Berbicara seorang santri utamanya identik dengan kejian agama yang begitu mendalam. Dimana tiga istilah di atas tidak bisa di hilangkan dari dunia pesantren.

Hal terindah yang banyak menguak pelajaran bagi diri seorang santri adalah ketika mereka jauh dari suasana kenyamanan bersama keluarga baik dalam fasilitasnya bahkan kasih sayangnya.

Itulah mengapa santri di sebut sosok yang sejati dalam mengabdi dan rela mengorbankan diri. Hidup dalam pas-pasan, lontang-lantung cari makan belum lagi nanggung beban hafalan apalagi di tambah banyaknya kegiatan.

Supsib ( Super Sibuk)  adalah gelar yang patut di sandang oleh seorang santri. Kagumnya, kesusahan dan kesedihan yang mereka pendam tidak menurunkan semangat untuk ngaji, belajar, murojaah serta berperan serta dalam kegiatan lain di pesantren.

Terkadang, telatnya kiriman adalah persoalan yang sangat dramastis, belum lagi ketika uang jajan mulai menipis sehingga sunah puasa di lakukan di senin kamis.

Akan tetapi, semua rintangan tidak dapat mengkendorkan semangat dan niatnya. Ketika mereka berniat, maka ia akan bertindak dan ketika mereka betindak maka mereka akan berhasil itulah sosok santri yang tak mengenal frustasi.

Namun, sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat seperti sekarang ini, istilah santri terkadang hanya menjadi pelarian semata.

Pergeseran zaman pun mengarungi pendidikan santri dalam pesantren. Eksistensi dari diri seorang santri dapat dikatakan sudah mulai memudar.

Dimulai dari cara bergaulnya dengan masyarakat, asatidz, putra pengasuh, bahkan dengan pengasuh sekalipun. Rasa "Cangkolang" yang sedari dulu paling di hindari oleh para santri, kini sudah tak pernah di takuti lagi.

Teguran pengasuh yang paling menakutkan akhir-akhir ini hanya di anggap sebagai bahan tertawaan.

Ketika di tanya kenapa memilih jalur untuk nyantri, pada akhirnya jawaban yang mereka lontarkan hanya karena paksaan dari kedua orang tua mereka.

Keanehan dalam diri santri kini sudah banyak bertebaran, pantas saja jika terdapat suatu ucapan masyarakat sekitar tentang mereka " jhe' nyantreh mun tak siap deddih santreh" (Jangan nyantri kalau tidak siap menjadi santri ).

Argumen semacam ini sudah banyak di kenali oleh santri, namun kesadaran dalam menjiwai kesantrian masih terkesan sangat kurang terbenahi bagi mereka.

Padahal seharusnya santri harus bisa bersosialiasi dengan baik, membeberkan ilmunya, santun bahkan dapat mengendalikan kepesatan zaman milenal ini bukan malah sebaliknya.

Tradisi santri di pesantren yang seharusnya banyak membaca buku, kitab, ilmu-ilmu tafsir saat ini rupanya sudah mengalami sedikit kemunduruan.

Hal inilah yang menurutnya bisa berbahaya kepada perkembangan pola pikir kaum santri atau kaum milineal. 

Santri ibarat pondasi dari sebuah bangunan. Saat pondasinya kokoh, maka bangunan nya akan lebih kokoh pun juga sebaliknya saat pondasinya goyah maka bangunan pun tak akan pernah indah.

Selaras dengan perkataan Gus Mus di akun media sosialnya yang mengatakan bahwa "Santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan)," Senin (22/10) Hal itu diungkapkan Gus Mus dalam rangka merayakan Hari Santri yang jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober.

Tentang Santri milenial kini beragam argumen yang tertuang. Semua ini masih tergantung seorang santri bagaimana menyikapinya. Saat ini, argumen kesantrian masih terus menjadi perbincangan. Terkait akhlak, ucapan, keilmuan dan caranya bersosialisasi. Kekhasan seorang santri masih saja terus mencolok di pejuru dunia.

*Penulis Merupakan  Mahasiswi  Prodi Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Madura

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment