PANCASILA DAN DETOKSIFIKASI TERORISME


Oleh : Moh. Wasik

(Presiden Mahasiswa BEM I IAIN Jember & Koordinator Keilmuan PMII Komisariat IAIN Jember)

_Pancasila bukan agama, tidak betentangan dengan agama dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama._*(Gus Dur)*

_Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya._ *(K.H.R. As'ad Syamsul Arifin)*

_Pancasila lebih agung dari declaration of independence._ *(Mahbub Junaidi)*

Indonesia adalah tanah sorga sehingga diungkapkan sebagai negara _“gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo“_ ungkapan tersebut benar-benar fakta dan tidak bisa tolak. Tahun 1960 Indonesia kedatangan tamu dari luar negeri. Tamu tersebut adalah Prof. Mahmut Saltut, seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Rektor Al Azhar Mesir ini melihat keindahan alam Indonesia, gunung biru berselendang awan,  hamparan dedaunan hijau diatasnya burung-burung menyanyikan keagungan Tuhan, riak gelombang air laut kejer-mengejar ke tepi-tepi pantai.  Melihat keindahan Indonesia ini,  Prof. Mahmud Saltut mengungkapkan sebuah kalimat Indah.  Belaiu katakan "Indonesia adalah serpihan potongan sorga yang diturunkan oleh Allah di bumi."

Indonesia adalah negera yang memiliki keanekaragaman terbesar di dunia,  bangsa yang majemuk: suku,  kebudayaan,  ras,  bahasa daerah dan agama. Akan tetapi,  kebinekaan dan keberagaman ini kini terancam oleh setidaknya terdapat dua kekuatan global yakni liberalisme-kapitalisme dan fundamentalisme agama (gerakan-gerakan radikalisme agama). Ruh dan semangat keindonesiaan dengan keramahan dan harmoninya mulai tercerabut dari akar rumput kebinekaan. Salah satu ancaman yang nyata akhir-akhir ini ancama dan aksi terorisme.

Fenomena untuk saat ini menunjukkan Indonesia belum bebas dari racun terorisme. Keberadaan kelompok maupuh individu dengan ideologi radikal prioritasnya yang berafiliasi dengan kelompok radikal jaringan international cukup mengganggu dan menjadi hantu yang menakutkan. Tahun 2016 Indonesia menjadi korban aksi teror seperti yang terjadi di Thamrin, Surakarta, Tangerang, Medan dan Samarinda. Indonesia juga berhasil melakukan penangkapan sebagai pencegahan aksi teror yang disertai dengan barang bukti seperti di Bekasi, Majalengka, Tangerang Selatan, Batam, Ngawi, Solo, Purworejo, Payakumbuh, Deli Serdang, Purwakarta dan penangkapan di tempat lain oleh Densus 88. Aksi-aksi teror yang terjadi diberbagai tempat di Indonesia ini tentu sangat mengejutkan dan membuat kita iba.  Negara yang menjadi contoh dari negara-negara lain saat ini harus secara optimal harus menetralkan racun terorisme yang menggerogoti bangsa ini. 

Ironis dan menesteskan air mata duka, jika kita mengingat-ingat sajian dari berbagai data seputar terorisme baik yang mendukung ajarannya,  membenarkan aksi-terornya. Seperti yang tercatat dalam survei _The Pew Research Center_ pada 2015 lalu, mengungkapkan di Indonesia, sekitar 4 % atau sekitar 10 juta orang warga Indonesia mendukung ISIS-sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak muda. Tahun berikutnya 2016, Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis 25% siswa dan 21% guru menyatakan pancasila tidak relevan.  Berdasarkan survey yang dilakukan Wahid Foundation pada Agustus 2016, dari 150 juta muslim Indonesia yang di survey, 7,7 persen atau 11,5 juta orang berpotensi melakukan tindakan radikal. 600 ribu diantaranya pernah terlihat dalam tindakan radikal. Tahun 2017 bulan April Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga melaporkan hasil survei terkait radikalisme. Menurut data BNPT, sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia yang menjadi responden terindikasi tertarik kepada paham radikal. Hasil survei tersebut menguatkan dugaan bahwa generasi muda adalah target penyebaran radikalisme dan kampus rentan menjadi tempat penyebarannya.

Masih melekat dala memori ingatan kita,  dua minggu bulan mei yang lalu. Pihak kepolisian berjibaku dengan narapidana teroris di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob pada 8-10 Mei, Jawa Timur tepatnya di ibu kota Surabaya mengelus-elus dada duka akibat bom bunuh diri bertubi-tubi di tiga gereja, ledakan bom di Sidoarjo, serta bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya (13-14 Mei 2018). Implikasi dari rentetan peristiwa di Surabaya dan Sidoarjo, setidaknya 28 jiwa terenggut, dan puluhan lainnya luka-luka. Terorisme, seperti yang terjadi di Surabaya, umumnya dilihat sebagai sesuatu yang lekat dengan ajaran agama akibat pemahaman tertentu atas ajaran agama Islam. Namun, jika kita merujuk data Global Terrorism Database atau GTD (dataset) dari 1977-2016 dan pemetaan kasus terorisme oleh Esri Story Maps pada 2017-2018, aksi teror atas nama agama bukanlah satu-satunya kategori terorisme.

Profesor Elina Vuola, Guru Besar Fakultas Teologi di University of Helsinki. Ia menyatakan bahwa kurangnya pemahaman terhadap dasar agama mendorong rentannya propaganda dan radikalisasi. Baginya, faktor primer yang menyebabkan radikalisasi adalah pemahaman agama yang tidak benar. Sementara itu, kemiskinan dan pendidikan menjadi faktor sekunder yang melatarbelakangi hal ini. Jika dilihat dari skala makro gerakan yang sama sekali tidak berprikemanusiaan ini merupakan rekayasa global dengan orientasi menghancurkan dunia islam. Gerakan terorisme ini sebagaimana yang di sampai oleh Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin. Din mengatakan, bahwa kelompok teror Internasional Al-Qaeda dan ISIS merupakan ciptaan Amerika. Pengakuan Hillary Diane Rodham Clinton adalah senator junior Amerika Serikat adalah pengakuan yang tidak bisa ditolak. Dalam buku Judul: Devil’s Game Orchestra Iblis: 60 Tahun Perselingkuhan AS-Religious Extremist karya Robert Dreyfuss,  menyebutkan terdapat satu episode penting yang tidak terekam, yaitu cerita tentang Amerika Serikat yang mendanai dan mendorong aktivitas fundamentalisme Islam (ektrem kanan) yang dilakukan secara terbuka dan vulgar maupun secara secret operation.

Aksi-aksi terorisme Di Indonesia menurut jenderal kapolri Tito karnavian, juga tidak lepas dari jaringan teroris internasional, termasuk ISIS dan Al-Qaeda. Implikatif buruk dari terorisme di dalam bangsa ini cenderung sangat banyak, kejahatannya extra ordinary crime ini akan mengancam nasionalisme, rasa was-was akan adanya kejahatan terorisme, rasa saling tidak percaya antar umat beragama, pengaruh negatif psikologis bagi para anak muda Indonesia dan konsekuensi negatif lainnya. Semua pengaruh negatif tersebut secara langsung mengganggu stabilitas tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ditambah gerakan kelompok-kelompok yang ingin mengganti ideologi bangsa (baca: pancasila) menjadi ideologi yang berlandaskan Islam (khilafah) yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Ditengah kegamangan derunya arus ideologisasi radikalisme-terorisme ini,  pancasila sebagai landasan bersama (cammaon platform) dan acauan bersama (cammon denominator) dalam bahasa al qur'an sebagai kalimatun sawa' atau kalimat tunggal pemersatu harus senantiasa digalakkan melalui gerakan diversifikasi internalisasi dan implementasi setiap silanya.  Pancasila harus menjadi obat penawar dari racun terorisme dan ancaman lainnya yang mengindikasikan mengancam diversitas berbangsa dan bernegara.  Aktualisasi nilai-nilai pancasila ke dalam sistem dan budaya bernegara. Pancasila harus menjadi ruh dan nafas dalam sendi berbangsa dan harus menjadi karakter bernegara. Sistem pendidikan Indonesia yang berkarakter pancasila, sistem hukum dan penegakannya yang berkarakter pancasila,  keadilan ekonomi yang berkarakter pancasila,  sosial-budaya kemasyarakatan yang berkarakter pancasila, media yang berkarakter pancasila apapun agenda nasional pancasila harus menjadi miniaturnya.

Sebagai langkah praksis penghayatan nilai-nilai pancasila perlu kesadaran bersama dan saling menyadari, bahwa pancasila tidak hanya diperingati satu hari selama satu tahun. Membuat kata bijak, puisi,  ucapan selamat,  dan sambil memajang foto burung garuda di media masa dan cetak "saya Indonesia, saya pancasila". Apalah artinya memajang foto garuda pancasila, tapi tidak paham sama sekali makna dan pesan hari pancasila? Mestinya ucapan selamat dan foto garuda tersebut tidak hanya dipajang di media dan itupun hanya satu hari, akan tetapi wajib dipajang di dalam hati dan di setiap dada bangsa Indonesia. Inilah yang soekarno menyebut apinya sejarah bukan abunya sejarah.

Bersemayamnya kurang percara diri dalam diri bangsa Indonesia masih menjadi persoalan yang perlu dientaskan.  Kurang yakin bahkan sudah tidak percaya pada kemandirian suatu bangsa dan muatan ideologisnya masih menggerogoti rakyat  Indonesia. Adanya kelompok atau individu yang mau merubah dengan ideologi arab atau amerika dan lainya. pikirannya seakan-akan tidak ada yang lebih baik dari aran dan Amerika.  Padahal pancasila sudah menjadi penelitian menarik dari berbagai negara khususnya yang masih dilanda konflik internalnya. Ini senada dengan perkataan bung karno 'Sudah terbukti bahwa pancasila yang saya gali dan saya persembahkan untuk rakyat Indonesia,  bawah pancasila itu adalah baner-benar suatu dasar yang dinamis, suatu dasar yang benar-benar dapat menghimpun segala tanaga rakyat Indonesia.'

Subuah promosi femomenal yang sangat relevan dan realistis mengundang perhatian apresiatif dari bung karno pernah disampaikan oleh seorang jurnalis,  penulis dan aktivis pergerakan yang dikenal julukan si pendekar pena, Mahbub Junaidi
'Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence'. Padahal _Declaration of Independence_ atau deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat, merupakan suatu momentum penting dalam sejarah dunia Internasional. Setelah sekian lama berada dalam kawasan koloni Inggris, pada 4 Juli 1776, Amerika Serikat mengumumkan kemerdekaannya. Tetapi pancasila lebih Agung baik muatan filosofis dan praksisnya yang dapat menyatukan bangsa Indonesia.

Seperti yang saya jelasakan pada pragraf sebelumnya negara ini multi agama ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan konghucu. Oleh kerna itu,  yang dinaikkan jangan teks salah satu agama tetapi nilai universalitas dari seluruh agama dikemas dalam ideologi negara Republik Indonesia sehingga muncul sila pertama pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Indonesia bukan negara agama tetapi negara beragama, pada tataran ideologi dan praksis setiap agama pasti memiliki perbedaan. Tapi dapat dipastikan setiap agama memiliki cita-cita sosial yang universal seperti kesejahteraan,  kerukunan, gotong royong,  kemananan, kasih sayang,  keadilan  dan lainya , inilah yang terkandung dalam falsafah pancasila.

Dari sila pertama inilah agama memancarkan nilai-nilai kemanusiaan, menerjemahkan teks agama kebumi realitas manusia: tidak mengeksploitasi orang lain,  jangankan sampai menghabiskan nyawa orang seperti melakukan aksi-aksi teror terhadap yang perbeda dengan paham kita,  mencaci-maki,  menjelekkan,  mengunjingnya, dan membicarakan kejelekannya saja tidak dibenarkan.  Karena didalam diri manusia yang lain juga termanifestaskan tuhan, bahwa manusia apapun agamanya adalah sama-sama ciptaan tuhan yang harus dihargai keberadaannya. Inilah nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam sila ke dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab,  nilai-nilai kemanusiaan tersebut harus dilaksanakan dengan keadilan dan beradab (beretika,  berbahasa baik dan berprilaku santun).

Dengan saling memahami sisi kemanusiaan antar suku,  agama,  bahasa,  ras akan tercipta suatu kesatuan nasional yang kuat dan kokoh dalam satu kalimat didada burung pancasila persatuan Indonesia. Persatuan nasional ini jauh lebih penting dan bermakna dibandingkan dengan kepentingan kelompok yang hendak menghancurkan NKRI. Meski pada ruang-ruang tertentu kita berbeda tapi persatuan inilah yang menyatukannya,  dalam pandangan KH Ahmad Siddiq Jember kita dipersatukan oleh persaudaraan karena sesama agama,  persaudaraan karena sesama warga Indonesia dan disatukan oleh persaudaraan karena kita sesama manusia.

Sila selanjutnya kita lihat kerakyatan bukan keelitan, konglomerat, borjuis, penguasa,  pejabat.  Sesuatu yang berkaitan dengan rakyat baik hukum, politik, ekonomi, pendidikan, budaya harus dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dilalui dengan sesuatu yang arif dalam suatu perwakilan.  Untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagian seluruh Indonesia,  Keadilan sosial Ini komprehensif. Karena sosial itu meliputi pendidikan, hukum, perlindungan, ekonomi, luas segala macam untuk seluruh rakyat Indonesia,  bukan segelintir orang.  Sehingga menolak  anomali yang mengangga terorisme terjadi karena ada kesenjanga sosial. Disinilah Salah satu aspek penting dalam rangka mengamalkan nilai-nilai pancasila adalah proses pembudayaan,  pemasyarakatan, dan pendidikan pancasila (pancasila socialization and pancasila education). Tanpa didukung oleh kesadaran, pengetahuan dan pemahaman oleh masyarakat, nonsens  nilai-nilai luhur pancasila sebagi falsafah hidup da­pat diharapkan tegak dan ditaati. Karena itu, agenda pem­bu­dayaan, pemasyarakatan dan pendidikan pancasila ini perlu dikembangkan tersendiri dalam rangka perwujudan ide nega­­ra dengan ideologi pancasila di masa depan.
KHR. As'ad Syamsul Arifin seorang ulama yang mendapatkan gelar pahlawan nasional mengungkapkan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya.

Jika ditengah masyarakat masih memiliki persepsi dan anomali pancasila tidak bisa menjadi solusi ditengah percaturan  berbagai persoalan bangsa.  Bukan nilai-nilai pancasila yang salah dan harus di rubah tapi pengamalan pancasilanya yang belum sempurna. Ibarat rumah jika gentingnya yang bocor bukan berarti menggantikan pondasi rumah yang masih kokoh.  Dalam pandangan lawrence friedman hukum akan berjalan baik, jika substansi hukum,  penegak hukum dan budaya hukum berjalan secara sinergis.  Begitupun dengan pancasila,  pancasila harus diterapkan dan menjadi karakter anak bangsa dan perlunya pemahaman serta budaya nilai-nilai filosofis  pancasila karena isi dari pancasila sudah tidak bisa diragukan lagi karena Pancasila memuat nilai-nilai esensi dari agama dan nilai-nilai nasionalisme.  Haddaratus syekh KH Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) mengungkapkan kalimat revolusioner Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari dari agama dan kedudukannya saling menguatkan. Disinilah pancasila harus menjadi penawar dan menetralkan racun terorisme, yang saya sebut dengan istilah ilmiah detoksifikasi.


_Wallahu a'lam bish shawab_

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment