Momentum Harjad ke- 488 Kabupaten Pamekasan : Sebuah Opini Laju Pendidikan Antara Selatan dan Pantura

Oleh : Abd. Basid Muslim, M.Pd.
(Guru SMP Negeri 1 Pakong  Pamekasan)

JATIMAKTUAL.COM, PAMEKASAN.  Tahun 2018 ini Kabupaten Pamekasan usianya mencapai 488 tahun. Peringatan hari jadi kabupaten yang terkenal dengan sebutan bumi gerbang salam sedikit istimewa karena waktunya berdekatan dengan pasca pelantikan Bupati KH. Badrut Taman, S.Psi. dan Rajae, S.H.I. selaku wakil bupati  periode 2018  2023. Aroma suka cita kemenangan pasangan BERBAUR turut menjadi moment spesial pada peringatan hari jadi (harjad) Kabupaten Pamekasan yang juga terkenal sebagai ikon kota pendidikan.

Sebagai  kota pendidikan tentu bukan sekedar label tanpa makna. Banyak program yang harus dipersiapkan  para stakholder agar ikon kota pendidikan tetap membumi, bahkan betul-betul dapat dinikmati semua lapisan masyarakat.

Hingga usianya yang ke-488 tahun ini, bagaimana potret pendidikan di wilayah kabupaten Pamekasan, terutama di wilayah selatan (wilayah  kota) dan di pinggiran wilayah utara (pantura)? Seberapa besar tantangan yang akan dihadapi pemimpin baru agar gaung kota pendidikan berkorelasi positif dengan percepatan pembangunan khususnya penyiapan sumber daya manusia (SDM)?
Dalam menyampaikan opini ini, penulis tidak ingin terjebak pada dikotomi wilayah kota dan desa (baca pinggiran atau pelosok) dengan segala peluang atau kendala yang memengaruhi, tapi sekedar berbagi pendapat tentang dunia pendidikan sehingga mudah-mudahan menjadi perhatian bagi para pemangku kekuasaan dan stakholder yang lain. Perlu disadari bahwa luas wilayah Kabupaten Pamekasan hanya sekitar 79.230 hektar, atau sekitar 1,71 persen dari total Iuas wilayah Provinsi Jawa Timur.  Sedikit lebih kecil luasnya jika dibandingkan Kabupaten Bangkalan dan Sumenep.

Adalah pernyataan KH. Badrut Tamam, S.Psi. selaku bupati baru yang memberi ilham kepada penulis, bahwa Pamekasan Hebat adalah Pamekasan yang ke depan akan semakin *rajjeh, bajjreh, tor parjugeh*. Berdasarkan pemahaman penulis, kata *Rajjeh*  berarti besar, artinya tumbuh berkembang sesuai keinginan yang telah diprogramkan sebelumnya. *Bajjreh* berarti untung atau dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap kemaslahatan. Sedangkan *Parjugeh* memiliki makna pantas dan senantiasa elok dalam setiap kesempatan.

Apabila penulis mengaitkan interpretasi makna rajjeh, bajjreh, dan parjugeh di atas dengan eksistensi kota pendidikan yang menjadi ikon Kabupaten Pamekasan, maka diharapkan ada  korelasi positif dari slogan tersebut dan goalnya adalah terciptanya kota  Pamekasan yang Hebat.

Berdasarkan data referensi kementerian pendidikan dan kebudayaan yang terkini sebagaimana tertuang pada Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan  (PDSPK) Kemdikbud, jumlah lembaga pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Pamekasan sebanyak 1.446.

Jumlah lembaga pendidikan tersebut terdiri atas jenjang SD sederajat 416 sekolah negeri, dan 372 berstatus swasta sehingga total 788 sekolah. Pada jenjang SMP sederajat 39 sekolah berstatus negeri, dan 341 statusnya swasta sehingga total 380 sekolah. Sementara SMA sederajat, terdiri atas 11 sekolah negeri, dan 171 berstatus swasta sehingga total 182 sekolah.  Sedangkan pada jenjang SMK, terdiri atas 7 sekolah negeri dan 89 berstatus swasta sehingga totalnya 89 sekolah. 

Data tersebut memberikan informasi bahwa ada sekitar 1.168 lembaga SD dan SMP yang harus mengimplementasikan komitmen *rajjeh, bajjreh, tor parjugeh* agar  Pamekasan Hebat dapat tercapai. Di samping itu, adalah sebuah keuntungan bagi pemerintah Kabupaten Pamekasan bahwa pendidikan menengah (dikmen), yakni jenjang SMA/SMK sebanyak 271 sudah menjadi tanggungan pemerintah provinsi.

Pada sisi lain diakui atau tidak, kualitas pendidikan di wilayah selatan yang notabene dekat dengan pusat kota dan pemerintahan lebih dinamis pergerakannya dibanding kualitas pendidikan di wilayah pinggiran, terutama di bagian utara (pantura). Dengan maksud memberikan gambaran yang jelas, penulis membedakan wilayah selatan dan utara berdasarkan kecamatan yang ada.

Kecamatan Kota Pamekasan, Pademawu, Galis, Larangan, Tlanakan termasuk wilayah selatan. Sedangkan Kecamatan Pakong, Waru, Pasean, Batumarmar, Palengaan, dan Pegantenan tergolong wilayah utara. Sebetulnya masih ada Kecamatan Proppo di sebelah barat, dan Kecamatan Kadur di sisi timur.

Beberapa faktor turut memengaruhi kedinamisan kualitas pendidikan di wilayah selatan, misalnya fasilitas  yang memadai, kondisi geografis wilayah yang mudah dijangkau, selarasnya animo dan  kesadaran masyarakat, serta kesiapan sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan dengan segala perangkat pendukungnya.

Berbeda halnya dengan fenomena kedinamisan di wilayah pinggiran, terutama di wilayah pantura yang masih perlu perhatian khusus dari para pemangku kekuasaan. Keterbatasan fasilitas, animo dan kesadaran masyarakat yang lemah terutama yang berada di pelosok desa, serta berbagai kendala pada satuan pendidikan yang kurang profesional dalam pengelolaannya tentu juga memberikan pengaruh.

Oleh karenanya, sebagai bagian akhir dari opini ini, penulis berharap agar pemerintah di bawah pemimpin baru KH. Badrut Tamam  Rajae betul-betul memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan pendidikan di wilayah utara.  agar  terjadi keseimbangan pencapaian dengan di wilayah selatan. Komitmen *rajjeh, bajjreh, tor parjugeh* pun betul-betul dapat dirasakan oleh semua lapisan, khususnya semua  lembaga pendidikan yang ada. Pamungkasnya  adalah terciptanya generasi muda  mileneal dan Pamekasan Hebat di era BERBAUR. Semoga ...!!! (*)

*) penulis tinggal di muslimidatul@gmail.com

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment