Daun Ganja, Sayuran khas dari Propinsi NAD yang diharamkan dalam islam

Jatimaktual.com - Sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka, pada masa itu masih dijajah oleh belanda, seluruh rakyatnya mengalami keterpurukan, mulai dari  gaya hidup sampai pada asupan makanan yang kurang bergizi. Apalagi teramat sulitnya mendapatkan uang untuk membeli makanan, dan juga beacukai yang dikuasai oleh bangsa Asing. Karena sangat sadisnya perbuatan kolonial penjajah kepada rakyat Indonesia yang tidak ada henti-hentinya menyiksa rakyat pribumi. Penjajah juga berusaha menguasai seluruh sumber daya alam yang terdapat di NKRI ini. 

Maka dari itu, rakyat Indonesia mau tidak mau harus tetap berusaha bagaimanapun caranya agar tetap bisa bertahan hidup. Pada saat itulah, rakyat Indonesia mengkonsumsi makanan seadanya agar dapat bertahan hidup untuk menghadapi dan melawan para penjajah yang bertindak sewenang-wenang tanpa adanya rasa kemanusiaan. 

Hal ini juga dialami oleh masyarakat Nangroe Aceh Darussalam yang sebagian masyarakatnya mengalami kesulitan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi. Dibumi berjuluk serambi mekkah ini, terdapat banyak tanaman ganja. Sehingga masyarakat disana mengkonsumsi daun ganja sebagai sayuran khas dalam makanan sehari-hari pada masa itu. 

Matroji (2003) mengemukakan bahwasanya perang Aceh merupakan perang terlama yang dihadapi oleh kolonial penjajah selama itu. Pada tahun 1837 kolonial penjajah menyerang Aceh dan berhasil merebut Kotaraja dan Istana Sultan, namun kolonial penjajah tidak berhasil memadamkan perlawanan rakyat. Untuk mengatasi hal tersebut, kolonial penjajah kemudian menggunakan taktik konsentrasi Stelsel. 

Maka dari itu, pada saat penjajah telah menguasai dan merebut daerah Kotaraja dan Istana Sultan, mereka juga ingin menguasai seluruh bagian daerah Aceh seperti halnya juga Samudera Pasai, bahkan menguasai seluruh beacukai, serta menguasai perdagangan di wilayah pelabuhan yang menjadi pekerjaan pedagang sehari-harinya. 

Lalu apabila bangsa Asing atau kolonial berhasil untuk ingin menguasai seluruh wilayah daerah Aceh. Maka pada saat semua itu terjadi, para Pahlawan yang berasal dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam telah melakukan pemberontakan dengan melawan seluruh para Penjajah yang ingin menguasai daerah tersebut, diantaranya Pahlawan tersebut adalah Teuku Umar dan istrinya yang bernama Cut Nyak Dien, Cut Meutya dan lain sebagainya, mereka yang telah membela serta mengorbankan seluruh jiwa, raga, bahkan harta dan keluarga yang mereka pertaruhkan untuk membela Tanah Rencong demi Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar NKRI tidak dikuasai oleh para Penjajah yang tidak punya perasaan serta kasihan atau iba pada rakyat yang tertindas oleh perbuatan mereka, yang mana mereka hanya memikirkan kekayaan demi negara mereka sendiri dan tidak memikirkan kesejahteraan rakyat pribumi di Indonesia.

Penjajah juga telah membuat seluruh rakyat Indonesia kerja Rodi serta Romusha, yang mana pekerjaan tersebut untuk mempekerjakan rakyat Indonesia dengan cara memaksa mereka untuk bekerja atau yang disebut kerja paksa tanpa dibayar. Bahkan rakyat Indonesia tidak mendapatkan apapun atas jerih payah mereka, sampai-sampai mereka tidak tidur serta bekerja semalaman tanpa henti, dan apabila mereka berhenti, maka mereka akan dihukum oleh para prajurit kolonial, tanpa ada perasaan kasihan pada rakyat pribumi tersebut.

Lalu pada saat itu, kaum wanitapun bekerja sebagai juru masak dan buruh cuci para kolonial penjajah, dan mereka memasak  untuk menyiapkan hidangan kepada para penjajah. Dan pada daerah tersebut telah terbiasa untuk memasak sayuran daun ganja dan bahan makanan lainnya, yang memang tanaman tersebut difungsikan oleh masyarakat setempat di daerah Aceh sebagai panganan sehari-hari, karena terlalu sulitnya untuk mendapatkan uang dan bahan makanan untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Dan pada saat itu mereka, kaum wanita memasak sayuran sebagai pelengkap hidangan masakan lainnya, seperti halnya sayur daun ganja.

Masyarakat daerah setempat memasak sebagai sayuran untuk bahan makanan mereka, karena terlalu sulitnya untuk mendapatkan bahan makanan untuk mereka konsumsi, maka dari itu masyarakat setempat di daerah Aceh memasak bahan makanan yang bisa dimakan oleh mereka, dan masyarakat setempat tidak bisa memilih-milih makanan yang hendak mereka makan, karena apabila mereka masih berfikir untuk memilih-milih makanan, maka mereka akan sulit untuk bertahan hidup dikala kondisi yang sangat buruk pada saat tersebut. 

Sementara para penjajah menyalahgunakan atau melain fungsikan makanan sayur daun ganja tersebut sebagai makanan yang memabukkan dan membuat makanan tersebut menjadi makanan yang haram untuk dimakan. Dan juga, seperti halnya pada saat mengkonsumsi buah durian, yang mana buah durian tersebut adalah raja dari segala buah, buah yang banyak diminati oleh semua orang, dan apabila ingin mengkonsumsinya tidak diperbolehkan terlalu banyak. 
Karena apabila mengkonsumsi buah durian terlalu banyak, maka akan mengakibatkan orang tersebut akan mabuk. Dan buah tersebut dapat membuat badan kita panas, apabila berlebihan dalam mengkonsumsinya. Oleh sebab itu, ibu hamil dilarang untuk terlalu banyak mengkonsumsinya, dan akan lebih baik apabila menghindari makanan yang seperti halnya buah durian, yang dapat membahayakan kehamilannya 

Maka dari kejadian itu, yang mana fungsi utama yang dilakukan oleh masyarakat Aceh sebagai bahan makanan pelengkap seperti halnya sayuran yang pada saat itu mereka susah untuk mendapatkan makanan, dan para penjajah membuatnya sebagai makanan memabukkan. 
Oleh sebab itu kini daun ganja yang semulanya sebagai bahan pangan, pada saat sekarang setelah kejadian hal tersebut, sayur daun ganja menjadi tumbuhan liar yang merupakan suatu dedaunan yang membahayakan serta memabukkan, dan dalam islam sesuatu yang dapat memabukkan itu hukumnya raham untuk dikonsumsi. Yang selalu harus dimusnahkan dan dibasmi, diantaranya dengan membakarnya, agar tidak dimanfaatkan secara negatif dan sembarangan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab, yang membuat nama daerah tersebut tercemar dan buruk dimata khalayak ramai, atas perbuatan oknum tersebut, dan akibat perbuatan para penjajah yang tidak punya aturan, serta tidak mempunyai sifat dan sikap yang baik kepada makhluk sesamanya, tidak punya rasa kemanusiaan. Yang akhirnya pada waktu penyalahgunaan makanan sayur tersebut, yang berdampak pada saat sekarang tidak dimanfaatkan dengan baik dan benar. Semoga bermanfaat.

Penulis : Fawaid Nofal Abrori

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment