Hilangnya Kemulian Adab Penghafal Al-Qur’an

Jatimaktual.com,- Menjadi seorang penghafal Al-Qur’an yang sejati dibutuhkan tekad, usaha dan niat yang lurus dari awal proses menghafal hingga akhir. 

Ketika memulai menghafal alquran berarti secara tidak langsung  saat itu juga dibebankan kepada  kewajiban untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Al-Qur’an sampai akhir hayat.

Terlepas dari banyaknya cobaan yang dialami seorang penghafal Al-Qur’an selama proses menghafalnya maka wajib pula untuk selalu meluruskan niat. Tidak sedikit dari mereka memiliki niat yang lurus diawal, namun seiring berjalannya waktu niat mereka menjadi belok atau melenceng. 

Maka memperbarui niat harus sering-sering dilakukan selama proses menghafal maupun muraja’ah (mengulang hafalan). Kitab Al-Qur’an sejak diturunkan dan merupakan mukjizat sang reformasi dunia, nabi Muhammad SAW sudah mulai dikenal dan dihafal oleh umat islam. Para sahabat nabi berlomba-lomba untuk menghafalkan Al-Qur’an dan menjalani hidupnya dalam nuansa Qur’ani. Seiring berjalannya waktu penghafal Al-Qur’an mulai meningkat pesat. Diberbagai belahan dunia sudah banyak didirikan markas untuk para penghafal Al-Qur’an.

Di era reformasi 4.0 ini banyak sekali penghafal Al-Qur’an yang menghafal tidak ditujukan hanya kepada Allah SWT semata, sebagian mereka menghafal karena tuntutan orang tua, tuntutan pesantren, atau hanya mengharapkan ijazah guna mendapatkan beasiswa yang memang disediakan kepada para penghafal Al-Qur’an yang kini menjamur dibanyak lembaga atau universitas di negara ini. 

Parahnya ketika menghafal Al-Qur’an bukan lagi suatu hal yang dianggap sakral dan lebih dianggap menjadi sebuah tren masyarakat tanpa didasari oleh kesiapan diri menjadi seorang yang benar-benar menjaga kemuliaan Al-Qur’an. 

Dari kesalahan niat ketika menghafal Al-Qur’an inilah, berujung kepada hilangnya adab-adab penghafal Al-Qur’an seperti yang telah dicontohkan para ulama salafus sholeh dimasa dahulu.

Allah SWT telah banyak menyebutkan kemulian dan keistimewaan penghafal Al-Qur’an dalam kitab-Nya begitu pula melalui hadits-hadits nabi, Namun alangkah baiknya tidak lupa pada ayat berikut ini: 

'Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar' (QS.Fatir: 32)

Melalui ayat diatas dapat diketahui bahwa mereka terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, Dia adalah orang yang melalaikan sebagian dari pekerjaan yang diwajibkan atasnya dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan.

Kedua, Dia adalah orang yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan atas dirinya dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, tetapi adakalanya dia meninggalkan sebagian dari hal-hal yang disunatkan dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang dimakruhkan.

Ketiga, dia adalah orang yang mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunatkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian hal yang diperbolehkan.

Lalu bagaimanakah adab-adab seharusnya penghafal Al-Qur’an seperti yang dicontohkan para sahabat nabi? Disebutkan dalam kitab attibyaan fii adaabi hamalatil qur'aan karya Imam An-Nawawi, Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: “Hendaklah penghafal Al-Qur’an menghidupkan malamnya dengan membaca Al-Qur’an ketika orang lain sedang tidur dan siang harinya ketika orang lain sedang berbuka. 

Hendaklah dia bersedih ketika orang lain bergembira dan menangis ketika orang lain tertawa, berdiam diri ketika orang lain bercakap dan menunjukkan kekhusyukkan ketika orang lain membanggakan diri.” 

Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali ra, katanya: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu, menganggap Al-Qur’an sebagai surat-surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenungkan pada waktu malam dan mengamalkannya pada waktu siang.”  

Begitu pula diriwayatkan dari Al-Fudhail juga, katanya: “Penghafal Al-Qur’an adalah pembawa bendera Islam. Tidaklah patut dia bermain bersama orang yang bermain dan lupa bersama orang yang lupa, serta tidak berbicara yang sia-sia dengan kawannya untuk mengagungkan Al-Qur’an.” 


Hafidz Al-Qur’an yang sejati seharusnya menghindari maksiat yang menyebabkan hilangnya hafalan, karena diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Ditunjukkan kepadaku pahala-pahala umatku hingga (pahala) kotoran yang dikeluarkan seseorang dari Masjid. 

Dan ditunjukkan kepadaku dosa-dosa umatku. Maka tidaklah kulihat dosa yang lebih besar daripada surah atau ayat dari Al-Qur’an yang dihafal oleh seseorang, kemudian dilupakannya.” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi) semoga menjadi hamba yang dimuliakan Allah SWT dengan Al-Qur’an dan dijauhkan dari golongan yang dinistakan Allah SWT dengannya. Wallahu a'lam bisshowab.




Penulis. AYU NUR AINI
Prodi: Pendidikan Bahasa Arab
Semester: 6
Kampus: IAIN Madura

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment