PENGANGGURAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh. Nurul Jamila
Mahasiswi IAIN Madura 
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

Jatimaktual.com, - Tahun ini angka pengangguran menurun dari tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan BPS (Badan Pusat Statistik) pada Februari 2018, angka pengangguran mencapai 5,13% yang sebelumnya 5, 33%, yakni jumlah pengangguran kurang lebih 6,87 juta.

Turunnya angka pengangguran adalah suatu capaian yang membanggakan. Selain keberhasilan pemerintah dalam mengurangi angka tersebut, harus berbangga pula pada masyarakat yang sudah mulai bergerak bekerja. Walaupun bergitu, angka pengangguran yang masih 6,87 juta orang tetap perlu kita kurangi lagi. Sebab, angka sebesar itu tetap berpengaruh pada angka kesejahteraan masyarakat.

Atas masalah ini, mengurangi angka pengangguran perlu kita kaji ulang sebab dan mengapa masih banyak dari kita yang tidak mendapat pekerjaan. Padahal,di era Indonesia dalam pasar bebas ini tidak ada yang tidak bisa dikerjakan dan diperjualbelikan. Semuanya hampir nothing impossible.

Masalah Pengangguran

Berkaca pada Asian Game yang digelar tahun ini, menurut Bambang Brodjonegoro (Bappenas) acara tersebut telah mengurangi angka pengangguran. Persiapan Asian Game yang menuntut pembangunan dan renovasi infrastruktur, membuka lowongan-lowongan pekerjaan pada masyarakat luas. Info-info volunter tersebar di berbagai sosial media berangsur-angsur dan besar-besaran. Akhirnya, total volunter (pekerja) mencapai 108.780. Mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5. 05%.

Tapi ini akibat info yang tersebar luas. Siapa pun dari kita bisa saling menawarkan, tanpa batas kalangan dan status. Namun, bagaimana jika tidak ada info semacam itu? Andaikan tidak ada info pekerjaan seperti itu, apakah mungkin 108.780 orang lepas status sebagai pengangguran?

Bertolak dari masalah ini, maka semuanya ditentukan bagaimana mereka atau kita dalam memecahkan masalah. Informasi berbasis internet bersifat praktis, dan teknologi informasi sebagai wadah sudah digunakan hampir semua orang. Jobs.id, Karir.com, misalnya, membantu kita mendapatkan pekerjaan lebih praktis. 

Sayangnya, kesempatan mudah ini tidak digunakan dengan baik. Masalahnya, rata-rata dari kita kurang pintar memecahkan masalah. Kita lebih senang bercita-cita tinggi, tapi hanya sekadar mimpi. 

Salah satunya, peserta didik sekarangdalam memilih jurusanpasti yang dilihat pertama adalahpotensi dan peluang kerjanya yang lebih besar. Orang tua, teman dekat, dan guru sering menyarankan untuk memilih jurusan ekonomi, akuntan, dan guru, namun sebaliknya tidak mendukung mereka supaya lebih rajin belajar atau fokus pada apa yang ditekuni. Alhasil, peserta didik hanya fokus pada pekerjaan, sementara kemandirian, keterampilan keilmuannya, dan pemecahan masalah tidak jadi perhatian. Dengan demikian, dampaknya adalah kebingungan.

Kebingungan ini disebabkan oleh lemahnya pengetahuan, keterampilan, dan pemecahan masalah. Ketiga-tiganya sangat berpengaruh pada angka pengangguran. Karena selain mereka dituntut demikian, perusahaan juga menuntut hal yang sama. Menurut Gilbert, Direktur talenta Google, Google menerima SDM yang bisa memecahkan masalah dan bisa menyelesaikannya.

Dengan demikian, masalah angka pengangguran tidak hanya bisa diselesaikan dengan pembukaan lapangan kerja secara luas, tapi juga ditentukan oleh mereka yang mandiri, terampil, dan pintar memecahkan masalahnya sendiri. 

PENDIDIKAN KARAKTER

Berdasarkan masalah tadi, maka salah satu jalan melahirkan manusia-manusia yang terampil, berpengetahuan, dan pandai memecahkan masalah adalah penanaman pendidikan karakter. Hal ini bisa dilakukan di mana saja, baik di sekolah, universitas, atau keluarga.

Berdasarkan penelitian Darmiyati Zuchdi, (2010)“pendidikan karakter dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi murid-murid karena mereka bisa memahami, menginternalisasi, dan mengaktualisasikannya.”Dalam arti lain, penanaman pendidikan karakter ini bertolak dari karakter-karakter tidak baik yang timbul di masyarakat. 

Pendidikan karakter yang seperti apa? Misalnya penanaman sifat optimis, kerja sama, dan pemecahan masalah. Artinya, jika seandainya siswa, mereka tidak hanya dituntut dapat nilai baik dan berprestasi, tapi selain itu juga dibumbui nilai-nilai keyakinan, kerja sama, dan pemecahan masalah,sampai nilai-nilai itu menjadi karakter mereka. 

Setelah mereka lulus, karakter yang sudah diperoleh dari sekolah, dapat membantu menentukan pilihan mereka. Misalnya, memecahkan masalah kebingungannya dalam memilih jurusan di perguruan tinggi. Bahkan, karakter itu bisa menuntun mereka ke masa depan yang cerah.

Sedangkan pendidikan karakter di rumah tangga, misalnya, orang tua harus membantu anak-anaknya menjadi pribadi yang kuat, mengajarkan cara memecahkan masalah, dan mengajaknya untuk berpikir lebih dewasa.
Pengaruh-pengaruh itu akan dibawa sampai usia dewasa. 

Di usia dewasa mereka bisa leluasa memecahkan masalahnya sendiri, selalu optimis, tidak mudah menyerah. Tidak lagi bergantung finansial pada orang tuanya. Mereka lebih suka mencari pekerjaan sendiri. Sebab, mereka memiliki karakter untuk memecahkan masalahnya sendiri, optimis, dan menjadi pribadi yang kuat.

Mendapat pekerjaan memang tidak mudah. Butuh tahap dan proses yang mungkin lama. Tapi tidak membuat mereka menjadi pengangguran selamanya. 

Pengangguran adalah mereka yang mudah patah semangat, tidak pandai memecahkan masalahnya sendiri, dan hidupnya cenderung santai. Inilah sebenarnya yang meningkatkan angka pengangguran di tanah air kita.

Angka pengangguran berdasarkan BPS yang kurang lebih 6,87 juta tidak hanya disebabkan minimnya tersedianya lapangan pekerjaan, tapi juga disebabkan oleh pribadi-pribadi mereka yang pengangguran.

Tapi, pendidikan karakter memungkinkan angka pengangguran tidak bertambah lagi. Juga, memungkinkan kesejahteraan ekonomi masyarakat merata. Ini adalah salah satu cara yang tidak sulit, bukan? Sekian.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment