Kelas Literat Zero Budget


Oleh Andilala: Guru SDN Pangarangan III Sumenep (Fasda INOVASI)

Jatimaktual.com - Mengembangkan kelas literat itu mahal. Banyak fasilitas yang harus dipenuhi; mendekorasi kelas dengan gambar menarik tentu membutuhkan bahan. Tidak semua guru juga mempunyai keahlian melukis sehingga membutuhkan bantuan pelukis. Pemenuhan pojok baca, papan pajangan, pohon literasi, dan papan reward  yang berkarakter seolah menjadi  fardhu ‘a’in dalam mengembangkan kelas literat. Semuanya adalah produksi pabrik. Membuat kata-kata motivasi dan informasi dengan media banner yang hampir memenuhi ruang kelas, dengan pertimbangan estetika sedikit mengabaikan kebermanfaatannya bagi siswa.

Sebagian besar kepala sekolah tidak mendukung program pengembangan kelas literat. Ketika ada aktivitas sekolah yang membutuhkan biaya besar dan tidak terakomodir di RKAS, secara otomatis kepala sekolah selaku pemegang otoritas tertinggi enggan  merespon positif kegiatan tersebut, termasuk juga dalam pengembangan kelas literat. Guru akan berpikir dua sampai tiga kali untuk mengeluarkan biaya sendiri. Langkah terakhir dengan memberdayakan paguyuban kelas (bagi paguyuban kelasnya yang aktif) meskipun setelah itu akan banyak suara sumbang karena tidak semua walimurid mempunyai tingkat ekonomi maupun tingkat pemahaman yang sama.

Membutuhkan tenaga dan waktu yang ekstra dalam mengembangkan kelas literat. Kewajiban guru memenuhi administrasi kelas tuntutan dari sistem kurikulum sangat menyita waktu dan tenaga. Justu akan lebih terbebani ketika guru dituntut mengembangkan kelas literat.
Contoh kecil masalah di atas kadang menyurutkan dedikasi guru untuk mengembangkan kelas literat padahal di era milenial generasi literat mutlak dibutuhkan. Bangsa Indonesia akan bangkit dari keterpurukan bahkan bisa bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain, ketika dimulai dari generasi yang literat. Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Generasi literat terlahir dari kelas dan lingkungan yang literat.

Kehadiran program Inovasi di Kabupaten Sumenep melalui Fasilitator Daerah (Fasda) INOVASI berdaya guna untuk memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi guru, salah satunya pengembangan kelas literat. Langkah-langkah efektif dilakukan  Fasda INOVASI dan civitas sekolah untuk mengembangkan kelas literat di antaranya dengan melakukan analisa masalah, pemecahan masalah, penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL), dan pengaplikasian RTL.
Fasda INOVASI membimbing dan memotivasi guru dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah ada di kelas,  guru diarahkan untuk tidak memikirkan segala sesuatu yang tidak ada di kelas. Pemikiran itulah yang menimbulkan ide-ide segar dan kreatif.

Segala fasilitas yang dibuat berasaskan pertimbangan kebermanfaatan bagi siswa bukan hanya sekedar memenuhi unsur estetika apalagi sekedar memenuhi hasrat untuk membuat luxurious room. Rata-rata di setiap sekolah sudah tersedia fasilitas untuk mengembangkan kelas literat, tetapi terkadang guru gagal dalam memanfaatkan fungsi dan sistem penataannya lebih-lebih dalam kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan literasi. Salah satu contoh RTL yang menjadi kesepakatan antara Fasda INOVASI, guru kelas IIb, dan kepala sekolah SDN Pangarangan I Sumenep adalah penyempurnaan fungsi pojok baca, papan pajangan, pohon literasi, dan papan reward.

Sudut baca, setiap guru kebanyakan berlomba-lomba untuk membuat sudut baca yang terlihat bagus bahkan berkarakter, tapi ketersediaan buku kurang menjadi fokus perhatian sehingga sudut baca menjadi sangat menarik secara visual tapi kurang maksimal secara fungsi. Di kelas IIb SDN Pangarangan I sudah tersedia sudut baca yang terbuat dari botol bekas sebagai rak buku dengan sedikit pernak-pernik sebagai hiasan, tapi kurang maksimal secara fungsi salah satu indikatornya siswa malas untuk mengunjungi sudut baca tersebut. Setelah dilakukan analisa masalah, ternyata sudut baca kurang terkonsep dan buku yang tersedia kurang variatif.

Akhirnya guru dan Fasda INOVASI membuat sentuhan modifikasi kecil yang sederhana namun dengan sistem penataan ulang yang lebih terkonsep, tercetuslah ide dari guru untuk membuat flower garden. Pernak-pernik bunganya bukan buatan pabrik melainkan hasil karya siswa yang sudah ada, hanya diberikan sedikit sentuhan kreatif oleh guru.  Terbuatlah flower garden sebagai tempat bermain sehingga sudut baca seolah-olah menjadi bagian kecil dari konsep tersebut. selain itu juga dilengkapi juga dengan permainan edukatif untuk menanamkan konsep hitung Matematika dan konsep satuan berat yang terbuat dari kardus dan botol bekas minuman air mineral. Pemenuhan ketersediaan buku, guru memotivasi siswa membawa buku dari  rumah untuk dipinjamkan ke sudut baca kelas secara bergantian.

Papan pajangan telah tersedia di kelas, tetapi fungsinya juga kurang maksimal karena letaknya yang terlalu tinggi untuk siswa kelas awal. Langkah yang dilakukan guru dan Fasda menurunkan posisi papan pajangan sehingga sejajar dengan tinggi badan siswa kelas II. Serta menambah papan pajangan dengan membuat hiasan dari benang bekas tali sapu lidi dan jepitan kertas (yang sudah tersedia di kelas) di jendela kelas dengan pertimbangan dan proses kreatif  sehingga tidak mengurangi cahaya dan udara yang masuk ke kelas.

Sama halnya dengan papan pajangan, pohon literasi juga tersedia, tetapi pemanfaatannya juga yang kurang maksimal. Pohon literasi hanya diisi dengan nama siswa sehingga tidak ada unsur literasi yang bermanfaat bagi siswa. Guru menyempurnakan fungsi pohon literasi dengan menyediakan informasi yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan kurikulum dan psikologis siswa kelas awal.

Papan reward, di kelas itu secara fisik memang tidak ada, tetapi fungsinya tergantikan dengan sistem pemberian flower as reward. Setiap siswa di flower garden mempunyai satu pot bunga (hasil prakarya siswa) yang kosong setiap siswa yang selesai membaca satu buku dan siswa yang berperilaku baik akan mendapatkan satu tangkai bunga (hasil prakarya siswa) dari guru kemudian siswa meletakkannya di pot bunga miliknya, setiap siswa yang berhasil mendapat sepuluh tangkai bunga akan ditukar dengan satu pin (pin sudah ada disekolah tetapi gak pernah difungsikan). Pin tersebut menjadi sebuah kebanggaan ketika siswa memakainya, tentunya guru dan orang tua mengapresiasinya. Siswa menjadi termotivasi untuk membaca dan berprilaku baik.

Semua proses pengembangan kelas literat di kelas IIb SDN Pangarangan I dilakukan tanpa biaya dengan dukungan penuh kepala sekolah karena tidak menggangu anggaran sekolah dan hanya dilakukan dalam waktu kurang dari empat jam.

Pengembangan kelas literat  di kelas IIb SDN Pangarangan I berasaskan kebermanfaatan bagi siswa bukan sekedar unsur estetika apalagi hanya membuat luxurious room image. Hal paling penting dari kelas literat bukan sekedar pemenuhan fasilitas yang indah secara visual, tetapi lebih pada pembiasaan siswa dalam berliterasi yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Masihkah kita berpikir kelas literat itu mahal?



Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment