MENJADI DA’I DI ERA MILENIAL

Oleh: Mahfud

Jatimaktual.com,- ‘’Aku melihat anak anak yang berpenampilan islami itu membatasi diri mereka , temennya yaa yang gitu-gitu aja kaan? Ga enak lah diajak main..’’ Kata seorang mahasiswi S1 yang menjadi teman sebangkuku dulu di pondok. 

Sebelum paham makna dari Da’i itu kita harus tahu apa yang dibutuhkan di era milenial . Kebanyakan usia produktif memiliki pengaruh besar dalam mencetuskan hal-hal yang mudah viral, terlebih jika bernilai da’wah. Sebagai Da’i di era milenial, yang model orangnya, gayanya, bahasanya sudah gaul, ya harus bisa menyesuaikan diri. Da’i dalam bahasa arab  دعى يدعو دعوةbermakna ‘’ menyeru, mengajak, memanggil’’, di ambil dari sighat isim fa’ilnya yaitu (داعى), Da’i bisa di artikan seorang yang mengajak,memanggil atau yang menyampaikan, tujuan dari Da’i berarti mendapat ‘’follower’’ atau orang yang mau mengikuti, orang yang mau diajak. Pertanyaanya bagaimana caranya? 
‘’ you can’t found the new land with the old maps’’ Sebuah kalimat yang nendang untuk dikaji lebih dalam. 

Bagaimana bisa kita menggunakan cara-cara lama di era milenial? ya bisa sih, tapi kan kurang nendang, artinya di era milenial saat ini tidak terpaku dalam masjid-masjid atau majelis-majelis melainkan dakwah juga ada di ruang publik yang lebih luas dan juga di media sosial, internet, dan ruang-ruang lain di dunia maya. 

Dengan kata lain, ada dimana mana sehingga dakwah dapat menyentuh siapapun. Tidak lagi terfokus pada mereka yang ingin saja melainkan tanpa di niat pun juga bisa di peroleh. Maka dengan demikian dakwah akan lebih membumi dan merakyat.

Pada era kini pula anak muda cenderung untuk memiliki teman sepemikiran dan sepermainan, semangat pemuda saat ini layak untuk diwadahi dalam sebuah komunitas positif. Grup pecinta hobi misalnya, bisa dijadikan media berdakwah di era milenial. 

Menjadi da’i tak selalu berpenampilan kaku , santai aja sama seperti anak muda lainnya. Sehingga kebanyakan anak muda akan nyaman saja berteman dengan si Da’i. Dengan penampilan  yang sama, tapi ladang da’wah lebih luas.

Da’i  diera milenial harus memiliki kreatifitas dan peka , kreatifitas dibutuhkan karna mendakwahi tidak selalu harus dengan ceramah tidak selalu harus mengkaji suatu kitab dan peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh generasi milenial.

Pada umumnya genarasi berusia sekitar  17-37an tahun, mereka lebih tertarik terhadap suatu hal yang baru dan kekininan. Sebagai contoh komunitas, genarasi milenial lebih tertarik dengan branding komunitas di banding datang ke pengajian masjid. Bagi mereka komunitas merupakan wadah untuk saling bertukar pikiran. Salah satu contoh komunitas adalah Yukngaji dan Shift. 

Shift komunitas yang di bentuk oleh seoarng da’i muda bernama Ustadz Hanan Ataki. Beliau menggagas Shift karna prihatin dengan dakwah yang tidak menyentuh kaum muda. Padahal kaum muda di tempatnya yakni Bandung memiliki struktur demografi yang tinggi. Setelah berjalan beberapa tahun akhirnya Shift memiliki pengikut yang besar dan terkenal.

Dari shift kita belajar bahwa genarasi milenial dapat membutuhkan pendekatan yang cenderung berbeda dibanding cara konvensial pada umumnya. Kita membutuhkan suatu formula khusus dalam mendakwahi generasi milenial. Seperti kata Ali bin Abi Tholib RA “didiklah anak mu sesuai dengan zamannya, karena meraka hidup bukan di zamanmu”. 

Maka dari itu seorang da’i harus betul betul paham langkah-langkah penyampaian isi si penda’i tersebut Supaya apa yang tersampaikan bisa di terima dengan baik pada era milenial saat ini.



Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment