Menfaat Dan Asal Mula Istilah Halal Bihalal (Silaturrahmi)

Nama Penulis : Jamaluddin
Program studi : Pendidikan Bahasa Arab IAIN Madura
Semester : Enam (6)
Tempat tanggal lahir : Sampang 06 maret 1998

Jatimaktual.com,- Di momen Idul Fitri kita sering mendengar istilah halal bihalal. Semua keluarga besar berkumpul, ormas-ormas juga merayakan, salahsatunya Forum Mahasiswa Sampang (FORMASA) yang di selenggrakan di Kec. Robetal Kab. Sampang Hari minggu 9 juni 2019, juga organisasi pemerintahan perguruan tinngi salahsatunya IAIN Madura yang di laksanakan kemaren tepat Hari senin 10 juni 2019. 

Untuk melihat suasana suka cita dan terekspresi dari raut muka, prilaku dan suasana yang hanyut dalam kegembiraan. 

Peristiwa itu dipandang oleh penulis sebagai sebuah peluang dan kesempatan, jangan sampai luput apalagi tidak dilakukan dengan baik.
Kegiatan halal bihalal sebagai aktivitas umumnya terjadi di Indonesia, diselenggarakan pada bulan tertentu menurut sistem kalender Islam. 

Acara tahunan sebagai peleburan dosa, permohonan maaf kepada tetangga mulai di lingkungan desa selanjutnya di tingkat kecamatan, kebupaten bahkan provensi. 

Aktivitas keseharian mereka selama satu tahun diakhiri dengan permohonan maaf di antara warga seolah mereka terlahir dari kilometer nol.

Bagi yang beragama Islam, mereka melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan, mereka mengakhiri aktivitasnya dengan malam takbiran. Takbiran dilakukan mulai waktu Magrib akhir di bulan Ramadhan dan semalaman suntuk sampai mereka mengawali shalat shalat idul fitri pada pagi harinya.

Shalat ‘Idul Fitri merupakan kategori shalat yang dianjurkan untuk dilakukan. Setelah selesai rangkaian shalat Idul Fitri mereka mengakhiri dengan kegiatan jabatan tangan yang oleh sebagian orang menyebutnya dengan salaman. Caranya mereka keliling membentuk barisan berjejer seperti dalam shalat berjamaah.

Seorang Imam langsung memandu dan mengawali dengan cara berjalan menghampiri jamaah berjabat tangan satu persatu diikuti jamaah di belakangnya dan berkeliling dari mulai barisan depan ke barisan berikutnya sampai yang terakhir.

Selesai dari acara shalat Idul fitri di masjid mereka bersama-sama ke makam (kuburan) untuk tahlil bersma. Dari makam pulang ke rumah untuk melakukan sungkeman, prosesi meminta maaf yang dilakukan oleh anak terhadap kedua orang tuannya, oleh seorang isteri terhadap suaminya, oleh anak sebagai adik terhadap kakaknya.

Setelah melaksanakan Hari Raya (Idul Fitri) biasanya dilanjutkan dengan acara halal bihalal yang biasanya dilakukan pada hari ke sepuluh setelah shalat Idul Fitri, memperlihatkan rasa senang dan bahagia.

Penafsiran atau pemahaman tentang ayat-ayat al-Quran berupa tema Idul fitri, halal bihalal, minal a’idzin wal faizin, taubat ‘afw, al-shafh dan al-ghufran, penulis mengutip dari buku Wawasan  al-Quran karya Prof. Dr. Quraisy Shihab.

Kata 'Id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa sesuatu yang "kembali" pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula.

Istilah asal mulanya halal bihalal. Pernahkah kita berfikir dari mana asal istilah halal bihalal ini ada pertama kalinya?

Menurut sumber NU Online. Pada tahun 1948 setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945 Indonesia sedang dilanda dengan disintegritas bangsa. Para elit politik saling bertengkar tidak mau duduk dalam satu forum untuk berdamai. 

Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana. Misal seperti DI/DII (kaum Agamis Yang Berambisi Tegaknya Negara Islam) dan PKI yang Berambisi Membawa Indonesia ke blok Timur dengan paham komunisnya.

Saat itu pertengahan 1948 pertengahan bulan Romadhon bung karno memanggil kh wahab chasbullah ke istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya dalam mengatasi situasi politik di Indonesia yang tidak sehat. 

Kemudian KH wahab chasbullah memberikan saran kepada bung karno untuk menggelar silaturahmi, sebab sebentar lagi hari raya Idul fitri. Diamana umat islam disunahkan bersilaturahmi. Lalu bung karno menjawab. Silaturahmi kan sudah biasa, saya ingin istilah yang lain. “itu gampang” Ungkap KH wahab.

Begini, para elit politik tidak mau bersatu karena saling menyalahkan, saling menyalahkan itu kan dosa, dosa itu kan haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram) maka kita halalkan saja. 

Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah halal bihalal. Ungkap KH Wahab.

Dari saran KH Wahab. Inilah kemudian bung karno pada hari raya Idul fitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke istana Negara untuk menghadiri Silaturahim dengan judul Halal Bihalal dan akhirnya semua bisa duduk bersama dalam satu meja dalam babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment