Hukum Riba Mulai Tak Diperhatikan

Jatimaktual.com,- Seiring berkembangnya zaman, ada banyak problematika hidup yg sekian waktu banyak merubah insting seseorang sebagai wujud kesenangan duniawi, khususnya masyarakat muslim indonesia, seakan akan agama mulai tidak diperhatikan lagi, bahkan tak sedikit orang yang sudah dirusak oleh perasaan duniawi. 

Ada banyak cara yang dilakukan seseorang agar memenuhi kepuasan hidup demi kesenangan pribadinya dan menyengsarakan saudaranya. 

Diantara yang menjadi kendala kerusakan hidup seseorang khususnya masyarkat muslim adalah merajalelanya praktek riba. 

Bagi para penggila dunia, kehidupan dunia akan terasa hambar apabila tidak dilakukannya praktek riba, dan kini riba semakin merajalela dan tersebar dimana-mana. 

Hutang piutang memang adalah hal yang wajar dan biasa dilakukan oleh setiap orang, bahkan agama pun tidak melarang mengenai hutang piutang dan juga bermuamalah. 

Akan tetapi jika dilakukannya praktek ribawi, maka hal yang seperti ini yang menyebabkan rusaknya umat beragama khususnya masyarakat muslim indonesia. 

Pemikiran manusia yang beranggapan bahwa mereka  tengah ingin menolong sesama tapi di belakanya ia juga ingin mendapatkan keuntungan untuk menambah harta mereka dan memperkaya dirinya. 

Dalam islam Allah sudah mengharamkan yang namanya riba, pelarangan riba dalam islam seperti pelarangan minuman keras. 

Yakni bahwa pelarangan terhadap riba berlangsung secara bertahap, sebagaimana larangan bagi semua orang minum khamr. 

Hal ini juga merupakan bukti bahwa islam berprinsip pada penentuan suatu hukum secara berangsur-angsur. 

Adapun pelarangan riba dapat dikelompokkan menjadi empat tahap yang masing-masing didasarkan pada ketentuan ayat al-qur’an. 

1. Menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqorrub kepada Allah SWT, yaitu melalui firman Allah dalam surat ar-Rum ayat 39. 

Yang artinya:

“Dan suatu riba yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. 

Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah (maka yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahala).”

2. Riba digambarkan suatu yang buruk, yang disertai pula dengan ancaman yang keras kepada orang yahudi yang memakan riba. 

Hal ini terdapat dalam al-qur’an surat An Nisa ayat (160-161).

“Maka disebabkan kedzaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan di sebabkan mereka memakan riba, padaha sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan yang bathil. 

Kami telah menyedian untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”

3. Riba diharamkan dengan dikaitkan kepada sesuatu tambahan yang berlipat ganda. 

Hal ini terdapat dalam al-qur’an surat Ali Imron ayat (130), yang artinya:

“Hai orang-yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berliapat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

4. Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. 

Hal ini terdapat dalam al-qur’an surat Al Baqarah ayat (278-279), yang artiny:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. 

Maka kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
Dapat kita lihat bahwa keempat diatas adalah tahap yang benar-benar secara jelas dan tegas mengaramkan apapun jenis tambahan yang di ambil dari pinjaman. 

Adanya larangan riba bukan berarti islam melarang manusia untuk mendapatkan keuntungan secara materi. Rizki harus dicari, tentu saja melalui jalan yang dirdhai oleh Allah SWT. Jadi, Kita perlu sadar bahwa riba adalah sesuatu yang dapat merugikan diri kita sendiri, bahkan juga dapat menyengsarakan diri kita dan orang lain. 

Jadi umat islam saat ini dapat dikatakaan menghadapi tantangan yang cukup berat. Di sisi ia harus mampu mengikuti perkembangan global dibidang ekonomi dan teknologi, Sementara di sisi lain ia juga harus berpegang teguh pada ketentuan yang ada dalam syari’at islam.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment