THR MEMRIAHKAN BULAN SUCI RAMADHAN

OLEH: MOHAMMAD KHEVNY

Jatimaktual.com, Opini, - Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi para umat Muslim.  Sebentar lagi, hari kemenangan yang ditunggu – tunggu pun tiba. Sudah menjadi tradisi kultural di Indonesia apabila menjelang Hari Raya Idul Fitri, para pekerja mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) sehingga pekerja dapat memanjakan keluarga mereka dengan pakaian baru, perlengkapan alat  Sholat, hidangan lezat di Hari Raya atau sekedar melepas penat bersama keluarga.

Tampak jelas dapat kita saksikan, di tengah masyarakat kita masih ada budaya buka bersama, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) dalam bentuk parcel membuat kita harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Puasa yang semestinya mengajarkan kepada kita untuk berperilaku hemat, mampu memilah-memilih, malah mejadi sebaliknya, yaitu makin melambungnya pengeluaran untuk belanja.

Ramadhan, adalah bulan yang dinantikan oleh umat Islam sedunia. Sebulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Idealnya, ramadhan sebagai bulan untuk meningkatkan kualitas keimanan terhadap sang khaliq, sebagai salah satu bentuk meningkatnya spiritualitas, atau dengan bahasa lain media memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Mendekatkan diri kepadaNya saya pandang mampu meningkatkan kualitas keimanan. Selain dengan Tuhan, sebagai manusia kita juga perlu selalu membangun hubungan dengan sesama, dengan harapan mampu meningkatkan kepekaan kita dalam ber-toleransi, mampu menghargai dan bersedia menjalin silaturahmi.

Fenomena yang marak terjadi, ramadhan kerap identik dengan kenaikan harga yang disebabkan adanya peningkatan jumlah konsumsi masyarakat. Pola makan yang berubah saat berpuasa, tanpa disadari dapat membuat “kalap” manakala mempersiapkan dan menyantap makanan saat dan setelah berbuka. Kita dapat melihat dengan jelas, ada sebagian dari kita menjadikan berbuka puasa sebagai ajang balas dendam, setelah seharian penuh menahan haus dan lapar. Saya khawatir apabila hal ini yang terjadi, maka hakikat puasa sebenarnya tidak akan pernah tercapai, yaitu memahami dan mampu mengelola nafsu (amarah dan semua hal yang membatalkan puasa).

Ketika kita tengah menjalankan puasa, ada baiknya tidak “menuntut” orang lain agar menghargai orang yang sedang berpuasa dengan cara-cara yang tidak bijaksana. Saya memiliki keyakinan bahwa ketika kita sudah memiliki niat dan tekad yang kuat untuk berpuasa, godaan dalam bentuk apapun dapat kita lewati. Oleh karenanya semangat dan ikhlas menjalani puasa saya pandang sebagai salah satu kuncinya.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment