Persepsi Masyarakat Terhadap Jilbab Syar'i Perempuan

(Studi Kasus Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan)
Oleh : Nur Azizah
Mahasiswi IAIN MADURA
@nuyyjija@gmail.com

ABSTRAK

Pembahasan  seputar  jilbab  muslimah  sebenarnya  bukanlah hal yang  baru.  Wacana  ini  telah  banyak  diperbincangkan  baik  oleh  ulama  klasik maupun  ulama  kontemporer  dengan  menggunakan  berbagai  metode  dan pendekatan  yang  berbeda. Tujuan penelitian ini tidak lain untuk mengetahui persepsi masayarakat terhadap Jilbab syar'i Perempuan di Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. 

Jenis penelitian ini adalah penelitian sosial budaya (PSB) dengan tipe kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang diamati menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dari kelompok petani yang diamati selama melakukan penelitian ini. Dasar penelitian yang digunakan adalah studi kasus yaitu tipe pendekatan dalam penelitian yang penelaahannya kepada satu kasus yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komperehensif. Sedangkan Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata, dan penjelasan tentang persepsi masayarakat terhadap Jilbab syar'i perempuan di Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masayarakat terhadap Jilbab syar'i perempuan bervariasi, ada yang negatif ( Tidak terima ) dan juga ada yang positif ( Menerima ). Sebagian masyarakat yang tidak terima dengan Jilbab syar'i yang di pakai oleh perempuan di desa tersebut seringkali mengucilkan, hal ini berbeda dengan masyarakat yang merespon secara postif.

Keyword: Persepsi, Masyarakat, Jilbab syar'i perempuan.

PENDAHULUAN

Penampilan adalah salah satu cara untuk menunjukan identitas seseorang. Baik identitas yang menunjukan pekerjaan maupun agama. Akan tetapi tidak semua orang  menunjukan identitasnya secara  langsung.  Indonesia  merupakan  negara  kepulauan yang  memiliki  beragam  budaya  ras,  suku  pun  agama. Para wanita di beberapa belahan dunia mengenal dan  memakai busana muslimah, tentunya dengan mode, bentuk, ukuran, corak dan warna, serta aturan bahkan niat yang berbeda. 

Fenomena penggunaan busana muslimah di kalangan wanita muslimah , khususnya di Indonesia, mengindikasikan kesadaran muslimah yang  tinggi dalam beragama  atau  hanya  sekedar  tren  berbusana  belaka.

Perempuan selalu menarik untuk terus diperbincangkan. Dan perempuan adalah makhluk yang sangat unik, sehingga setiap apapun darinya sangat menarik untuk dibahas. Al-Qur’an menyebutnya dalam satu surat khusus tentang wanita yaitu pada QS. al-Nisa’ atau biasa disebut dengan al-Nisa’ al-kubrâ .Terlalu banyak  hal  yang  harus  diselesaikan  kaitannya  dengan  manusia  yang  telah dinobatkan  Allah  sebagai  hiasan  dunia  ini. Seperti yang telah  termaktub  dalam  ayat berikut.

Artinya:” Dijadikan  indah   pada  (pandangan)  manusia  kecintaan  kepada  apaapa  yang  diingini,  yaitu  wanita,  anak,  harta  yang  banyak  dari  jenis emas,  perak,  kuda  pilihan,  binatang-binatang  ternak  dan  sawah ladang.  Itulah  kesenangan  hidup  di  dunia,  dan  di  sisi  Allah  tempat kembali yang baik” (QS. Ali Imran 14).

Nabi Muhammad SAW juga mempertegas dalam sabdanya,
Artinya: ”Dunia  adalah  kesenangan.  Dan  paling  baiknya  kesenangan  dunia adalah Perempuan” (Muslim: 2. 1090)

Melihat  perempuan  dalam  bentang  kesejarahan,  maka  akan  melihat konstruk budaya  yang membuat perempuan tertekan. Perbudakan, pemerkosaan, pembunuhan seakan-akan melekat pada  diri  mereka, dan hal ini hampir terjadi di semua peradaban, seperti Cina, Persia, Romawi, dan Arab  (Quraisy; 296). 

Namun dengan  terbukanya  kran  kebebasan,  makanya  lalu  mereka  terlahir  secara  bebas, atau mungkin bisa dilihat tanpa kontrol.  Hak-hak  yang dulu tidak mereka dapat sekarang  sudah  bisa  mereka  nikmati. 

Tema  Jilbab  tidak  pernah  kering  untuk  dibicarakan dan diteliti. Jilbab menjadi sebuah simbol agama yang sudah melahirkan banyak polemik di kalangan umat Islam sendiri. Pakaian  yang  dikenakan  di  sekitar  kepala  itu  membawa perdebatan  panjang  di  kalangan  aktivis  dan  cendekiawan gender  (Engineer,  2003:  103).  

Cara  berpakaian  seseorang tentu  mencirikan  penampilan  fisik.  Nilainilai  agama,  kebiasaan,  tuntutan lingkungan,  nilai  kenyamanan,  semua  itu mempengaruhi  cara  kita  berdandan (Mulyana, 2008: 29). 

Seiring  berjalannya  waktu,  gaya  busana  perempuan  indonesia condong  ada  perubahan.  Dengan  arus  globalisasi  yang  tumbuh  pesat  sehingga pada akhirnya pengaruh dari luar masuk. Misalnya, gaya busana barat yang sudah mulai digandrungi, pakaian terbuka sudah mulai disenangi. Sehingga muncullah istilah  pakaian  you  can  see.  Yang  seharusnya  tertutup  akhirnya  terbuka,  yang seharusnya tidak layak dipertontonkan sekarang sudah menjadi hiburan mata para laki-laki. 

Di waktu yang bersamaan pengaruh arab juga semakin besar. Berjubah, jenggot, jilbab syar’i, dan juga  cadar  merupakan  salah  satu  ciri  khasnya.  Hal-hal  tersebut  bagi  mereka adalah  untuk  menjalankan  syari’at  Islam  sebagaimana  yang  dipraktekkan  oleh Nabi  Muhammad. 

Fenomena  yang  terjadi  saat  ini  banyak  perempuan  yang  memakai jilbab syar’i dikalangan muslimah, menurut Shihab (dalam Mailani, 2013) jilbab syar’i dalam Islam adalah jilbab  yang  tebal  dan  longgar  yang  menutup  semua  aurat  termasuk  wajah  dan  telapak tangan. Memakai  jilbab syar’i  bukanlah  sekedar  budaya  Timur Tengah,   namun  juga merupakan budaya  Islam  sebagai  pewaris  para  nabi  yang  memberikan  pengajaran  kepada  seluruh  umat Islam,  bukan  kepada  masyarakat  Timur -Tengah  saja. 

Jilbab  menurut  Ibn Arabi  dalam  tafsirnya  adalah  pakaian  yang  menutupi seluruh  tubuh .Keberadaan perempuan memakai jilbab syar’i masih belum dapat diterima secara penuh oleh masyarakat, terdapat persepsi negatif dan positif dari masyarakat terhadap penggunaan jilbab syar’i yang dipakai oleh perempuan. Masyarakat juga beranggapan bahwa perempuan yang memakai jilbab syar’i  hanya kedok belaka, juga ada sebagian masyarakat yang menggagap jilbab syar’i hanya alat untuk menutup-nutupi kejelekanya, istilah “sok alim” pun terkadang seringkali dilontarkan.

Berbeda dengan tanggapan masyarakat yang positif, dimana dalam persepsinya terdapat anggapan bahwa pemakai jilbab syar’i adalah perempuan yang patuh terhadap agama, dan bentuk persepsinya juga terdapat sebagian masyarakat yang menirunya.  

Selama sebab-sebab  perbedaan pendapat itu masih ada, maka ikhtilaf (perbedaan pendapat) itu akan senantiasa ada diantara manusia, sealipun mereka sama -sama muslim, patuh pada agamanya, dan ikhlas. Bahkan kadang-kadang komitmen dan keikhlasan terhadap agama menyebabkan perbedaan pendapat itu semakin tajam.

Masing-masing pihak ingin mengunggulkan  dan  memberlakukan  pendapat  yang  diyakininya. Perbedaan    pendapat    itu   akan   terus   berlangsung selama  nash-  nashnya sendiri  yang   merupakan   sumber   penggalian  hukum  masih   menerima   kemungkinan perbedaan   pendapat  tentang  periwayatan  dan  petunjuknya,   selama pemahaman dan kemampuan manusia untuk mengistimbath (menggali dan mengeluarkan) hukum masih  berbeda-beda,  dan  sepanjang   masih  ada kemungkinan    untuk    mengambil zhahir nash atau kandungannya, yang tersurat maupun yang tersirat, yang rukhshah (merupakan  keringanan)  ataupun  yang  'azimah  (hukum  asal),  dan yang  lebih  hati-hati  atau yang lebih mudah.

LANDASAN TEORI
PERSEPSI

Persepsi adalah terminologi yang berasal dari bahasa Latin perceptio atau percipio yang memiliki makna tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tetang lingkungan. 

Sementara itu, definisi persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai dalam dua pengertian. Pertama, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Kedua, persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.

Menurut Bimo Walgito, persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya . 

Menurut  Mulyana  (2005:167-168),  persepsi  merupakan  proses internal yang  memungkinkan  kita memilih,  mengorganisasikan  dan menafsirkan  rangsangan  dari lingkungan  kita  dan  proses  tersebut yang  mempengaruhi  kita.  Dari penjelasan  Mulyana  ini  dapat disimpulkan  bahwa  persepsilah  yang menentukan  kita  memilih  pesan  dan mengabaikan pesan yang lain . 

Sedangkan Menurut  Lindzey dan Aronson, Persepsi merupakan suatu  proses  yang  terjadi  dalam diri  seseorang  yang  bertujuan untuk  mengetahui, menginterpretasi  dan mengevaluasi  objek  yang dipersepsi,  baik  sifat,  kualitas ataupun  keadaan  lain  yang  ada dalam  objek  tersebut  sehingga terbentuk  gambaran  mengenai objek tersebut .

Dapat disimpulkan bahwa faktor fenomena  sosial  berdasarkan  kognisi dan  kategorisasi  situasinya,  kemudian mengorganisasikan  dan  menafsirkan stimulus yang selanjutnya menimbulkan tanggapan dan sikap serta perilaku yang terbentuk.  Persepsi  berkaitan  dengan cara  mendapatkan  pengetahuan  tentang obyek  atau  kejadian  pada  saat  tertentu sehingga  persepsi  seseorang  atau kelompok  berbeda  karena  mempunyai sudut  pandang  yang  berbeda.  

Persepsi meliputi  penafsiran  obyek,  tanda  dan orang  dari  pengalaman  seseorang  atau  kelompok.  Dan  jika  ditarik  kesimpulan mengenai  persepsi  diri,  maka  persepsi diri  merupakan  pandangan  atau penilaian  terhadap  diri  sendiri  yang diperoleh  dari  hasil  belajar  atau pengalaman  yang  mempengaruhi individu tersebut untuk berinteraksi atau berperilaku dengan sekitarnya.

MASYARAKAT

Dalam bahasa Inggris disebut dengan society asalkata dari Socios yang berarti ”kawan”. Kata Masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu Syiek artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul disini tentu karena adabentuk-bentuk akhiran hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan .

Term  “masyarakat”  merupakan  alih  bahasa  dari society atau community. Society sering diartikan sebagai “masyarakat umum”, sedangkan community adalah “masyarakat setempat” atau “paguyuban” . Dictionary of Sociologymencoba mendefinisikan communitysebagai berikut. Community merupakan  sub-kelompok  yang  mempunyai  karakteristik seperti society, tetapi pada skala yang lebih kecil, dan dengan kepentingan yang kurang luas dan terkoordinir. Tersembunyi dalam konsep community adalah adanya suatu wilayah teritorial, sebuah derajat yang dapat dipertimbangkan mengenai perkenalan dan kontak antar pribadi, dan adanya beberapa basis koherensi khusus yang memisahkannya dari kelompok yang berdekatan. Pengertian  leksikal  di  atas  mengisyaratkan  bahwa communitybiasanya dimaknai sebagai suatu kelompok manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu dengan segala ikatan dan norma di dalamnya.

Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

JILBAB SYAR’I

Secara bahasa, jilbab berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata jalbaba–yujalbibu–jalbabatan, yang artinya menutup, dan kata dasar ini mengikuti wazan "fa'lala". Dan ada juga yang ikut wazan "tafa'lala", yaitu dari kata dasar tajalbaba-yatajalbabu-tajalbuban yang mempunyai makna berjilbab . 

Jilbab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan, jilbab adalah pakaian kurung yanglonggar yang dilengkapi dengan kerudung  yang menutupi kepala, leher dan dada .

Menurut al-Biqa'i yang dikutip oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah bahwa jilbab adalah pakaian yang menutupi baju dan kerudung atau semua pakaian yang menutupi wanita . Syaikh bin Baz mengatakan bahwa jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah). Jilbab tidaklah diwajibkan bagi kaum wanita dalam rangka mempersulit namun di syari'atkan sebagai bentuk pemulian dan pengagungan bagi kaum wanita. 

Sedangkan Jilbab  syar’i  merupakan  sejenis  jilbab  yang  tidak  transparan  dan   ukurannya lebar/panjang hingga menutup kedua siku atau pantat bahkan ada yang hingga mencapai lutut. Istilah  syar’i  disini  cukup  problematis,  karena  akan menimbulkan  kesan  bahwa  jilbab lain yang  tidak  mempunyai  ciri-ciri yang telah disebutan tadi  akan dipandang tidak syar’i . Dari beberapa definisi, dapat diambil kesimpulan bahwa jilbab merupakan pakaian yang menutupi aurat wanita.

Terdapat sebuah Perbedaan antara  jilbab dan kerudung. Kerudung merupakan kain yang digunakan untuk menutupi kepala, leher, hingga dada sedangkan jilbab maliputi keseluruhan pakaian yang menutup mulai dari kepala sampai kaki kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan. 

Sehingga seseorang yang mengenakan jilbab pasti berkerudung tetapi orang yang berkerudung belum tentu berjilbab.
Hal ini selaras dengan Firman-Nya dalam al-Qur’an,

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ketubuhnya. 

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab [33]: 59)
Firman  Allah  swt  berfirman  dalam QS. An-Nur/24:31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Katakanlah kepada para wanita yang beriman: Hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (an-Nur (24): 31)

Dalam  memaknai  kalimat “kecuali yang  biasa  tampak  darinya”,  terdapat perbedaan  pendapat  di  kalangan  para ulama.  Ayat  ini,  sebagaimana  disebutkan Ibnu  Kasīr  dalam  kitab  tafsirnya  menegaskan  tentang  kewajiban  menutup  seluruh perhiasan  dan  tidak  menampakkannya sedikitpun kepada laki-laki ajnabi ,  kecuali perhiasan yang tampak   tanpa kesengajaan, karena  sesuatu  yang  tidak  disengaja  tidaklah mendapat hukuman. Seberapa besar perhatian dan penjagaannya seorang wanita terhadap hijabnya maka sebesar itu pula penjagaan lingkungan masyaratkat terhadap dirinya.

Mas’adah bin Ziyad menukil dari Imam Ja'far Shadiq a.s. ketika beliau ditanya tentang perhiasan yang boleh untuk ditampakkan, Imam menjawab:”Wajah dan telapak  tangan” . Mufaddhal bin Umar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang wanita yang meninggal di perjalanan dan di sana tidak ada laki-laki muhrim atau wanita yang memandikannya. Imam menjawab: “Anggota-anggota tubuh yang wajib untuk ditayamumi hendaklah dibasuh akan tetapi tidak boleh menyentuh badannya, dan juga tidak boleh menampakkan kecantikan yang Allah wajibkan untuk ditutupi. Mufaddhal bertanya kembali: “Bagaimana caranya?” Imam menjawab: “Pertama membasuh bagian dalam telapak tangan, kemudian wajah dan bagian luar tangannya” .Dari sini kita dapat memahami bahwa tangan dan wajah bukan termasuk anggota badan yang wajib untuk ditutupi. Ali bin Ja'far ditanya tentang  batasan seorang laki-laki dapat melihat wanita non muhrim, Imam menjawab: “Wajah, telapak tangan dan pergelangan tangan” . 

Hal ini sepadan dengan sebuah  hadits  yang diriwayatkan  oleh  sayyidah  A’isyah  bahwa suatu  hari  Asma’  binti  Abu  Bakar  menemui Rasulullah  SAW.  Ia  mengenakan  baju  tipis, maka Rasul pun memalingkan pandangannya dan berkata ‚”Hai Asma’! Seorang wanita yang telah baligh tidak boleh menampakkan seluruh tubuhnya kecuali ini dan ini”,  beliau memberi isyarat  pada  wajah  dan  kedua  telapak tangannya .

Menganut  satu  persepsi  saja  terhadap  fenomena  jilbab  ini  akan menjerumuskan  kita pada bentuk penghakiman  yang  sewenang-wenang. Keputusan apapun  yang  diambil,  bila  berasal  dari  asumsi  yang  salah,  tak  akan  pernah  bisa menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar. 

Di kalangan masyarakat sekarang  terutama di Desa Bukek banyak perempuan yang menutup aurat dengan cara memakai jilbab syar’i sehingga anggapan masyarakat bahwa perempuan yang memakai jilbab syar’i itu kedok belaka, sok alim. Sehingga keberadaan mereka dikalangan masyarakat tidak dapat diterima. 

Hal ini berbeda dengan tanggapan masyarakat yang positif, dimana dalam persepsinya terdapat anggapan bahwa pemakai jilbab syar’i adalah perempuan yang patuh terhadap agama, dan bentuk persepsinya juga terdapat sebagian masyarakat yang menirunya. Sebenarnya, Persepsi  dari masyarakat tidak lain di  perkuat oleh tingkah laku mereka sendiri.

Hal ini sejalan dengan Teori Identitas yang dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980) dimana Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan yang saling mempengaruhi di antara individu dengan struktur sosial masyarakat. Individu dan masyarakat dipandang  sebagai  dua  sisi  dari  satu  mata  uang. Seseorang  dibentuk  oleh interaksi,  namun  struktur  sosial  membentuk  interaksi. 

Seperti kasus di  masyarakat  desa  Bukek  yang  kalangan maasyarakatnya  hanya  sibuk  untuk  memperlihatkan  identitas  mereka,  mereka  ingin diakui  keberadaannya di  kalangan  masyarakat tanpa memikirkan bagaimana pandangan masyarakat  terhadap  mereka,  apakah  itu  baik  atau  buruk  mereka  mengesampingkan  hal tersebut asalkan keinginan mereka tercapai dan terwujud.

METODE  PENELITIAN

Jenis  penelitian  yang  dilakukan  adalah penelitian  kualitatif,  yang meliputi rangkaian kegiatan sistematik untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang diajukan. Penelitian ini dikategorikan sebagai  penelitian  studi  kasus  dengan  maksud  memberikan  gambaran  tentang  Persepsi Masyarakat  Terhadap  Jilbab Syar’i Perempuan di Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. 

Informan ditentukan secara purposive sampling, fokus penelitian yaitu persepsi masyarakat terhadap perempuan berjilbab syar’i di Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. Instrumen penelitian  adalah  peneliti  sendiri  dengan  menggunakan  alat  bantu  berupa  pedoman wawancara  (daftar  pertanyaan),  pedoman  observasi, catatan  peneliti yang berfungsi sebagai alat pengumpul data serta alat pemotret, teknik pengumpulan  data  yaitu  observasi,  wawancara,  dan  dokumentasi,  kemudian  dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, lalu kemudian penarikan kesimpulan.

Adapun teknik keabsahan  data untuk lebih  mudah  mempertanggungjawabkan  hasil penelitian  di lapangan yaitu dengan menggunakan yaitu dengan mengunakan triangulasi;  yakni triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.

PEMBAHASAN

Banyak faktor yang membuat perempuan di desa Bukek berjilbab syar’i, baik faktor internal maupun eksternal. Menurut  Terry  (1989)  faktor yang  perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan adalah: hal-hal yang berwujud maupun tidak  berwujud,  yang  emosional  maupun  rasional  perlu  pertimbangan  dalam mengambil  keputusan, setiap  keputusan  jangan  berorientasi  pada  kepentingan pribadi, dan jarang sekali ada satu pilihan yang memuaskan dalam mengambil keputusan melalui tindakan mental. Maka sejalan, harus ada sebuah tindakan fisik.

Pengambilan keputusan yang efektif dan praktis membutuhkan waktu  yang   cukup  lama agar mendapatkan  hasil  yang cukup  baik. Setiap  keputusan  hendaknya  dikembangkan,  agar diketahui apakah keputusan yang diambil itu benar dan tidaknya. 

Sedangkan sebuah keputusan adalah tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya. Terdapat  enam  faktor  lain  yang  juga  ikut  mempengaruhi pengambilan keputusan.

(1). Fisik: Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan  rasa  tidak  senang,  sebaliknya  memilih  tingkah  laku  yang  memberikan kesenangan.

(2). Emosional: Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

(3). Rasional: Didasarkan pada pengetahuan orangorang  mendapatkan  informasi,  memahami  situasi  dan  berbagai  konsekuensinya.

(4). Praktikal: Didasarkan pada keterampilan  individual dan  kemampuan  melaksanakan. Seseorang  akan  menilai  potensi  diri  dan  kepercayaan  dirinya  melalui  kemampuanya dalam bertindak.

(5). Interpersonal: Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan  antar  satu  orang  keorang  lain  dapat  mempengaruhi  tindakan  individual.

(6). Struktural:  Didasarkan  pada  lingkup  sosial,  ekonomi  dan  politik.  Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik tingkah laku tertentu. Dilihat  dari  wawancara  dan observasi, faktor  yang  membuat perempuan berjilbab syar’i di pengaruhi oleh lingkungan sendiri dan trendy, namun ada pula yang memang dari keinginan diri sendiri untuk lebih istiqamah lagi dalam menutup auratnya. Menutup aurat dengan berjilbab syar’i adalah hal  yang  indah bukan lagi  hal  yang tidak dapat diterima  oleh  pikiran  hati  seseorang, juga memakai jilbab syar’i  membuat  seorang perempuan terasa aman nan nyaman dalam melakukan hal diluar rumah. 

Namun, tidak semua perempuan merasa nyaman dalam mengenakannya, terlebih bagi perempuan yang belum terbiasa sebelumnya.

Persepsi  terbentuk melalui  suatu  proses  yang  didahului penginderaan oleh individu melalui alat reseptor (indera). Alat indera adalah penghubung  antara  individu  dengan  dunia  luar. Persepsi  merupakan stimulus  yang  diindera  oleh  individu,  diorganisasikan  kemudian  diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan faham tentang apa yang diindera. Manusia  hidup  tidak  lepas  dari  kehidupan  kelompok,  baik  kelompok  kecil maupun  kelompok  besar. 

Maka  tidak heran jika setiap  individu memiliki  persepsi masing-masing dalam menyikapi sesuatu. Ada yang berpresepsi baik ada pula yang buruk, tergantung  siapa  dan  dimana  individu  atau  masyarakat  tersebut menberikan tanggapan .

Hal ini sejalan dengan hasil observasi dan wawancara yang peneliti dapat, bahwa terdapat dua persepsi besar dalam masyarakat terhadap jilbab syar’i perempuan di Desa Bukek Keberadaan perempuan memakai jilbab syar’i masih belum dapat diterima secara penuh oleh masyarakat, terdapat persepsi negatif dan positif dari masyarakat terhadap penggunaan jilbab syar’i yang dipakai oleh perempuan. Masyarakat juga beranggapan bahwa perempuan yang memakai jilbab syar’i  hanya kedok belaka, juga ada sebagian masyarakat yang menggagap jilbab syar’i hanya alat untuk menutup-nutupi kejelekanya, istilah “sok alim” pun terkadang seringkali terlontarkan. Berbeda dengan tanggapan masyarakat yang positif, dimana dalam persepsinya terdapat anggapan bahwa pemakai jilbab syar’i adalah perempuan yang patuh terhadap agama, dan bentuk persepsinya juga terdapat sebagian masyarakat yang menirunya. Dilihat  dari hasil wawancara dan obseravsi  yang dilakukan oleh peneliti, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat Desa Bukek terhadap perempuan berjilbab syar’i, terdapat dua persepsi besar yakni persepsi negatif dan positif sebagaimana yang telah peneliti uraikan di atas.

KESIMPULAN

1. Faktor penyebab perempuan berjilbab syar’i di Desa Bukek yakni dipengaruhi oleh lingkungan sendiri dan trendy, namun ada pula yang memang dari keinginan diri sendiri untuk lebih istiqamah lagi dalam menutup auratnya. Menutup aurat dengan berjilbab syar’i adalah hal  yang  indah bukan lagi  hal  yang tidak dapat diterima  oleh  pikiran  hati  seseorang, juga memakai jilbab syar’i  membuat  seorang perempuan terasa aman nan nyaman dalam melakukan hal diluar rumah. Namun, tidak semua perempuan merasa nyaman dalam mengenakannya, terlebih bagi perempuan yang belum terbiasa sebelumnya

2. Persepsi masayarakat terhadap Jilbab syar'i perempuan di Desa Bukek secara garis besar  ada yang negatif ( Tidak terima ) dan juga ada yang positif ( Menerima ). Sebagian masyarakat yang tidak terima seringkali mengucilkan,  berbeda dengan masyarakat yang merespon postif terhadap pemakai (perempuan) yang memakai jilbab syar’i.
----------------------------
DAFTAR PUSTAKA
'Atha. Ahmad bin Abdul Ghafur. al-Hijaab was sufuur. TK. TP. dan TT.
Hidayatullah.  Abu Umamah Arif. Hukum Hijab dalam Islam Diambil dari kitab: "Masuliyatul Marah al Muslimah" Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah. TK. TP. (2012 – 1433).
Himyari. Abdullah bin Ja’far. Qurb al-Isnad. (Nainawa: Tehran, juz 2, TT).
Ibnu Babuwaih Qumi. Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhul Faqih Intisyarat Jamiah Mudarrisin. TK. TP. (1413 H). Q, jilid 1.
Murtopo. Bahrun Ali Murtopo.  ETIKA BERPAKAIAN DALAM ISLAM: TINJAUAN BUSANA WANITA SESUAI KETENTUAN ISLAM. Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan: Vol. 1 No. 2 Oktober 2017.
Fathonah K. Daud. TREN JILBAB SYAR’I DAN POLEMIK CADAR Mencermati Geliat Keislaman Kontemporer di Indonesia. 21 – 22 APRIL 2018
Abu  al-Fida’  al-Hāfiz  Ibnu  Kasīr. Tafsir  alQur’ān  al- Azīm (Beirūt:  Dār  al-Kutub  al-Ilmiyyah, 1422/2001).
AW. Munawwir dan Muhammad Fairuz, Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab Lengkap (Surabaya: Pustaka Progresif, 2007).
Jasmani.  HIJAB DAN JILBAB MENURUT HUKUM FIKIH. Jurnal Al-‘Adl: Vol. 6 No. 2 Juli 2013.
Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah. Volume II (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 214
Abu Bakr Muhammad bin Abdullah. Ahkam Al-Qur’an. Jilid ke-3. (Beirut: Daarul Fikri, tt).
Walgito. Bimo.  2004.  Psikologi  Sosial. Yogyakarta: Andi Offset.
Mulyana.  Deddy.  2005.  Ilmu Komunikasi  :  Suatu  Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
al-Qurtubi. Ahmad bin abi Bakar.  Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān. (Beirut:  Mua’ssasah  Risalah,  2006)
Sosiologi 3 SMU.tp. tk.  1994.
Shadily. Sosiologi  Untuk  Masyarakat  Indonesia. Cet.IX; Jakarta: Bina Aksara, 1983.


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment