KEMANAKAH BUDAYA MEMBACA UMAT ISLAM?

Oleh: Faiqotul M, mahasiswa semester 7 IAIN Madura

Disadari atau tidak, generasi saat ini dalam kondisi rabun membaca dan pincang menulis. 

Sebagaimana yang dilansir https://kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media, UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada diurutan kedua dari bawah soal literasi dunia. 

Berawal dari guru bahasa Indonesia yang lebih senang mengajarkan bahasa melalui pendekatan soal. Akibatnya, minat membaca tidak terbangun. Alih-alih terbangun, ketika menghadapi soal wacana, siswa lebih sering memainkan trik menjawab soal tanpa harus membaca tuntas. Asyiknya, metode itu selain efisien waktu juga ternyata cukup jitu. Jadi tidak heran jika saat ini kemampuan literasi sangatlah minus.

Menurut Pak Anies Baswedan, hanya ada 1 yang memiliki minat baca dari 10.000 orang. Buktinya, perpustakaan di Indonesia banyak buku tetapi sepi pengunjung. 

“Perpustakaan di sini (red; Indonesia) lebih sering mendapat tamu debu yang mengisi celah-celah buku ketimbang pengunjung budiman. Jika pun ada, hanya untuk menikmati wifi yang tersedia” ucap guru tugas dari DALWA saat menafsirkan lafadz Iqra’ dalam sebuah kesempatan.

Sayang sekali, padahal membaca merupakan anjuran dalam Islam, pun merupakan tradisi Ulama-ulama terdahulu dalam memperoleh ilmu. Kita dapat mengambil ibrah Imam An-Nawawi dalam setiap harinya membaca sebanyak 12 pelajaran di hadapan gurunya (Lih; Qimatuz Zaman ‘Indal Ulama’: 72).

Kemudian, dibukukannya Al-Qur’an pada masa Sahabat bukan tanpa tujuan, yakni agar generasi berikutnya membaca. Apalagi Al-Qur’an berabad-abad yang lalu ayat pertama turun adalah Iqra’ (bacalah!). Dalam ilmu simantik, jika setelah fi’il amar tidak ada objek maka berfaidah general yang berarti apa saja yang disuka. 

Sangat ironis, umat yang kepada mereka diutus seorang Nabi yang mendapat wahyu perintah untuk membaca tetapi kenyataannya jauh dari harapan. Padahal Iqra’ adalah proklamasi tentang pembebasan dari kejumudan. Padahal Iqra’ adalah yang mengantarkan Umat Islam memasuki era peradaban.

Barron Carra de Vaux, mulanya meremehkan kapasitas dan kualitas intelektual umat Islam, tetapi kemudian mengakui dengan jujur: “Orang-orang Arab (red: Umat Islam) benar-benar telah mencapai suatu yang besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Kendatipun mereka tak menemukannya, mereka mengajarkan penggunaan tanda-tanda (yakni sistem angka Arab) yang sebenarnya mereka dapat dipandang sebagai penemu Aritmatika kehidupan sehari-hari.” 

Sudah diketahui bersama, bangsa Barat mengalami kemajuan pesat karena membaca mahakarya cendikiawan Muslim. Usut demi usut pada abad ke-8 sampai abad ke-11 mereka sedang dalam keadaan dark ages. Hal ini menjadi bukti bahwa membaca adalah peradaban. Membaca adalah menghidupkan kehidupan. 

Bacalah! Maka kita akan mengenal gagasan-gagasan besar.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment