Kebahagiaan Orang Tuaku Dan Secarik Koran Di Ramadhan

Oleh: Nur Azizah

Jatimaktual.com,- Aku terlahir dari kedua orang tua yang begitu hebat. Dalam pelosok desa yang masih penuh kicauan burung, kehijauan dan alamiah desa sesungguhnya disanalah tempat tinggalku. Keluargaku sangat sederhana. Enam anggota keluarga dalam satu rumah membuatku merasa begitu sempurna. Aku dapat dikatakan orang paling sempurna di keluargaku. Sempurna karena memiliki kakak laki-laki, kakak perempuan, dan adik laki-laki. 

Semasa aku menempuh pendidikan Sekolah Dasar, tepat pada saat aku menduduki bangku kelas lima, kakakku pergi meninggalkan rumah. Ia memilih untuk membahagiakan orang tuaku dengan mencari pekerjaan. Keluargaku sederhana. Semua putra putri ayah nan ibu pasti akan di masukkan ke pesantren ketika pendidikan di SD telah usai. 

Begitupun dengan aku. Enam tahun di pondok tercinta aku hempaskan segala cita dan pengetahuan. Bermula dari cita yang tak pernah sampai bahkan cita yang kini telah sampai. Darinya aku tau bagaimana perjuangan , pengabdian  dan kemelaratan sesungguhnya. 
Aku mulai dewasa. Kelas pun mulai sudah menua. 

Lagi-lagi kaka perempuanku yang kini memilih melepas kewajiban seorang orang tua terhadap anaknya. Ya, Kaka perempuan ku memelih menikah dengan seorang pria pilihan nya. Keinginanku terbantah oleh kedua orang tuaku untuk melanjutkan pengabdian setelah pelulusan kala itu. 

Aku merasa tertekan dengan keputusan itu hingga akhirnya aku terlemparkan ke institut agama islam negeri madura. Disana aku mendapat gelar mahasiswi yang tak pernah aku mau sebelumnya. Hingga pada akhirnya saat ini aku telah menduduki semester tua. Ya, semester enam. Yang dapat terbilang bahwa tugas mulai membludak. Mulai dari penggarapan proposal dan tugas mata kuliah lainnya.
Ramadhan lagi-lagi menjadi alasan membuat keluargaku bahagia. 

Selasa, malam ke-10 Ramadhan. Sekitar jam 20:45 

Setelah pulang dari musholla tempatku tarawih, aku gapai handphoneku yang tengah berada di kamar. Rupanya masih saja sama, nothing messege penting yang aku tunggu akhir pekan itu. Biasanya messege penting bagiku di hari biasa adalah messege dari kurir pos, JNT, bahkan JNE karena memang dari merekalah aku tau paketan yang aku jasakan sudah sampai tidaknya pada costumerku. Namun kala itu, messege dari mereka adalah hal biasa bagiku. 

Jelang 5 menit aku kembali membaringkan handphoneku di atas bantal. Dan aku memilih untuk merevisi proposal perkuliahan sesuai dengan bimbingan dari dosen pembimbingku. 

Tiba-tiba terdengar suara notification aneh yang berasal dari handphoneku. Tadinya aku sempat tidak percaya bahwa notification itu berasal dari handphoneku. 

Namun keraguanku di tepis dengan sebuah firasat yang amat dalam.

Kembali aku ambil handphoneku dan membiarkan revisian proposal itu terbengkalai sementara. Aku pandangi layar utama handphoneku. Ternyata ada message email masuk. Segera aku buka message itu, dan ternyata file berbentuk pdf itu membuatku membludak bahagia. " Ya Allah .. Karunia yang mana yang belum Engkau berikan pada hambaMu yang hina ini di bulan suciMu". Ujarku dalam hati. Aku tidak tau harus bagaimana kala itu. Rasanya semua itu bukan nyata namun fana. 

Akupun memilih diam, menghela napas panjang sembari mengingat impian dulu semasa di pesantren. 

Dulu, aku pernah berkata pada ibu waktu ibu menyambangiku ke pesantren tentang impian yang mungkin menjadi bahan tertawaan bagi semua orang. "Bu .. Aku ingin masuk koran, sekalipun hanya sekedar foto bukan tulisan". Ucapku dulu pada ibu. 

Tanggapan ibu hanya seulas senyum mesra padaku, tapi dalam senyumnya ada makna dan doa yang ridha pada setiap langkah putra putrinya. Aku memang hobi menulis, namun kehobianku hanya sebatas pengetahuanku saja. 

Dan kini, aku telah mencapainya. Berada di koran baik foto maupun tulisan. Ini masih awal dari sekian banyak harapan. 

Keesokan harinya, aku minta tolong pada kaka iparku untuk membelikanku koran edisi terbaru. Jelas tanggapnya pasti koran di hari rabu. Ia sempat menanyakan, tumben-tumbenan beli koran. Namun aku memilih diam dan menyodorkan uang kepadanya. Perbincangan seputar koran pun mulai di ketahui oleh kaka ipar setelah dia membeli koran pesananku. 

Terdapat ucapan congrats dimana-mana. Baik dari kakak ku, yundaku, adikku, kakak iparku bahkan dari kerabat dekat, teman dekat dan orang yang tak pernah aku kenali sebelumnya. 
Sepulang kuliah aku langsung bergegas membuat masakan untuk buka puasa. Aku tidak membiasakan ibu membantuku memasak, selagi aku ada dan aku bisa. 

Singkat, adzan maghrib pun berkumandang.
Suasana dari awal sampai akhir buka puasa kali ini berbeda. Entah ada apa, padahal aku belum memberi tahu kedua orang tuaku terkait koran yang sengaja aku letakkan di lapisan sajadah. 
Setelah sholat magrib berjamaah selesai. 

Aku berkata pada ibu " Bu.. Ibu tau tidak ini siapa ?". Tanyaku sembari menyodorkan secarik koran sambil menunjukkan fotoku yang terpampang di koran itu. "Alhamdulillah .. Akhirnya yang kamu impikan terkabulkan". Tanggapnya. 

Ibuku terlihat amat bahagia. Ayahku mulai penasaran dengan secarik koran yang ibu pandangi. Hingga akhirnya ayah meminta pada ibu untuk berbagi. Aku bahagia mendapati mereka bahagia. Karena aku bukan siapa-siapa tanpa mereka. 

Thank's you so much for your inspirition ..


*Penulis merupakan mahasiwi IAIN Madura 
( Pendidikan Bahasa Arab)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment