Revitalusasi Pemahaman Aswaja di PMII, PK PMII RBA Gelar Pondok Aswaja

JATIMAKTUAL, BONDOWOSO,- Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Raden Bagus Asra (PK PMII RBA) STAI At-Taqwa Bondowoso mengadakan Pondok Aswaja bertempat di pondok pesantren Darul Fikri, Jatisari, kecamatan Wringin, Bondowoso. (01/06/2018)

Acara tersebut diikuti oleh seluruh kader dan anggota PMII STAI At-Taqwa Bondowoso yang terdiiri dari pengurus rayon Averroes (PAI), Avicenna (MPI), serta para anggota PMII lainnya.

Dengan tema "Revitalisasi nilai Ahlusunnah Waljamaah sebagai paham yang Tasamuh, Tawasut, Tawazun dan Ta'adul" diharapkan mampu memberikan pemahaman mengenai Aswaja tak secara tekstual saja, tapi secara kontekstual dan substansial.

Abduh selaku ketua komisariat PMII STAI At-Taqwa menyampaikan bahwa, acara tersebut dilaksanakan dalam rangka menguatkan nilai-nilai Ahlusunnah wal jama'ah di internal PMII serta upaya menfilter faham-faham radikalisme yang saat ini mulai menggerogoti bangsa Indonesia.

"Acara ini kami laksanakan untuk menguatkan nilai-nilai Ahlusunnah Wal Jama'ah yang lebih mendalam lagi serta menguatkan pemahaman kepada kader-kader PMII untuk memfilter faham-faham radikalisme yang menggerogoti bangsa ini." Ujar Abduh

Acara tersebut juga dilaksanakan bertepatan dengan hari lahir pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia. Abduh mengingatkan bahwa, PMII basis intelektual seharusnya tidak sekedar lahir dari ruang-ruang akademis, namun juga harus menanamkan nilai keaswajaan dan nasionalisme. 

"Sebagai mahasiswa, PMII harus menumbuhkan keberaniannya untuk memberi kritik membangun kepada para pemerintah dan para pemimpin dengan menyodorkan kebijakan-kebijakan yang membungkam para pemuda saat ini. Salah satu contoh, kata Abduh, mahasiswa saat ini dibungkam oleh para pemerintah dengan disodorkan dengan sistem kredit semester (SKS) yang begitu tinggi. Sehingga para mahasiswa terlalu sibuk dengan urusan nilai-nilai kampus. Lenyaplah waktu untuk memikirkan disekitarnya. Jika demikian terus terjadi maka tak usah heran jika mahasiswa hanya tinggal namanya saja. (Agen perubahan, sosial, dan kontrol). Tambah Abduh.

Sementara Muhammad Afifi selaku perwakilan Majelis Pembina komisariat (MABINKOM) menyampaikan bahwa, ada persoalan yang cukup serius di tubuh PMII saat ini. 

"Pondok aswaja ini harus melahirkan kesadaran dan paradigma baru ditubuh PMII. Peraoalan paling mendasar misal, tata cara menulis arab, belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu, dan sorrof. Sebab Al-Qur'an, hadist, serta karya-karya ulama pendahulu tak bisa dipahami kecuali dengan ilmu-ilmu itu.

Lebih penting daripada itu, kata Afif, Aswaja jangan hanya dipahami dalam konteks tasamuh, tawasut, tawazun, dan ta'adul saja. Tapi harus mampu mengkolaborsikan nilai-nilainya dengan dalil dan tafsir yang relefan dengan perkembangan zaman.

"Saat ini, mental keaswajaan PMII harus dikuatkan lagi, harus pintar dalam berbagai bidang. dan semuanya adalah merupakan tugas pengurus untuk mengajari para anggotanya". Tutup Afif yang saat ini juga bergerak aktif di GUSDURian Bondowoso.

Gus Hasan selaku dewan pengasuh pondok pesantren Darul Fikri mengucapkan apresiasi yang luar biasa.

"Saya berterimakasih dan sangat mengapresiasi. Ini merupakan kegiatan yang sangat baik untuk terus diselenggarakan. Sebab dengan kegiatan semacam ini kita dituntut untuk terus menanamkan dan menjaga nilai-nilai yang ditinggalkan para ulama pendahulu". Papar Gus Hasan.

Perlu diketahui, kegiatan akan dilaksanakan selama tiga hari (1-3/05/2018) dengan materi sebagai berikut: Pancasila dan ideologi politik indonesia (Mustawiyanto), Aswaja (KH. Anwar Syafi'i), Fiqih sosial (Hamdun), KeNUan dan islam nusantara (Dr. H. Syaeful Bahar), Nuzulul qur'an (Dr. Dadang Mustajab)

Acara ditutup dengan doa bersama dan dipimpin oleh sahabat Sofyan Humaidi.

Penulis      : Putri Desta
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

1 comments:

Firman Syah said...

MantapPMII

Post a Comment