TRADISI KOSARAN MENJELANG HARI RAYA IDUL FITRI MENURUT KACA MATA ISLAM

Oleh: AHMAD ROFIQ
(Mahasiswa PBA IAIN Madura)

Jatimaktual.com, Opini,- Pada akhir-akhir bulan Ramadan, mendekati hari Raya Idul Fitri, Warga Madura khusunya Pamekasan mepunyai tradisi yang unik, yaitu taridisi Kosaran. Tradisi Kosaran  adalah tradisi mendatangi kuburan pada saat menjelang hari raya Idul Fitri baik tempat pemakaman umum maupun keluarga, para warga melakukan kosaran (membersihkan) kuburan dari rumput liar dan dedaunan yang mengotori sekitar makam. Tradisi ini merupakan tradisi yang turun temurun dari nenek moyang warga madura selama ratusan tahun.

Namun, bagaiman ajaran Islam menyikapi tradisi tersebut? dan juga dengan membersihkan rerumputan di sekitar area makam. Apakah tradisi itu dibenarkan?. Sebelum membahas tentang hukum tradisinya, berikut ini makna tradisi dalam Islam.

Imam al Jurjany memberikan devinisi tradisi dengan suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau mengulanginya.(al-Ta’rifat). Imam Al-Suyuthi mendefinisikan dengan ibarat:
ما اعتاد النّاس وساروا عليه في أُمور حياتهم ومعاملاتهم من قول أو فعل أو ترك

“Apa yang menjadi kebiasaan manusia dan mereka melewati kehidupan dan muamalat mereka dengan hal itu, baik berupa perkataan, perbuatan atau hal yang ditinggalkan” (Imam as Suyuti, al Ashbah wa al Nadzair, hal 64).

Meskipun Islam datang dengan seperangkat aturan yang telah lengkap, namun demikian Islam tidak serta merta mengabaikan tradisi yang ada di masyarakat. Dalam ilmu Ushul Fiqh, tradisi menjadi salah satu patokan dalam penentuan hukum Islam hingga akhirnya lahirlah kaidah العاد ةمحكمة   (adat istiadat itu mempunyai nilai hukum). Karena itulah melanggar tradisi masyarakat dianggap hal yang tidak terpuji selama tradisi tersebut tidak diharamkan oleh agama. Dan tradisi di atas sudah jelas tidak melanggar ajaran islam. 

Meskipun demikian mungkinkan dalam melakukan kosaran (membersihkan) kuburan tersebut ada nilai ibadah yang sah menurut ajaran islam?
Secara substansial membersihkan kuburan tersbut sama sekali tidak mengandung nilai ibadah yang dianjurkan oleh syariat islam. Adapun tentang membersihkan atau merapikan rerumputan yang tumbuh secara berlebihan, atau menghilangkan rerumputan yang sudah mati yang ada di areal makam atau dalam tradisi Jawa disebut Nyadran, adalah sesuatu yang sudah diketahui kebaikan atau kemaslahatannya. Hal itu sesuai dengan keindahan yang disukai Allah dan rasul-Nya, dan bagian dari pengamalan hadits “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. 

Namun ada satu riwayat dalam kitab I’anah at Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyathi yang mengatakan:
ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار

Dalam redaksi kitab di atas, Imam Abu Bakar Muhammad Syatha ad Dimyathi mempunyai pendapat bahwa tidak boleh mencabut rumput yang masih segar. Namun, kalau hanya merapikan masih boleh misalkan  rumputnya terlalu rimbun atau sudah mati. Karena tumbuh-tumbuhan tersebutlah yang mendoakan si mayit.

Jadi sebaiknya, dalam melaksanakan bersih-bersih di kuburan Rapikan saja rumput-rumput itu dengan gunting, arit, atau benda tajam lainnya. Yang masih segar biarkan, karena yang penting adalah merapikan, karena kebersihan dan kerapian adalah sebuah bentuk kemaslahatan. Pun juga sebagai warga yang berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunah Wal Jamaah sebaiknya warga lebih semangat untuk mendoakan mereka yang sudah ada di dalam kuburan, Oleh karena itu, tradisi ini baik untuk dilakukan kapan saja dan juga boleh dilakukan pada akhir Ramadhan sebelum menjelang hari raya idul fitri seperti tradisi yang berkembang di masyarakat Madura.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment