Dibalik Realita, Hoaks atau Fakta -->
Cari Berita

Dibalik Realita, Hoaks atau Fakta

Wednesday, January 30, 2019

Jatimaktual.com, Opini - Menyikapi adanya respon terhadap pergantian rektor baru di IAIN Jember yang menggunakan sistem tidak transparan dalam hal penyeleksian para kandidatnya, saya mulai risih apalagi dengan hadirnya beberapa komentar yang menyudutkan tulisan saya dengan menuduh tulisan yang saya muat berpihak pada kelompok tertentu bahkan ada yang mengatakan tulisan saya merupakan hoaks (entah berdasarkan data dari mana dan berdasarkan sudut pandang bagaimana).

Tulisan kali ini, saya akan menjelaskan dua poin dalam deskripsi diatas.

Pertama, mengapa saya katakan pergantian rektor baru menggunakan sistem yang tidak transparan? Karena jelas banyak kecacatan-kecacatan yang diabaikan dan sudah smenjadi rahasia umum, kita ketahui bahwa dalam lembar penjaringan bakal calon rektor IAIN Jember periode 2019-2023 dengan nomor surat B-3096/In.20/KP.07.6/11/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 2018 dan sudah di tanda tangani sekaligus di stempel oleh Prof. Dr. Babun Suharto S.E M.M selaku rektor IAIN Jember menyatakan bahwa akan melaksanakan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor dan Ketua pada Perguruan Tinggi Keagamaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Secara otomatis ketika akan melaksanakan peraturan menteri tersebut, maka aturan-aturan yang digunakan juga mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan oleh Menteri Agama dan hal ini juga sudah terlampir dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018. Dalam lampiran surat tersebut dijelaskan beberapa poin diantaranya Ketentuan Umum meliputi masa jabatan, persyaratan umum dan persyaratan khusus calon, Jadwal Pelaksanaan Penjaringan, Tata Cara Pendafataran dan Ketentuan Lain.

Saya akan jelaskan perlahan-lahan beberapa kecacatan yang terjadi agar teman-teman pembaca tau betapa mahalnya kepercayaan yang dikhianati dengan kebohongan.
Penyebaran adanya kabar 8 Dosen IAIN Bersaing menuju kursi paling tinggi di IAIN Jember yang dimuat dalam radarjember.jawapos.com sudah beredar pada tanggal 5 Desember 2018, namun sekertaris panitia pemilihan rektor, Abdus Syakur mengatakan pada wartawan bahwa “delapan calon itu berkasnya sudah diterima dan akan diverifikasi oleh panitia”.

Sedangkan dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018 tentang Jadwal Pelaksanaan Penjaringan poin 4. Pengumuman Hasil Verifikasi dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2018 dan pengumuman ini harus disebar luaskan, namanya juga pengumuman. 

Namun sayangnya tidak ada kabar lagi mengenai kandidat yang lolos verifikasi ataukah adanya 8 nama yang beredar di berita tersebut sudah menjadi kandidat rektor? Entah saya kurang tau juga karena memang tidak ada berita lagi yang menyebarkan info nama-nama kandidat yang sudah lolos verifikasi. 

Kelalaian pertama, panitia penjaringan kurang transparan dalam menjalankan sistem yang sesuai dengan aturan menteri agama dan tidak sesuai dengan alur pelaksanaan penjaringan bakal calon rektor sesuai dengan peraturan menteri sebagaimana dijelaskan diatas. Seharusnya yang diumumkan adalah bakal calon yang sudah di verifikasi dan itu tercantum dalam alur pelaksanaan penjaringannya pada tanggal 7 Desember 2018. Bukan malah nama dosen yang masih akan diverifikasi kelengkapan administrasinya. 

Kelalaian kedua, ada salah satu dari 8 nama dosen tersebut yang baru lulus program S.3 pada tanggal 4 Januari 2019. Dosen tersebut juga masuk dalam urutan nama bakal calon rektor IAIN Jember. Jika nama dosen tersebut masuk dalam urutan nama yang lolos verifikasi administrasi kandidat rektor baru, maka hal ini perlu dipertanyakan. Karena pengumuman nama dosen yang lolos verifikasi dilakukan pada tanggal 7 Desember 2018, sedangkan dosen tersebut baru lulus sidang terbuka program S.3 pada tanggal 4 Januari 2019. 

Dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018 tentang Ketentuan Umum poin 3. Persyaratan Khusus Bakal Calon Rektor IAIN Jember masa jabatan 2019-2023 dijelaskan dalam uraian 1. Lulusan Program Doktor (S3) disertai bukti photocopy ijazah S.3 dilegalisir. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan apabila nama dosen tersebut lolos dalam verifikasi data yang ia miliki. Jika benar ia lolos, maka muncul sebuah pertanyaan, apakah panitia pemilihan rektor IAIN Jember masih objektif?

Kelalaian ketiga, panitia pemilihan rektor yang dipilih oleh rektor sesuai dengan pasal 5 ayat 1 (a), Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2015 secara khusus berada dibawah pengawasan dan kebijakan rektor selaku orang yang memiliki kewenangan. Apabila ada sedikit kelalaian yang dilakukan baik itu sengaja maupun tidak, maka rektor selaku pemangku kewenangan harus mengambil sikap dengan tegas. Salah satu kelalaian yang sudah dilakukan diantaranya poin yang sudah saya tulis diatas.

Jika kelalaian tersebut tetap dibiarkan entah karena unsur kesengajaan ataupun tidak, maka julukan Kampus Islam Nusantara untuk IAIN Jember sudah ternodai oleh kedzaliman tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Kedua, saya mulai risih dengan hadirnya beberapa komentar yang menyudutkan tulisan saya dengan menuduh tulisan yang saya muat berpihak pada kelompok tertentu bahkan ada yang mengatakan tulisan saya merupakan hoaks. 

Saya menulis bukan karena saya ingin dikenal, saya menulis bukan karena saya dekat dengan salah satu kubu dari nama-nama yang terpampang di media cetak dan media sosial dan saya menulis bukan karena saya ingin mendapatkan sesuatu. Akan tetapi saya menulis hanya untuk memaparkan keburukan yang terjadi agar keadilan sosial masih berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Disisi lain saya jadikan tulisan ini sebagai salah satu bentuk nahi munkar dan bisa dipertanggung jawabkan kepada siapapun yang mengajak saya secara terbuka, karena informasi hoaks dan tuduhan tanpa sebab salah satunya adalah tidak memiliki sumber yang jelas, sumber data tidak valid serta tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada siapa akan menuntut. Jadi semisal ada orang ataupun golongan yang mengajak saya di forum terbuka untuk membahas semua yang sudah saya tulis, saya siap untuk bertanggung jawab. Karena nama dan identitas saya selaku penulis sudah tertera jelas. 

Sebagai penutup tulisan saya kali ini, jika ada yang beranggapan saya memihak pada kubu tertentu kemudian sampai berfikir saya menulis semua ini dibayar, maka anggapan tersebut salah besar. Karena sampai detik ini pun saya masih dalam keadaan lapar dan belum punya uang untuk makan. Hehehe jangan terlalu serius lah...

Pesan saya bagi segenap pembaca, kita dalam lingkup kampus memang tidak memiliki kewenangan untuk mengurusi pemilihan rektor baru ini, namun kita memiliki hak untuk membaca dan menganalisa bahkan mengritik sekalipun. Karena kita adalah warga yang ada di kampus utamanya mahasiswa yang merupakan generasi penerus para pemimpin masa kini. 

Sekian dari saya, saya bukan orang yang pintar apalagi sok pintar. Saya hanya menulis apa yang saya baca dari mata saya berdasarkan fakta yang saya ketahui, lebih baik diasingkan daripada diam dalam kemunafikan, Soe Hok Gie.