Bencana Budaya Gambaran Hilangnya Kesaktian Pancasila


Oleh : Irwansyah Giovani Ibrahim (*)

Hari Kesaktian Pancasila adalah sebuah monumen ideologis yang dibangun rezim Orde Baru. Semasa Orde baru di kesankan bahwa Soekarno terlibat G30S dan bermaksud menggulingkan dirinya sendiri sebagai Presiden. Namun beberapa insiden tersebut kini telah di bantah sesuai pidatonya tanggal 30 september 1965. Masa Orde baru menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
   
Pada waktu itu enam jendral dan seorang Perwira yang gugur telah diangkat menjadi pahlawan (revolusi). Mereka di bunuh oleh oknum-oknum yang di gambarkan oleh pemerintahan sebagai upaya kudeta.
   
Gerakan 30S PKI merupakan peristiwa kerasnya proses perpolitikan pada saat itu. Pembunuhan massal yang terjadi memakan korban kurang lebih 500.000 jiwa. Peristiwa itu membawa perubahan besar secara serentak pada bidang politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia.
   
Ditumpasnya kekuatan anti pancasila atau pemberontakan besar terhadap negara ini,  tentu disikapi dengan pemahaman sejarah yang bersifat rasional. Pasca Orde baru, keadaan pemberontakan mulai bisa dibendung oleh militer dan masyarakat yang ada.
   
Tampa disadari sejarah kelam ini menjadi bias di era-era selanjutnya.  Peringatan 30S PKI dan kesaktian Pancasila seolah menjadi peringatan hari pelebaran wacana pertentangan Tokoh antara  Soekarno dan Soeharto, namun belum menemukan titik yang menunjukkan esensi pancasila yang sebenarnya.
   
Dendam politik antara soekarnoisme dan soehartoisme seakan-akan persoalan yang tidak bisa dibendung sampai hari ini. Sehingga munculnya model-model penjajahan baru melalui media masa dengan literasi hoaxnya untuk mengkaburkan sejarah. Semakin lama berkembang teknologi masyarakat digiring dengan opini publik yang nantinya membuat masyarakat lupa akan kebiasaan lama. Persoalan budaya atau hambatan budaya akan selalu di alami oleh masyarakat Indonesia. seperti hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan, hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi atau sudut pandang, sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru, sikap etnosentrisme dan lain sebagainya.
   
Aynan salah satu Mahasiswa IAIN Jember yang di kenal dengan ahli bahasa, penampilannya yang lugu disertai rambut gondrongnya yang menawan menjadi ciri khasnya. Menurut nya Krisis khazanah budaya menjadi awal timbulnya bencana budaya, yaitu hilangnya akar budaya luhur dalam masyarakat sehingga menyebabkan seseorang berpikir dengan meninggalkan akal sehat, tidak memiliki tenggang rasa, hilangnya semangat gotong-royong.

Selanjutnya, bencana budaya akan lebih tampak ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan berbangsa. Dalam persoalan kehidupan berbangsa, seseorang yang ditimpa bencana budaya akan frustrasi, sinis, paranoid, serta membenci keragaman pilihan. Akhirnya, suatu fenomena buruk akan dikaitkan dengan tindakan orang lain yang dinilai tidak sama dan akan memprovokasi orang lain. Pada gilirannya, bencana budaya menyebabkan seseorang tidak rasional, tidak bertanggung jawab, serta malakukan tindakan yang merusak lingkungan dan kohesi sosial.

Walaupun pada mulanya ada rasa bosan dan jenuh terhadap penataran dan slogan pancasila yang selalu di kumandangkan rezim Orde Baru, namun hal itu memunculkan kerinduan kembali pada ideologi ini. Suasana kesulitan ekonomi yang di bayangi ancaman perpecahan menyebabkan masyarakat menengok kembali kepada sesuatu yang bisa menjadi perekat bangsa. Lebih tepatnya adalah Pancasila sebagaimana terbukti dalam sejarah.

Kesaktian pancasila dapat diartikan kemampuan berbuat untuk menciptakan kesejahteraan dan kemajuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukanlah obat bagi segala macam penyakit, namun ia bisa menjadi asas dan rambu-rambu dalam menyelesaikan masalah bangsa. Sebagai ideologi dan falsafah negara, ia perlu diaplilasikan dalam kegiatan pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Kalau kita sudah sepakat pancasila dapat dijadikan alat pemersatu, mengapa masih mencari yang lain?  Karena hal itu hanya akan menimbulkan konflik baru. Lebih baik perdebatan di arahkan bagaimana mengimplementasikan masing-masing sila dalam menghadapi masalah internal dan eksternal kita sebagai bangsa dan negara sesuai dengan perkembangan zaman.



(*) Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Komisariat IAIN Jember

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment