Paradigma Teks Tuhan terhadap Perempuan


Oleh : Cholis Rosyidatul Husnah

Keberhasilan laki-laki, dapat di pastikan ada perempuan hebat dibaliknya.
Begitupun sebaliknya.

Adagium tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa, sejatinya laki -laki dan perempuan saling melengkapi. Bukan menyaingi, bukan pula adu tinggi. Namun, adanya perempuan melengkapi terhadap laki-laki dan adanya laki-laki melengkapi terhadap perempuan.

Ide, gagasan maupun konsep terkait kesetaraan manusia seharusnya telah mendapatkan elaborasi luas terkait laki2 dan perempuan. Hal ini masih perlu di perbincangkan secara lanjut, dikarenakan masih terdapat kenyataan sosial dan kebudayaan bahwa posisi perempuan tidak sama dengan laki-laki. Maksudnya, perempuan itu masih dalam titik posisi subordinat, diskriminasi dan marginal.

Posisi tersebut terhadap perempuan akan berakibat terhadap kekerasan dan penindasan. Bahwa perempuan dianggap lemah, tidak memiliki kekuatan sehingganya patut untuk d tindas. Pemikiran tersebut dalam masyarakat dilatar belakangi oleh keyakinan dan legitimasi terhadap perempuan atas nama agama. Namun, hal tersebut tidak dibenarkan dalam ajaran islam karena bertentangan dengan prinsip keadilan, dan kesetaraan manusia sebagaimana termaktub dalam teks suci tuhan.

Idealitas islam terhadap hak perempuan dan laki-laki secara gamblang termaktub didalam sumber otoritatif islam yakni QS At-Taubah, ayat 71. Dari situ bahwa terhadap hak sebagai manusia Perempuan sejatinya setara dengan laki-laki. Tidak ada perbedaan hanya karena jenis kelamin.

Namun, paradigma konservatisme terhadap hubungan subordinat yakni diskriminatif terhadap perempuan juga mendapat rujukan yang jelas dari sumber otoritatif islam tersebut. Dalam QS An Nisa, 34 disebutkan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin perempuan, dan Allah telah melebihkan mereka laki-laki atas sebagian yang lain yakni perempuan. Superioritas laki-laki atas perempuan secar, eksplisit terdapat dalam ayat tersebut.

Demikian, seakan-akan teks tuhan kontradiksi dengn teks tuhan dan hal ini tidak dibenarkan. Karena hal itu berarti kebohongan Tuhan. Oleh karena itu, kita harus bisa memahami teks tuhan secara benar yang sehingga nya tidak menemukan suatu kontradiksi didalamnya. Yang perlu dilakukan adalah pwmbacaan ulang dan terkait konteks budaya dimana dab ketika apa ayat alquran tersebut di turunkan.

Al-Quran dalam hal ini diturunkan pada saat kondisi sosial budaya bersifat misoginis (membenci perempuan). Hal ini teks tuhan berusaha melakukan transformasi kultural secara Arif dan realistik. Dan al hasil, keberhasilan dilihat dari struktur sosial dan budaya saat itu dan ditempat itu. Upaya teks tuhan dilakukan secara gradual, evolutif. Tidak hanya relasi laki-laki dan perempuan, tapi pola umum alquran. Disisi lain, gagasan kesetaraan manusia pada saat itu, tdak dapat direalisasikan melalui konfrontatif dan frontal, karena dipastikan berhadapan dengan tradisi dan kultur yang mapan dan berlangsung lama, bahkan menjadi agama

Aspek lain metodologi teks tuhan adalah afirmasi norma hukum dengan aspek logika rasional. Maksudnya untuk memberikan peluang luas bagi upaya perluasan makna dan transformasi lebih lanjut, sejalan dengan perubahan sosial dan kultur yang menyertainya. Logika hukum adalah aspek utama yang melahirkan pernyataan hukum. Dari sini, logika hukum dapat diandalkan untuk sebuah perubahan hukum terkait tempat dan waktu hukum tersebut di berlakukan.

Oleh karena itu, teks suci tuhan yang seakan akan bermakna diskriminatif jangan ditafsirkan secara skriptualistik dan statis saja. Namun tafsirkan dengan paradigma nuansa sejarah dan logika perkembangan sosial saat ini.

Sayangnya, paradigma tersebut banyak tidak mendapat apresiasi cukup baik dari pikiran konservatifme. Mereka masih mempertahankan teks bersifat aplikatif dan partulatif yang difahami, diberlakukan menurut makna literal saja. Al hasil membuat seakan akan teks tuhan kontradiksi dan banyak hal pemaknaan konservatif yang sudah tidak relevan dengan kondisi masyarakat dan teralienasi dari realitas kehidupan masa kini

Wallahu a'lam.

(Penulis adalah mahasiswa aktif Al-Ahwal Al-Suakhsiyyah Fakultas Syariah IAIN Jember, Kader Putri PMII Rayon Syariah IAIN Jember dan Alumni MA Unggulan Nuris Jember)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment