PENDIDIKAN HANYA MENGHASILKAN ORANG PINTAR BUKAN ORANG TERDIDIK

Oleh: Qomariyah
Mahasiswi IAIN Madura 

Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

Jatimaktual.com,- Pendidikan adalah sebuah tahapan terukur untuk menggapai level kehidupan sosial yang lebih baik. 

Tanpa pendidikan sulit bagi siapapun untuk dapat memperbaiki level kehidupan yang mereka tempati karena minimnya bekal atau landasan akademis dimana hal tersebut sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses menuju tempat yang lebih baik dan jiwa yang lebih terarah.

Melihat definisi diatas, seharusnya sebagai seorang pelajar yang sudah mengeyam pendidikan di bangku sekolah atau lembaga bertahun-tahun lamanya, bisa mengimplementasikan ilmu yang di perolehnya dalam tatanan syari’at dan negara, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. 

Bukan sebaliknya berbanding terbalik dengan apa yang sudah di pelajari,  demi kepentingan individu atau kelompok sampai melakukan hal-hal yang melanggar undang-undang (Syara’).

Di zaman yang semakin modern dan canggih ini banyak sekali terjadi tindakan-tindakan yang memalukan di negeri ini seperti korupsi, suap, saling tuduh-menuduh sesama ummat beragama (menggunjing, menghasut, sampai mengadu domba) dan masih banyak lagi. 

Namun, anehnya para pelaku tindakan kejahatan tersebut adalah orang-orang pintar yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan universtas yang ternama. Melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, sepertinya ada yang salah dengan pola pendidikan formal di Indonesia dan semestinya harus dikaji ulang.

Pola pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang-orang pintar tetapi sayangnya mereka tidak terdidik dan memiliki budi pekerti yang lemah. 

Akibatnya orang-orang pintar tersebut malah menjadi orang yang bejat, maling dan penindak kaum yang lemah. Padahal seharusnya merekalah yang menjadi penolong dan pemimpin yang baik untuk menciptakan kemaslahatan bagi orang banyak.

Terlebih lagi, saat ini banyak sekali orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama, tetapi tindakan mereka sangat memalukan dan meresahkan masyarakat sekitar.

Contohnya ialah para dewan yang katanya terhormat banyak yang tertangkap tangan karena melakukan korupsi atau penyuapan, bahkan lebih parah lagi tindakan tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan teman-teman mereka yang juga katanya terhormat. 

Bahkan yang lebih miris lagi pada saat mereka tertangkap oleh pihak yang berwajib, mereka malah dengan tenang dan melemparkan senyum yang sangat lebar kepada penduduk masyarakat seakan-akan mereka senang dengan apa yang telah mereka lakukan. 

Bukanya mereka malu dengan apa yang telah mereka lakukan, akan tetapi mereka tidak mengetuhi atau tidak pernah diajarkan bahwa memakan uang yang bukan hak mereka itu adalah perbuat yang tidak baik dan juga haram  hukumnya bagi mereka dan juga keluarganya.

Contoh lain, yang mungkin saja bisa terjadi pada diri kita ialah seringnya berkata bohong kepada  guru, teman, bahkan keluarga. Atau membicarakan temen kita sendiri kepada teman yang satunya, seakan-akan ingin mengadu domba antara keduanya, yang jelas-jelas tidak di perbolehkan dalam agama. 

Meskipun keduanya merupakan hal yang sepele. Tapi, itu merupakan proses pembentukan diri (karakter) untuk masa selanjutnya atau pada masa anak cucu kita. Bisa jadi perbuatan yang di lakukan hari ini terulang kembali kepada anak cucu, yang seyogyanya tidak di iginkan. 

Kesimpulan saya adalah, mendidik seseorang tak hanya ia pintar, tetapi harus menjadi manusia bermoral baik, bermartabat, serta mampu menciptakan kebaruan dalam hidup bermasyarakat dan berbudaya.

Oleh karean itu, sistem pendidikan formal yang ada saat ini harus segera direvisi dengan tidak hanya mementingkan hasil, tetapi lebih mementingkan suatu proses untuk mencapai suatu keberhasilan agar tidak lagi mencetak orang-orang pintar yang memintari, bukannya orang-orang pintar yang mendidik. Serta terciptanya orang pintar yang mempunyai akhlak baik dan mulia.




Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment