NABU, beras Analog inovasi Mahasiswa UB lolos kompetisi pangan Dunia

Jatimaktual.com, Malang, - Indonesia merupakan negara agraris dengan jumlah populasi penduduk terbesar ke 4 dunia dan makanan pokok berupa  beras. Menurut data kementrian pertanian (2017) pada tahun 2012, konsumsi beras di Indonesia mencapai 114,6 kg/kapita/tahun. Jumlah ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, untuk memenuhi kebutuhan beras tersebut pemerintah melakukan impor beras sebanyak 1,28 juta ton pada tahun 2016 (Kementrian perdagangan, 2017). 

Disisi lain wabah kelaparan terjadi pada suku asmat di papua pada januari 2018 yang menyebabkan 100 orang meninggal. Indonesia menurut Global Hunger Index (2018) menduduki rangking 72 di dunia dan urutan ke 12 di asia untuk kondisi kelaparan dan malnutrisi. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan dalam memperoleh makanan salah satunya beras yang merupakan makanan pokok Indonesia. 

Hal tersebut yang melatarbelakangi 5 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk membuat inovasi beras analog dengan memanfaatkan bahan pangan lokal berupa sagu, jagung dan umbi porang.” Beras analog yang bernama NABUini  memiliki karakteristik fisik mirip dengan beras pada umumnya, selain itu beras ini memiliki kandungan protein yang tinggi, vitamin,  tinggi serat dan kadar glukemik index yang rendah sehingga akan menghasilkan kenyang lebih lama dan mencegah resiko diabetes. Harga beras analogini lebih murah dari pada beras analogyang ada dipasaran, “ kata Alfisah Nur Annisa selaku ketua Tim di UB. 

Menurut Alfisah, pembuatan NABU ini relatif sederhana. Tepung sagu, pati jagung dan tepung porang di campurkan dengan perbandingan tertentu hingga merata yang selanjutnya direbus, dibentuk dan dikeringkan hingga berbentuk bulir beras. Rasa yang dihasilkan dari beras analog ini tidak kalah lezat dari beras pada umumnya. Selain itu bahan yang digunakan merupakan bahan lokal yang banyak di temukan di indonesia.

Inovasi ini lolos dalam kompetisi pangan dunia The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018 yang dilangsungkan di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai India pada 23-27 Oktober Mendatang. Tim yang terdiri dari Alfisah Nur Annisa, Widya nur habiba, Annisa Aurora Kartika, Joko Tri Rubiyanto dan Bagas Teja kusuma dengan bimbingan Dr.Ir Aji Sutrisno ini mampu menyisihkan 3.000 kontestan dari 70 negara. Di India, mereka maju bersama delapan tim lainnya yakni China, Amerika Serikat, Brazil, India, Uganda, Kenya, United Kingdom, dan Perancis. IUFoST Product Development Competition 2018 yang merupakan kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk pangan dimana pada tahun ini mengangkat tema “25 Billion Meals a Day by 2025 with Healthy, Nutritious Safe, and Diverse Food.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment