KYAI DAN PESANTREN SEBAGAI MODAL KEMENANGAN PARTAI POLITIK


Oleh: Alfan Khairul Ichwan

Kyai dan pesantren merupakan dua kata yang sudah tidak asing lagi di dengar oleh  masyarkat Indonesia.  Kyai adalah sebutan bagi alim ulama’ islam yang merujuk kepada sosok figur tertentu yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai dalam ilmu-ilmu agama islam yang sudah tidak di ragukan lagi. Sedangkan kata Pesantren ialah tempat berkumpulnya seseorang yang sedang mendalami ilmu agama terhadap kyai. Mereka biasanya di ajarkan kitab-kitab islam klasik atau dalam bahasa tradisionalnya sering di sebut dengan istilah kitab kuning 

Namun dalam perkembangnnya sebutan Kyai juga di berikan kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan atau keahlian di bidang ilmu agama islam, ataupun tokoh masyarkat walaupun tidak memimpin atau memiliki serta memberikan pelajaran di pondok pesantren. Karena kedudukan seorang Kyai bisa di maknai ganda : yaitu sebagai pemegang pesantren dan juga memiliki peran untuk menawarkan kepada masyarakat sebagai agen perubahan sosial, melakukan  perdampingan ekonomi maupun perdampingan terhadap perkembangan prilaku di masyarkat.

Dalam realitasnya Kyai memiliki hubungan yang cukup penting dalam masyarkat karena melihat kapasitas seorang Kyai yang cukup mampuni dalam melakukan perubahan sosial dan juga sosok kyai di anggap mempunyai ilmu keagaman yang cukup sehingga Kyai menjadi panutan dalam masyarakat, Kyai dalam masyarkat merupakan pelindung karena masyarkat menganggap Kyai adalah orang yang paling disegani sehingga masyarakat ketika mempunyai persoalan baik persoalan keagamaan dan bidang-bidang yang lain Kyai menjadi plopor untuk menyelesaikannya. (Hendro Tri Subiyantoro:2013 :63-73)

Kedudukan Kyai bukan hanya sebagai pembimbing masyarakat namun juga sebagai pendidik di tengah masyarakat karena hampir semua Kyai di Indonesia memiliki pondok pesantren nah dari situlah seorang Kyai dapat metransformasikan ilmunya bukan hanya dalam bentuk pengaajian dan nasehat-nasehat bagi santri untuk di terapkan di masyarakat.

Dan masih banyak lagi alasan yang melandasi status sosial Kyai yang menjadi terhormat kalau dalam pegangan masyarakat umum sosok Kyai adalah Syarhul Hikam bagi mereka
“La tashab ma la yunhidluka ilallaah haaluhu wa layadulluka ilallaahi maqaaluhu”
Artinya: Jangan kau temani atau kau jadikan guru orang yang prilakunya tidak membangkitkan kamu kepada tuhan dan kata-katanya tidak menunjukan kamu kepada tuhan.

Dan mereka meyakini bahwa orang yang membangkitkan dirinya kepada tuhan secara tidak langsung dan tidak lain ialah Kyai atau Ulama’ sebagaimna hadist nabi “Al-Ulama Warasatul anbiya” ulama adalah pewaris nabi walaupun pada zaman sekarang ada sosok ulama politik.

Maka dari itu Kyai dan tokoh pesantren sering kali menjadi lahan sasaran para politisi akhir-akhir ini terutama dalam membangun basis dukungan politik pada setiap pemilihan umum maka suara Kyai dan pesantrennya selalu menjadi rebutan bukan saja oleh partai-partai politik yang berbasis islam namaun juga partai-partai politik yang berbasis nasionalis. Dalam upaya meraup simpati dari kalangan islam yang menjadi pengikut setia Kyai dan banyak pula partai politik yang menempatkan kyai di jajaran pengurus partai dengan harapan dapat mendogkrak integritas dari partai tersebut pada saat pemilu.

Setidaknya ada tiga alasan kenapa Kiai sebagai pemuka agama terlibat dalam persoalan politik :
Bisa ditelusuri dari sumber ajaran agama islam sendiri, yang memiliki lingkup tidak hanya pada aspek ritual dan bimbingan moral, tetapi juga pada nilai-nilai di semua sisi kehidupan. Hal ini bisa di artikan bahwa kiai mempunyai posisi yang sangat strategis untuk mempengaruhi terhadap masyarakat khususnya terhadap masyarakat-masyarkat awam.

Keterlibatan Kiai dan santri di pesantren zaman dahulu bukan hanya di lihat pada masa perlawanan dalam mengusir para penjajah melainkan kiai banyak memberikan dukungan moral, ekonomi maupun politik. Akibatnya dalam sejarah perjuangan bangsa, kiai dapat dipahami sebagai pusat kekuatan sosial politik yang prannya tidak bisa diabaikan dalam sejarah republik ini sebagai pahlawan.

Posisi Kiai sebagai elite agama yang memiliki pengikut (jamaah) dan pengaruh yang kadangkala begitu luas di tengah-tengah masyarakat, menjadikan mereka terlibat dalam persoalan pengambilan keputusan bersama, kepemimpinan, penyelesaian problem-problem sosial, dan lain sebagianya hal inilah yang dapat memperkokoh seorang Kiai di kalangan masyarakat. (Ma’arif, 1988 : 21-25: Steenbrink, 1984 : 32-45).


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment